Pemeriksaan Takjil Selama Ramadan di Kabupaten Bangka
Selama bulan suci Ramadan 2026, berbagai jenis takjil dan menu buka puasa yang dijual di Kabupaten Bangka terus dilakukan pemeriksaan oleh Dinas Kesehatan. Petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangka serta Puskesmas di masing-masing kecamatan rutin melakukan pengujian sampel makanan untuk memastikan keamanannya.
Tujuan utama dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah makanan tersebut mengandung zat berbahaya seperti boraks dan formalin. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk memastikan bahwa makanan tidak mengandung pewarna berbahaya seperti methanil yellow dan rhodamin B.
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan hingga saat ini, Dinkes Kabupaten Bangka belum menemukan adanya kasus-kasus makanan yang mengandung bahan berbahaya. Sampel-sampel makanan yang diuji dinyatakan negatif terhadap bahan-bahan berbahaya dan aman untuk dikonsumsi.
Meskipun demikian, Dinkes Bangka tetap meminta masyarakat untuk waspada ketika membeli jajanan takjil. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bangka, Anggia Murni. Dirinya memberikan beberapa tips kepada masyarakat agar bisa memilih takjil dengan lebih bijak.
“Jika melihat warna makanan, kita harus curiga jika ada makanan yang memiliki warna sangat mencolok dan terang,” ujar Anggia Murni pada hari Sabtu (28/2). Menurutnya, hingga saat ini tidak ditemukan makanan buka puasa atau takjil di Kabupaten Bangka yang memiliki warna terang dan mencolok.
Selain warna, ciri lain yang bisa dilihat adalah tekstur makanan. Ia menjelaskan bahwa makanan dengan tekstur terlalu kenyal perlu diwaspadai. “Jika makanan itu terlalu kenyal dan ketika dilemparkan ke lantai bisa memantul seperti bola, maka kita perlu curiga,” tambahnya.
Dirinya berharap, makanan yang dijual oleh para pedagang selama Ramadan kali ini benar-benar aman dan baik untuk dikonsumsi. “Alhamdulillah sejauh ini aman. Jika ada yang mengandung bahan berbahaya, maka bisa berisiko bagi kesehatan tubuh,” ungkapnya.
Anggia Murni memberikan contoh, banyak peristiwa di luar sana di mana ada orang yang menggunakan pewarna pakaian atau tekstil dalam makanan. “Jika bahan tersebut masuk ke tubuh, maka tidak bisa terurai. Ketika bahan tersebut menetap di otot, bisa menyebabkan penyakit kanker,” katanya.
Tips Membedah Makanan Berbahaya
-
Perhatikan warna makanan
Makanan dengan warna terlalu mencolok, seperti merah, kuning, atau biru yang tidak alami, bisa menjadi tanda adanya bahan berbahaya. Contohnya, rhodamin B sering digunakan untuk membuat makanan tampak lebih menarik. -
Cek tekstur makanan
Makanan yang terlalu kenyal atau elastis bisa menjadi tanda adanya bahan kimia seperti boraks. Jika makanan terasa terlalu kenyal dan bisa memantul seperti bola, sebaiknya dihindari. -
Hindari makanan yang terlalu manis atau asam
Terlalu banyak gula atau asam bisa menjadi indikasi adanya bahan tambahan yang tidak sehat. -
Perhatikan aroma makanan
Bau yang tidak wajar atau terlalu kuat bisa menjadi tanda adanya bahan kimia berbahaya. -
Pilih tempat jualan yang terpercaya
Belilah makanan dari penjual yang sudah dikenal dan memiliki reputasi baik. Pastikan mereka menjual makanan yang segar dan aman.
Kesimpulan
Pemeriksaan makanan selama Ramadan di Kabupaten Bangka terus dilakukan untuk memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi masyarakat. Hingga saat ini, tidak ditemukan bahan berbahaya dalam makanan yang diuji. Namun, masyarakat tetap diminta untuk waspada dan memilih makanan dengan hati-hati. Dengan kesadaran dan pengetahuan yang cukup, masyarakat dapat melindungi diri dan keluarga dari risiko kesehatan akibat makanan yang tidak aman.





