Des Alwi dan Keberuntungan Dibimbing Langsung Dua Bapak Pendiri Bangsa

Aa1xla8s
Aa1xla8s



Des Alwi memiliki nasib yang sangat beruntung, karena pernah dibimbing langsung oleh dua tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.



Artikel ini pertama kali diterbitkan di Majalah INTISARI edisi Oktober 1994 dengan judul “Des Alwi: Jadi Anak Revolusi Berkat Hatta & Sjahrir”. Penulisnya adalah Lily Wibisono.

Adakalanya seseorang lahir pada waktu dan tempat yang tepat, sehingga menjadi saksi sejarah bahkan turut serta dalam perjalanan sejarah tersebut. Des Alwi adalah salah satu contohnya.

Pada tanggal 11 Februari 1936, seorang anak sedang asyik mandi-mandi di dermaga Banda Neira. Untuk usianya yang masih 8,5 tahun, dia terlihat agak tinggi. Rambutnya dipotong pendek, dan saat itu sedang duduk di kelas 2 di ELS (Europeesche Lagere School).

Ketika sebuah kapal kolonial Belanda merapat, dua orang pria berjas turun dari kapal tersebut. Wajah mereka tampak pucat. “Pastilah buangan dari Digul,” pikirnya. Boven Digul memang identik dengan malaria, bahkan anak kecil masa itu pun tahu.

Kapten kapal yang masih muda mengatakan kepada controleur (semacam camat), “Suruh anak buah Anda angkat bagasi tuan-tuan ini.” Yang dimaksudnya adalah tahanan yang biasanya digunakan sebagai kuli di dermaga.

Namun kontroler acuh tak acuh, “Biar saja kaum merah angkat barang-nya sendiri.” Para penentang pemerintah Belanda sering disebut sebagai “merah”, atau komunis.

Diangkat anak oleh Sjahrir

Saat itulah salah satu dari dua orang tuan yang lebih muda melihat si bocah. Dalam bahasa Belanda dia bertanya, “Kamu tahu rumah Pak Cipto Mangunkusumo?”

Yang serta-merta dijawab, “Jauh, Meneer. Tapi kalau di depan situ rumah Pak Iwa Kusuma Sumantri.”

Si anak yang selalu bergerak cepat bergegas ke rumah Cipto Mangunkusumo. “Pak Cipto, ada dua tuan datang.”

“Siapa?” tanya tokoh pergerakan yang ketika itu sudah senior dan sudah beberapa lama diasingkan di sana.

“Yang satu saya baca namanya Hatta.”

“Hatta?” Pak Cipto kedengaran terkejut.

Bagi si kecil Des Alwi, nama Sutan Sjahrir memang lebih sulit dibaca dan diingat, walau Sjahrir-lah yang mengajaknya berbicara lebih dulu.

Itulah awal perkenalannya dengan kedua tokoh pergerakan kemerdekaan negara kita. Bung Hatta saat itu masih bujangan berusia sekitar 34 tahun, sedangkan Sutan Sjahrir 27 tahun. Waktu itu sudah dua tahun mereka berstatus tahanan dan memang mereka dipindahkan dari Boven Digul.

Setelah seminggu menginap di rumah Cipto yang terletak di tepi pantai, mereka pindah ke rumah sendiri. Kebetulan rumah itu tidak hanya berdekatan dengan penjara dan rumah controleur, tapi juga hanya beberapa ratus meter dari sekolah.

Tutur Des Alwi, “Ketika masa masuk sekolah tiba, saya lihat kedua tuan sudah tinggal di rumah yang keren di dekat sekolah saya. Maka saya mampir untuk bicara-bicara. Kemudian saya perkenalkan mereka dengan tokoh-tokoh setempat dan keluarga saya di Banda.”

Itu pula asal-muasalnya Des Alwi sampai menjadi anak angkat Sutan Sjahrir. Di media massa pria ini sering dikaitkan dengan dunia film dokumenter.

