Dedi Mulyadi Menangis, Kegagalan Jadi Gubernur Soroti TPPO dan Masalah Sosial Jabar

1434699574
1434699574

Gubernur Jabar Emosional Akibat Banyaknya Kasus TPPO

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan perasaan sedih dan kecewa yang mendalam terhadap banyaknya kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menimpa warga Jawa Barat. Ia bahkan sempat menangis saat membahas isu ini dalam acara Safari Ramadhan dan Tarling di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, pada malam hari Sabtu (28/2/2026). Dedi mengatakan bahwa ia merasa gagal sebagai seorang pemimpin karena tidak mampu melindungi rakyatnya dari ancaman-ancaman seperti ini.

Menangis Karena Kesedihan dan Rasa Bersalah

Dedi Mulyadi mengaku sangat sedih hingga air mata terus mengalir. Ia menyebutkan bahwa sosok-sosok yang dilihatnya di media sosial terlihat begitu percaya diri dan penuh keyakinan tanpa rasa takut. Namun, ia merasa tidak sebanding dengan mereka. Hal ini membuatnya merasa bersalah sebagai seorang pemimpin.

“Saya merasa jadi pemimpin, kok aku ini gak ada apa-apanya dibanding dia, saya nangis dari tadi, gak ke mana-mana hanya mengurung diri,” ujar Dedi Mulyadi. Ia juga menyampaikan bahwa ia merasa kufur nikmat karena masih memiliki kehidupan yang cukup nyaman, sementara rakyatnya mengalami kesengsaraan.

Mengkritik Kinerja Pemimpin

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa jika warga sampai menjual diri karena lapar, itu adalah kesalahan pemimpinnya yang terlalu banyak menggunakan uang negara bukan untuk kepentingan rakyat. Ia menilai bahwa kebijakan yang diambil selama ini belum cukup memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat.

Ia juga menyoroti bahwa masalah TPPO bukan hanya kesalahan para korban, tetapi juga tanggung jawab pemimpin. Dedi menekankan bahwa pemimpin harus lebih peduli kepada rakyatnya dan memberikan perlindungan serta keadilan.

Menyanyikan Lagu Kerinduan pada Rasulullah

Dalam acara tersebut, Dedi Mulyadi juga menyanyikan lagu tentang kerinduannya pada Rasulullah SAW. Saat menyanyikan lagu tersebut, ia tampak menangis dan sesekali menyeka air matanya. Ini menunjukkan betapa dalamnya perasaan emosional yang ia alami.

Memperkuat Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Selain itu, Dedi Mulyadi juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Ia menekankan bahwa infrastruktur yang baik tidak akan berarti jika moralitas anak-anak tidak dididik dengan baik oleh orang tua. Dedi menyarankan agar orang tua tidak mudah membela anak yang berbuat salah, terutama di sekolah atau saat berkelahi.

Menurutnya, lebih baik anak menangis karena tidak dibelikan barang mewah daripada orang tua menderita utang demi gaya hidup anak. Ia menekankan bahwa pendidikan dan masa depan anak adalah prioritas utama yang patut diperjuangkan, bahkan jika harus berutang sekalipun.

Menjadi Contoh dengan Berpuasa

Dedi Mulyadi juga mengajak ibu-ibu untuk rajin berpuasa dan berdoa demi kesuksesan anak-anak. Ia menceritakan kisah ibunya yang buta huruf namun mampu membesarkan sembilan anak hingga sukses dengan gaji pensiun yang kecil karena kerelaannya untuk lapar demi anak-anaknya.

Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi menerapkan prinsip bahwa pemimpin pun harus mau “puasa” dan mengurangi biaya hidup serta perjalanan dinas agar anggarannya bisa dialihkan untuk kepentingan rakyat, seperti membangun sekolah dan memperbaiki jalan.

Perang Terhadap Masalah Sosial Anak Muda

Di akhir pidatonya, Dedi Mulyadi juga menyoroti masalah sosial anak muda di Cirebon, termasuk tawuran, minuman keras, dan obat-obatan terlarang. Ia menyatakan perang terhadap para penjual barang haram tersebut karena telah merusak masa depan generasi muda.


Pos terkait