JAKARTA,
– Ketua Yayasan Vanita Naraya, Diah Pitaloka, mengajak masyarakat untuk membangun paradigma baru bahwa perempuan mampu memimpin dalam situasi krisis, konflik, dan bencana. Ajakan ini disampaikan dalam acara penyampaian laporan riset dan diskusi mengenai agenda Women, Peace, And Security (WPS) di Indonesia, di Jakarta, Rabu.
Menurut Diah, masih terdapat ketidaksetaraan dalam pandangan publik terhadap kepemimpinan perempuan. “Ketika laki-laki memimpin di tengah krisis, mereka disebut good commander atau good leader, sedangkan perempuan lebih sering dianggap bertindak karena kasih sayang. Padahal, peran perempuan di tengah konflik itu nyata dan harus diakui,” jelasnya.
Diah menekankan pentingnya pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan di berbagai situasi krisis. Ia menambahkan bahwa perempuan tidak hanya membutuhkan ruang kerja, tetapi juga akses dalam pengambilan keputusan.
Transformasi Kebijakan Diperlukan
Peneliti dari Vanita Naraya, Kunto Adi Wibowo, menyoroti hasil survei nasional yang menunjukkan perlunya transformasi kebijakan untuk memberikan akses politik nyata bagi perempuan dalam struktur pengambilan keputusan keamanan nasional. “Tantangan ke depan adalah mengubah pelibatan kultural menjadi transformasi kebijakan yang setara,” ujar Kunto.
Beberapa Poin Penting dalam Diskusi:
- Penelitian menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan keamanan masih rendah.
- Perlu adanya kebijakan yang mendukung partisipasi aktif perempuan dalam forum-forum keamanan nasional.
- Keterlibatan perempuan dalam penyelesaian konflik dan pengelolaan bencana sangat penting, namun sering kali diabaikan.
Peran Perempuan dalam Krisis
Perempuan memiliki kemampuan unik dalam menghadapi situasi krisis. Mereka sering kali menjadi tulang punggung keluarga dan komunitas, serta memiliki kepekaan emosional yang tinggi dalam mengelola konflik. Namun, kapasitas ini sering kali tidak diakui secara resmi.
Diah menjelaskan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin yang efektif dalam situasi krisis, baik dalam konteks keamanan maupun bencana alam. “Mereka mampu melihat solusi yang tidak terlihat oleh orang lain, serta memiliki kemampuan komunikasi yang kuat,” tambahnya.
Tantangan yang Dihadapi Perempuan
Meskipun ada kesadaran akan pentingnya partisipasi perempuan, beberapa tantangan masih menghambat kemajuan mereka. Antara lain:
- Budaya patriarki yang masih dominan dalam struktur kekuasaan.
- Kurangnya akses terhadap pendidikan dan pelatihan khusus.
- Tidak adanya sistem dukungan yang memadai untuk perempuan yang ingin memimpin.
Solusi yang Ditawarkan
Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat, dan lembaga internasional. Beberapa solusi yang ditawarkan antara lain:
- Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan melalui kebijakan yang inklusif.
- Pelatihan dan penguatan kapasitas perempuan dalam berbagai bidang, termasuk keamanan dan bencana.
- Kampanye kesadaran publik tentang peran penting perempuan dalam berbagai situasi krisis.
Kesimpulan
Pembangunan paradigma baru yang mengakui peran perempuan dalam situasi krisis, konflik, dan bencana sangat penting. Dengan adanya transformasi kebijakan dan kesadaran masyarakat yang lebih luas, perempuan dapat berkontribusi secara maksimal dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas di berbagai tingkat.





