Densus 88: Radikalisme Berubah, Menyebar Cepat via Konten Digital

Aa1xki4y
Aa1xki4y



bali.

BADUNG – Kanit Densus Cegah Satgaswil Bali Densus 88 Antiteror Polri Ipda Hadinata Kusuma menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendeteksi dini paparan paham radikalisme pada anak.

Menurutnya, tanda-tanda seseorang terutama anak-anak, terpapar radikalisme dapat dilihat dari perubahan perilaku yang drastis. Beberapa indikator yang patut diwaspadai antara lain simbolisme. Jika seorang anak mulai sering menggambar atau menulis simbol dan tokoh dari organisasi tertentu yang mereka idolakan, maka wajib diwaspadai.

Indikator kedua bersikap defensif, mulai menentang pemahaman umum tentang nasionalisme dan berani mendebat ajaran yang diberikan oleh guru atau orang tua. Ketiga pencarian Identitas. Anak cenderung mencari komunitas baru di luar lingkungan keluarga yang dianggap lebih menerima pemahaman baru mereka.

“Perubahan ini sering kali dipicu oleh informasi yang didapat dari luar, terutama media sosial, yang berbenturan dengan ajaran di rumah atau sekolah,” ujar Ipda Hadinata Kusuma saat Simposium Anti-Radikalisme dan Terorisme yang digelar ICMI Badung, Minggu (1/3) kemarin.

Densus 88 mencatat adanya perubahan signifikan dalam metode penyebaran paham radikal. Jika pada era 80-an hingga awal 2010 pola penyebaran dilakukan melalui pendekatan personal yang memakan waktu lama, kini proses tersebut menjadi sangat singkat melalui media sosial.

“Saat ini, paparan bisa terjadi hanya dalam waktu satu bulan. Kami menemukan kasus anak usia 13 tahun di Bali yang terpapar karena masifnya konten digital,” kata Ipda Hadinata.

Data menunjukkan konten radikal masih mendominasi ruang digital, dengan perincian sekitar 33 persen atau setara 4.100 konten yang bersifat inspirasi radikal dan propaganda kelompok teror.

Ipda Hadinata Kusuma menegaskan radikalisme dan terorisme tidak melekat pada agama atau negara tertentu. Fenomena ini bersifat global dan terjadi di berbagai belahan dunia seperti Amerika Serikat, India, Jepang, hingga Timur Tengah. Ia mencontohkan peristiwa di India, di mana radikalisme menyasar mayoritas pemeluk agama Hindu.

Di Indonesia sendiri, penyebaran paham ini masuk melalui berbagai celah, mulai dari kajian agama, lingkungan tempat ibadah, lembaga pendidikan, hingga ikatan perkawinan.

Sebagai upaya antisipasi, Ipda Hadinata mengajak orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak dan memberikan perhatian lebih terhadap lingkungan pergaulan mereka.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan upaya pencegahan, terutama bagi generasi muda yang bebas mengakses informasi online. Fokus kami adalah membanjiri ruang digital dengan lebih banyak konten positif untuk membangun ketahanan ideologi bangsa,” tuturnya.

Strategi Pencegahan Radikalisme di Kalangan Anak-Anak

Menghadapi ancaman radikalisme yang semakin kompleks, diperlukan strategi pencegahan yang lebih efektif, terutama dalam menghadapi generasi muda yang rentan terpapar informasi negatif. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua dan masyarakat:

  • Peningkatan Kesadaran Orang Tua

    Orang tua harus lebih waspada terhadap perubahan perilaku anak, termasuk perubahan dalam kebiasaan bermain media sosial, minat pada topik tertentu, atau sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan di rumah.

  • Pembatasan Akses Informasi Digital

    Orang tua perlu membatasi akses anak terhadap konten-konten yang berpotensi merusak pemahaman ideologis. Penggunaan aplikasi pengawasan internet dan pembatasan waktu layanan media sosial dapat menjadi solusi.

  • Penguatan Pendidikan Karakter

    Sekolah dan lembaga pendidikan perlu meningkatkan program pendidikan karakter, yang mencakup pemahaman tentang toleransi, nasionalisme, dan nilai-nilai Pancasila.

  • Kolaborasi dengan Komunitas Lokal

    Masyarakat perlu bekerja sama dengan pihak berwajib dan komunitas lokal untuk menciptakan lingkungan yang aman dari pengaruh radikal.

  • Peningkatan Edukasi Melalui Media Massa

    Media massa, baik cetak maupun digital, perlu memperkuat peran sebagai sarana edukasi masyarakat tentang bahaya radikalisme dan cara menghadapinya.

Peran Media Sosial dalam Penyebaran Radikalisme

Media sosial telah menjadi salah satu saluran utama dalam penyebaran paham radikal. Konten-konten yang bersifat provokatif dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara sering kali menyebar secara cepat dan luas.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait media sosial antara lain:

  • Konten Inspiratif Radikal

    Banyak konten yang disajikan dalam bentuk cerita atau video yang tampak menarik dan menjanjikan jawaban atas permasalahan hidup, tetapi justru membawa pesan-pesan radikal.

  • Jaringan Sosial yang Menyimpang

    Anak-anak sering kali terjebak dalam jaringan sosial yang tidak sehat, di mana mereka mengikuti kelompok-kelompok yang memiliki pandangan ekstrem.

  • Tantangan dalam Pengawasan

    Meskipun ada alat pengawasan digital, pengawasan sepenuhnya oleh orang tua tetap menjadi kunci utama dalam mencegah pengaruh negatif dari media sosial.

Dengan kesadaran yang tinggi dan tindakan preventif yang tepat, masyarakat dapat membangun ketahanan ideologi yang kuat terhadap ancaman radikalisme.

Pos terkait