Dia juga disebut-sebut dalam rujuknya RI dan Malaysia, anggota atau ketua dari berbagai yayasan, di antaranya Yayasan 10 November yang pada Agustus 1994 menyumbangkan kumpulan film dokumenter tentang perjuangan bangsa Indonesia kepada wakil presiden Indonesia saat itu, Try Sutrisno.

Dia pun berhasil menelurkan sebuah film tentang Bung Hatta. “Sebagai bentuk terima kasih kepada guru saya,” katanya. Film itu menghabiskan tak kurang dari Rp200 juta dalam waktu 26 tahun untuk berburu narasumber!

Kalau Anda berjumpa Des di dalam gelap, dari suaranya yang serak-serak bariton Anda sudah dapat membayangkan perawakannya yang tinggi besar. Dengan satu nyala lilin, akan terlihat kedua matanya yang jeli lagi jenaka. Dengan dua nyala lilin nampaklah hidungnya yang besar, dan dengan tiga lilin … senyum lebarnya yang ramah.

Dua guru istimewa

Dia akrab, pernah dekat, atau pernah berurusan dengan nama-nama yang bagi kita umumnya cuma dikenal lewat buku sejarah atau media massa. Bung Karno? Bung Hatta? Sutan Sjahrir? Tunku Abdul Rahman? Tun Abdul Razak? Fidel Ramos? Corazon Aquino? Pangeran Bernhard dari Belanda? Jacques Cousteau? Sarah Ferguson? Sebut lagi tokoh-tokoh pemerintahan kita sekarang, pastilah dia punya satu, dua, atau segudang cerita yang senantiasa disampaikan dengan penuh warna.

Apakah dia juga seorang tokoh? “Ha ha ha … saya adalah saya,” katanya. Di kantornya yang sederhana, di depan meja kerja yang padat dengan tebaran buku, makalah dan segala macam, duda dengan 4 anak dan 5 cucu ini memulai kisahnya.

“Saya lahir 17 November 1927. Ibu saya Halijah, ayah saya Abubakar. Ayah keturunan Ternate-Palembang, tetapi bagi masyarakat Banda, garis keturunan ibulah yang lebih penting.” Begitulah, Halijah adalah putri seorang tokoh yang pernah besar di Banda dengan reputasi internasional, sehingga dengan bangga Des Ali dapat mengatakan, “Saya adalah cucu Said Baadilla.”

Kalau kakeknya itu boleh dikata sangat kooperatif dengan pemerintah Belanda, perjalanan nasib membuat Des dan saudara-saudaranya malah menjadi anak-anak revolusi. Ketika Bung Hatta dan Sutan Sjahrir memasuki kehidupan mereka, para cucu Baadilla tak lagi menikmati kelimpahan materi kakek mereka.

Mula-mula Hatta menjadi pembimbing ketiga putra Cipto sambil membantu tiga orang dewasa belajar tata buku. Namun kemudian dia bergabung dengan Sutan Sjahrir menjadi pembimbing anak-anak keluarga Baadilla. Dari merekalah anak-anak ini belajar bahasa asing dan “melihat dunia luar” lewat buku secara gratis.

Maklum saja. Kemewahan yang dinikmati kedua tokoh pergerakan ini memang buku. Kesibukan utama mereka belajar dan mempersiapkan strategi untuk merebut kemerdekaan.

Buku yang mereka lalap menembus pelbagai disiplin ilmu: filsafat Jerman, sastra Prancis, sejarah Inggris, politik Belanda, teori-teori dan praktik revolusi di Rusia, Turki, Cina, dan Jepang. Untuk anak-anak, mereka menyediakan buku khusus pula, seperti yang dituturkan Des.

“Kami banyak membaca buku. Melihat saya suka ketawa-ketawa begini, Pak Hatta memberi saya buku Don Quixote, Baron van Munchausen, dll.” Dengan penguasaan bahasa Belanda dan Inggris, sudah tentu jangkauan bacaan mereka cukup luas.

