Dilema Indonesia di Tengah Perselisihan Iran-Amerika, Pakar Unand Soroti Netralitas Jakarta

110423054 C3954e1a C156 4673 9676 52fda742bf70
110423054 C3954e1a C156 4673 9676 52fda742bf70

Posisi Indonesia dalam Konflik AS-Iran

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah membawa Indonesia ke dalam situasi yang cukup rumit. Negara ini harus menjaga hubungan baik dengan kedua pihak, sementara ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Andalas (Unand), Virtuous Setyaka, memberikan analisis tentang bagaimana konflik ini dapat memengaruhi Indonesia secara langsung.

Dampak Diplomasi dan Ekonomi

Menurut Virtuous, dampak dari konflik ini tidak hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga bisa berdampak global. Ia menyebutkan bahwa ancaman keamanan dan ekonomi adalah dua hal utama yang akan terasa. Ketegangan militer dapat menciptakan ancaman keamanan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Negara-negara yang menjadi pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah berpotensi merasakan dampak langsung jika terjadi serangan balasan dari Iran. Situasi ini membuat negara-negara tersebut berada dalam posisi rentan.

Potensi Penutupan Selat Hormuz

Salah satu ancaman besar yang muncul adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur ini merupakan rute utama perdagangan minyak dunia. Jika selat ini ditutup, harga energi bisa melonjak tajam dan ekonomi banyak negara bisa terguncang. Dampaknya bukan hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga secara global.

Keterhubungan Global

Virtuous menilai bahwa dalam konteks globalisasi saat ini, hampir tidak ada negara yang benar-benar bebas dari dampak konflik besar. Ketegangan di satu wilayah akan berimbas pada wilayah lain karena keterhubungan sistem ekonomi dan politik dunia.

Dampak pada Indonesia

Terkait Indonesia, Virtuous menyebut dampak tetap akan terasa, baik secara diplomatik maupun ekonomi. Ia menyoroti posisi Indonesia yang memiliki hubungan dengan Amerika Serikat, sementara Iran berada dalam posisi berseberangan dengan negara tersebut.

Secara diplomatik, bisa saja muncul persepsi bahwa Indonesia lebih dekat dengan kepentingan Amerika. Itu berpotensi memengaruhi hubungan Indonesia dengan Iran. Kepercayaan Iran terhadap Indonesia juga bisa mengalami penurunan apabila dipandang tidak berada pada posisi netral.

Opsi Mediasi yang Sulit Direalisasi

Wacana Indonesia menjadi mediator antara pihak-pihak yang bertikai dinilai sulit terealisasi. Secara realistis, peluang itu kecil. Iran mungkin tidak melihat Indonesia sebagai pihak yang cukup strategis untuk memediasi. Di sisi lain, Amerika Serikat juga bukan tipikal negara yang mudah menerima mediasi dalam konflik yang mereka jalani.

Skenario Terburuk dan Perang Non-Militer

Skenario terburuk dari konflik ini adalah meluasnya keterlibatan negara-negara lain di kawasan. Jika eskalasi terus meningkat, bukan tidak mungkin negara-negara Arab atau Timur Tengah lainnya turut terlibat karena merasa terdampak langsung.

Selain perang konvensional, Virtuous juga mengingatkan potensi perang non-militer seperti perang siber dan teknologi. Konflik modern tidak hanya soal serangan militer. Bisa berkembang ke perang siber, serangan terhadap infrastruktur teknologi, yang tentu akan mengganggu stabilitas banyak negara.

Pertimbangan Matang Sebelum Perang Skala Besar

Meski demikian, ia menilai setiap negara akan mempertimbangkan secara matang sebelum memperluas konflik menjadi perang skala besar. Ongkos perang itu sangat besar. Dalam logika hubungan internasional, bukan hanya soal menang secara militer, tapi apakah secara ekonomi mereka benar-benar diuntungkan atau justru merugi. Itu yang akan jadi pertimbangan utama.


Pos terkait