Pentingnya Kesadaran Masyarakat dalam Menjaga Keamanan Pangan Selama Ramadan
Takjil menjadi salah satu makanan yang paling diminati oleh masyarakat menjelang buka puasa. Namun, di balik kelezatannya, peredaran takjil sering kali menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pangan. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Dr dr Syifa Mustika, SpPD-KGEH, FINASIM, memberikan peringatan penting kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap penggunaan bahan berbahaya dalam makanan maupun minuman.
Beberapa bahan seperti formalin, boraks, hingga pewarna tekstil seperti rhodamin B dan methanyl yellow sering kali digunakan dalam proses pembuatan makanan. Padahal, bahan-bahan tersebut sejatinya tidak diperuntukkan bagi konsumsi manusia. Formalin biasanya digunakan sebagai pengawet bahan biologis, sedangkan boraks digunakan untuk keperluan industri. Sementara itu, rhodamin B dan methanyl yellow merupakan pewarna tekstil yang tidak aman untuk dikonsumsi.
Menurut Syifa, jika bahan-bahan ini masuk ke dalam tubuh, maka bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, hingga nyeri perut. Dalam jangka panjang, efek dari zat-zat tersebut dapat merusak organ seperti hati dan ginjal, bahkan meningkatkan risiko kanker.
Bahaya yang Tidak Langsung Terasa
Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi makanan berbahaya adalah efeknya yang tidak selalu langsung terasa. Hal ini membuat banyak orang merasa aman meskipun zat berbahaya tersebut perlahan menumpuk di dalam tubuh. Fenomena makanan berbahaya yang sering muncul saat Ramadan juga memiliki alasan tersendiri.
Menurut Dr Syifa, peningkatan jumlah pedagang, terutama pedagang musiman, menjadi salah satu faktor utama. Permintaan tinggi membuat sebagian orang mencari cara agar makanan terlihat lebih menarik atau tahan lama, meskipun caranya tidak aman. Selain itu, intensitas pengawasan dari pemerintah yang meningkat pada periode ini juga membuat temuan kasus lebih banyak terekspos ke publik.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Dalam hal pengawasan, Syifa menilai bahwa pemerintah melalui BPOM dan Dinas Kesehatan sebenarnya telah rutin melakukan pengawasan, terutama menjelang Ramadan. Namun, luasnya sebaran pedagang dan sifat usaha yang temporer menjadi tantangan tersendiri.
“Keamanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Perlu kesadaran dari produsen dan konsumen,” tegasnya. Ia juga menyoroti masih banyaknya masyarakat yang mengonsumsi makanan berisiko. Menurutnya, hal itu lebih disebabkan kurangnya pengetahuan ketimbang sikap abai.
“Banyak yang belum tahu ciri makanan aman, atau tertarik dengan warna cerah dan harga murah. Karena efeknya tidak langsung, orang merasa tidak ada masalah,” katanya.
Tips Sehat Berpuasa
Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran bersama dalam menjaga keamanan pangan. Edukasi kepada pedagang, pengawasan rutin, serta sikap selektif dari konsumen menjadi kunci utama. “Memilih makanan yang aman adalah cara paling efektif mendorong perubahan, karena produsen akan mengikuti permintaan pasar,” imbuhnya.
Di sisi lain, ia juga membagikan tips sehat menjalani Ramadan. Dr Syifa baru saja menerbitkan buku Tips Terkini Sehat Berpuasa & Sehat Berlebaran. Buku tersebut memuat penjelasan komprehensif mengenai pengaturan pola makan saat sahur dan berbuka, manajemen penyakit kronis selama puasa, menjaga kesehatan saluran cerna, hingga strategi mempertahankan kebugaran tubuh selama periode Ramadan dan pasca Lebaran.
Materi yang disajikan dirancang komunikatif dan aplikatif sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas. Masyarakat dianjurkan berbuka secara bertahap, membatasi konsumsi gorengan dan minuman manis, serta memperbanyak asupan sayur, buah, dan protein. Selain itu, kebutuhan cairan harus tercukupi antara waktu berbuka hingga sahur, terutama dengan memperbanyak minum air putih.
Aktivitas fisik ringan dan menjaga kualitas tidur juga penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima. “Dengan pola makan seimbang, puasa justru bisa menjadi momen memperbaiki kebiasaan hidup lebih sehat,” tandasnya.