Sebagai “balas jasa”, anak-anak ini membawa kedua guru mereka berjalan-jalan ke kebun pala, berlayar, berenang, memancing ikan dan menikmati keindahan bunga karang, mengamati burung-burung merpati hijau makan buah pala, semua saja kenikmatan alam Banda.

Bagi kedua tokoh ini, anak-anak Baadilla adalah obat sepi. Apalagi menurut Des, “Saya suka mencuri mangga di pohon orang, sehingga pemiliknya kadang-kadang datang dan melapor kepada Pak Hatta.” Karena sifat kekeluargaan orang Banda, tak lama kemudian biasa pula anak-anak makan atau jatuh tertidur di rumah mereka.

“Hobi” Des yang lain adalah berkelahi, walaupun penyebabnya cumalah masalah sepele. Menilik tubuhnya yang besar, andaikan nasibnya meleset dari yang sekarang, ada kemungkinan Des menjadi petinju yang sukses.

Sambil tergelak dia bercerita, “Pernah ada seorang keturunan Ambon – Banda yang menjadi petinju terkenal. Menurut Pak Sjahrir, dia bisa hebat karena dulu sehari-hari berkelahi dengan saya.” Namun cita-cita Des kecil sebenarnya adalah menjadi nakhoda.

Selamat berkat nama “Hatta”

Apa saja yang dipelajari Des dari kedua guru yang istimewa ini? “Pak Hatta amat disiplin dan selalu tepat waktu. Sedangkan dari Pak Sjahrir saya belajar bagaimana mengamati dan mempelajari orang. Maklumlah, masa itu kami harus waspada benar terhadap mata-mata,” katanya.

Bisa dibayangkan, si kecil Des yang bandel di bawah asuhan Hatta yang amat disiplin. “Tentang saya, Pak Hatta pernah berkata, ‘Kamu bisa baik, karena saya dulu sering marah-marah,’” lanjut Des sambil ketawa.

Ketika Ambon jatuh ke tangan Jepang, kapal terbang Amerika Catalina (pesawat sekutu terakhir yang lepas landas dari Ambon) terbang ke Banda untuk menjemput tawanan dalam pengasingan. Pagi-pagi buta, 31 Januari 1942, hanya diberi tahu 15 menit sebelumnya, Hatta dan Sjahrir bergegas ke dermaga.

Mereka terbang ke Surabaya dengan membawa 3 orang anak keluarga Baadilla, Mimi, Lili, dan Ali yang baru berusia 3 tahun. Nyaris benar, karena hanya setengah jam kemudian bom-bom Jepang mulai berjatuhan di Banda Neira. Demikianlah, kedua tokoh ini diangkut ke Sukabumi. Bagaimana nasib Des?

“Ada dua peti besar buku-buku Pak Hatta yang tidak bisa terangkut. Ibu saya juga keberatan saya ikut terbang. Maka kemudian diputuskan, saya akan ikut kapal, sekalian menjaga buku Pak Hatta. Namun kapal tak kunjung datang. Akhirnya saya menumpang kapal layar ke Seram. Namun astaga, di sana saya menyaksikan Jepang mendarat! Untung kami tidak dibunuh di laut.”

Singkat cerita, Des yang baru berusia 14 tahun itu tiba juga di Ambon. Di sana dia mendengar ada kapal Jepang yang akan ke Surabaya.

Dengan berbekal kenekatan, dia memberanikan diri menghadap komandan marinir Jepang yang menguasai seluruh Ambon. Sang komandan yang sedang minum teh, membaca nama “Hatta” di surat jalan yang ditunjukkan Des. Dikiranya itu nama Jepang. Izin pun keluar.

Keberuntungan Des mengikutinya sampai di Surabaya. Uang saku sebesar Rp1 tinggal tersisa setali. Sedang dia kebingungan, lewat seorang anak Banda yang besar di Surabaya.

