Pandangan Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Mengenai Serangan Militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran
Dalam sebuah video yang diunggah ke akun media sosial pribadinya, Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, menyampaikan pandangannya mengenai serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menyoroti potensi dampak konflik tersebut terhadap stabilitas kawasan dan dunia internasional.
Dino Patti Djalal pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI periode 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014, serta Duta Besar RI untuk Amerika Serikat periode 2010–2013. Dalam video yang direkam di sebuah kafe di London, Inggris, ia mengungkapkan rasa terkejutnya atas terjadinya serangan tersebut.
Ia juga menyoroti momentum serangan yang terjadi di bulan Ramadan, yang bagi banyak umat Islam memiliki makna spiritual dan keagamaan yang mendalam. “Kita semua shock melihat serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Kita terutama prihatin karena ini serangan terhadap suatu negara Islam di bulan Ramadan,” ujar Dino dalam video tersebut.
Konflik Dinilai Akan Berkepanjangan
Menurut Dino, terdapat setidaknya tiga poin penting yang perlu dicermati dalam eskalasi konflik ini:
-
Pertama, ia menilai serangan militer tersebut berpotensi memicu konflik berkepanjangan. Dino berpendapat bahwa tujuan serangan kali ini bukan sekadar menghentikan kapasitas nuklir Iran, melainkan juga berupaya menumbangkan pemerintahan di Teheran. Ia menyebut berbagai instrumen, mulai dari aksi militer, oposisi politik, mobilisasi massa, hingga instrumen sosial dan ekonomi, dapat dikerahkan dalam upaya tersebut.
-
Di sisi lain, Iran diyakini tidak akan tinggal diam dan akan melakukan perlawanan terhadap intervensi luar. Dino juga menilai Iran memiliki jaringan politik dan militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi menyeret pihak-pihak lain dan memperluas dampak konflik ke luar wilayah Iran.
-
“Kalaupun pemerintah di Teheran tumbang, itu tidak otomatis memberikan pembenaran secara moral maupun hukum internasional terhadap aksi militer tersebut,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa praktik intervensi sepihak dapat menjadi preseden berbahaya dalam hubungan internasional dan berisiko memicu konflik yang lebih luas.
Iran Disebut Pihak yang Diserang
Poin kedua yang disampaikan Dino adalah penegasan bahwa dalam konflik ini, Iran merupakan pihak yang diserang, bukan pihak yang memulai serangan terhadap Amerika Serikat maupun Israel. Ia menilai kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran tidak serta-merta dapat dijadikan dasar pembenaran untuk melakukan aksi militer.
Dino juga menyinggung peran Oman sebagai mediator yang sebelumnya menyatakan adanya kemajuan dalam proses perundingan. Menurutnya, penggunaan kekuatan militer untuk menyelesaikan perselisihan politik berpotensi menciptakan tren yang mengkhawatirkan dalam tata hubungan internasional.
Soroti Wacana Indonesia Jadi Penengah
Dalam poin ketiga, Dino turut menanggapi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI yang menyebut Presiden Prabowo Subianto siap berperan sebagai penengah konflik. Sebagai mantan diplomat, Dino mempertanyakan realisme gagasan tersebut.
Ia menilai Amerika Serikat sebagai negara adidaya jarang menerima mediasi dalam situasi ketika sedang melakukan operasi militer. Selain itu, ia juga menyoroti dinamika hubungan bilateral Indonesia dan Iran dalam beberapa waktu terakhir yang dinilai tidak menunjukkan intensitas tinggi pada level kepala negara.
Meski demikian, pandangan yang disampaikan Dino dalam video tersebut merupakan opini pribadi sebagai pengamat hubungan internasional dan mantan diplomat. Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat pernyataan resmi tambahan dari pemerintah Indonesia terkait perkembangan terbaru konflik tersebut.





