Kisah Sukses Luckybite: Dari Kegagalan Keripik Sayur ke Produk Oatmeal Sehat yang Menembus Pasar Internasional
Di sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai tempat pengemasan dan distribusi, ribuan kotak hampers tersusun rapi menunggu dikirim ke berbagai kota, bahkan hingga luar negeri. Di balik tumpukan paket itu, Julius Christian Darmawan dan sepupunya, Steven Marselie, berdiri sebagai pendiri usaha camilan sehat berbasis oatmeal yang kini berkembang pesat. Luckybite namanya. Usaha rumahan di Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, yang perjalanan tidak dimulai dengan kukis, melainkan dari kegagalan memproduksi keripik sayur.
Pada awal merintis usaha, mereka bahkan telah berinvestasi membeli mesin vacuum fryer untuk memproduksi keripik sayuran seperti brokoli, okra, dan buncis. Selama tiga bulan mereka melakukan riset dan pengembangan (R&D), namun hasilnya jauh dari harapan. Mesin yang digunakan tidak bekerja optimal dan menghasilkan produk yang tidak konsisten, kadang gosong, kadang belum matang.
“Setelah tiga bulan nggak membawakan hasil yang baik. Soalnya ternyata setelah kita tahu, mesinnya itu yang ternyata produk gagal,” ujar Julius saat berbincang dengan awak media di gudang Luckybite di Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (26/2/2026).
Julius menyampaikan kegagalam itu memaksa mereka beralih ke produk lain yang lebih mudah diproduksi. Mereka mencoba granola bar, lalu mengembangkan oatmeal cookies sebagai produk berikutnya. Dengan peralatan sederhana berupa oven rumah tangga, mereka melakukan eksperimen selama dua bulan hingga menemukan resep yang sesuai. Proses R&D selama dua bulan pun dijalankan guna mendapatkan hasil terbaik.
Awalnya, mereka hanya memproduksi dua varian rasa, yaitu almond dan cokelat. Seluruh proses, mulai dari produksi, pengemasan, hingga pengiriman, dilakukan sendiri karena belum memiliki karyawan. Sejak awal, Julius dan Steven memutuskan untuk fokus pada penjualan online melalui Shopee. Mereka melihat Shopee sebagai wadah yang lebih efisien dan membutuhkan modal lebih kecil dibanding membuka toko fisik.
Steven menyebut Shopee menjadi platform utama karena memberikan kemudahan logistik, promosi, dan akses ke pasar yang lebih luas. Program promosi seperti Big Ramadhan Sale dan dukungan afiliator turut meningkatkan penjualan secara signifikan.
“Afiliator membantu sih. Kita saling membutuhkan. Mereka lumayan ngeboost penjualan, apalagi kalau live malam-malam,” ucap pria berusia 30 tahun tersebut.
Lonjakan Permintaan Jelang Lebaran
Momentum hari raya menjadi periode paling penting bagi bisnis mereka. Permintaan hampers meningkat tajam menjelang Lebaran 2026 yang berdekatan dengan Natal dan Imlek. Dalam periode tersebut, penjualan bisa meningkat berkali-kali lipat dibandingkan periode biasa.
“Kenaikannya lumayan sih, bisa 100 persen dari low season biasa,” kata Steven.
Omset yang dihasilkan selama periode Lebaran bahkan mencapai ratusan juta rupiah, cukup untuk mendukung operasional dan kesejahteraan karyawan. Luckybite menghadirkan produk hampers tersedia dalam berbagai pilihan harga, mulai dari sekitar Rp110 ribu hingga Rp260 ribu, tergantung isi dan jenis kemasan. Paket paling ekonomis berisi dua oatmeal cookies, sementara paket premium menggunakan kemasan tas khusus dan berisi kombinasi produk yang lebih lengkap.
“Produk dengan harga paling ekonomis menjadi yang paling laris, menunjukkan konsumen sensitif terhadap harga namun tetap tertarik pada produk sehat dan kemasan menarik,” lanjut Steven.
Fokus pada Produk Sehat yang Sesuai Lidah Lokal
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan yang meningkat sejak pandemi menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan usaha Luckybite. Produk berbasis oatmeal dengan kadar gula lebih rendah menjadi pilihan alternatif camilan sehat.
“Mungkin masyarakat sekarang udah lebih aware sama kesehatan. Apalagi semenjak covid,” ucap Julius.
Meski terinspirasi dari produk luar negeri, mereka menyesuaikan resep agar tetap sesuai dengan selera lokal. Julius mengatakan semua resep dikembangkan secara otodidak melalui eksperimen mandiri tanpa latar belakang kuliner formal.
“Karena kita sebenarnya bukan basicnya masak sih. Jadi otodidak aja, eksperimen sendiri,” ungkap Julius.
Ekspansi dan Persiapan Produksi
Luckybite kini telah berkembang pesat. Saat ini mereka memiliki 23 karyawan tetap dan tambahan tenaga freelance saat musim ramai seperti Lebaran. Meski telah berkembang pesat, Julius dan Steven tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Mereka berencana menambah variasi produk baru, namun tetap mempertimbangkan selera pasar Indonesia.
“Kita lagi pikirin yang kira-kira bisa diterima sama masyarakat Indonesia,” sambung Julius.
Bagi mereka, perjalanan membangun usaha ini adalah hasil dari ketekunan, eksperimen, dan adaptasi terhadap perubahan pasar. Darj kegagalan memproduksi keripik sayur hingga menjadi produsen kukis sehat yang menembus pasar internasional, kisah Julius dan Steven menunjukkan ketekunan dan kemampuan beradaptasi dapat membuka jalan menuju kesuksesan, bahkan dari dapur rumah sekali pun.