“Hei, kamu di sini! Saya tahu di mana bibi kamu tinggal!” katanya. Dengan kereta api dia diantarkan ke rumah bibinya. Apa mau dikata, dia langsung “disemprot” sang bibi, “Apa kamu lari dari rumah? Ini zaman perang!”

Ketika tak lama kemudian Belanda bertekuk lutut, Hatta dan Sjahrir dibebaskan. Willard A. Hanna, dalam Indonesian Banda menyebutkan, sementara Hatta memilih jalan perjuangan kooperatif, Sjahrir masuk ke gerakan bawah tanah, bersama rekan dan anak-anak asuhannya. Saat itu Des sudah bergabung dengan saudara-saudaranya.

Tahun 1943 Des mulai masuk sekolah teknik IVEVO (Instituut voor Elektrotechnische Vakopleiding). Namun setahun kemudian dia pindah ke sekolah radio di Surabaya. Tamat dari sana dia membantu di Radio Jakarta Hisoukyoku. Dia memang “ditanam” di sana untuk mencari berita dari dunia luar lewat radio yang tidak disegel. Berita tentang proklamasi sempat dia coba siarkan, tapi gagal.

Menjadi atase pers

Pendidikan Des dilanjutkan ke Inggris. Dia lulus dari King’s College, London University, jurusan elektro arus lemah. Di sana, dia turut bekerja di Kantor Penerangan Indonesia, di samping juga menjadi penyiar di BBC, ketika seksi siaran bahasa Indonesia baru dibuka.

Sepulangnya dari Inggris, Agustus 1950, dia diterjunkan ke Ambon menghadapi RMS dan berhasil mengudarakan RRI Ambon setelah 3 hari ditinggalkan RMS. “Untuk membuat ruang kedap suara, kami menggunakan kain panas (selimut),” katanya.

Kembali ke Jakarta, dia menduduki jabatan yang kedengaran cukup mapan: kepala bagian teknik RRI Jakarta. Malam hari dia menjadi penyiar berita dalam siaran bahasa Inggris. Tugasnya tidak terbatas pada membacakan, tapi juga menyusun berita. Namun tidak lama dia pun ditunjuk menjadi wakil Indonesia dalam ITU (International Telecommunication Union) di Jenewa, sebuah lembaga khusus di bawah naungan PBB.

Dengan mata menerawang jauh, Des membayangkan saat-saat dia, dalam usia 23 tahun, bergaji AS $ 1.000 per bulan, di masa harga mobil VW AS $ 450 dan Hilman AS $ 670. Penugasan yang berlangsung setahun itu disusul dengan pernikahan. Tapi baru setahun menetap di Jakarta, dia ditugaskan menjadi atase pers di Austria, kemudian Hungaria, lalu Manila.

Karier diplomatnya terhenti, ketika dia meninggalkan jabatan untuk hidup dalam pelarian. Itu terjadi dalam konteks Sjahrir yang terlibat dalam pemberontakan PRRI-Permesta. Di luar negeri Des membentuk kantor penerangan pemberontakan bersama Daan Mogot.

Barangkali masa itu bukanlah yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Mula-mula dia tinggal di Swis, kemudian Singapura, lalu Hongkong. Setiap kali pemerintah setempat menghendaki mereka pergi, pindahlah mereka.

Akhirnya ketika Abdul Razak, bekas kawan seasramanya, menjadi perdana menteri Malaysia pada tahun 1962, Des pindah ke Malaysia. Belakangan bersama Daan Mogot dia menjadi kunci kontak pertama dalam proses perujukan kembali RI dengan Malaysia.

Hidup Des memang bagaikan petualangan. Di usianya yang senja ini, perjuangannya dilabuhkan di tanah kelahirannya: bagaimana menyelamatkan Banda dari ancaman turis.

“Banda itu tempat paling indah di dunia. Saya takut terlalu banyak turis datang ke sana. Jangan sampai Banda menjadi demikian murah, sehingga segala sisi kerawanan pariwisata tumbuh di sana,” katanya berapi-api.

Pos terkait