Diplomasi Rendang Jaga Budaya dan Bantu Masyarakat

Aa1xkmru 1
Aa1xkmru 1



JAKARTA – Rendang bukan hanya sekadar hidangan lezat yang berasal dari Minangkabau, tetapi juga simbol solidaritas dan identitas budaya yang kuat. Dalam momentum Ramadhan 2026, rendang menjadi pusat perhatian dalam dua inisiatif nyata: bantuan kemanusiaan untuk wilayah Sumatera dan penguatan gizi anak sekolah melalui metode tradisional yang unik.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, meresmikan program “Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera” di Makara Art Center, Universitas Indonesia. Program kolaboratif ini bertujuan menyalurkan 17.000 paket rendang siap saji bagi warga yang terdampak bencana di Sumatera.

Fadli Zon menjelaskan bahwa pemilihan rendang sebagai bantuan pangan sangat strategis. Selain menggunakan bahan lokal, rendang memiliki daya tahan lama tanpa memerlukan pengawet dan praktis untuk dikonsumsi di daerah bencana.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pangan, tetapi juga merupakan inovasi budaya yang menggabungkan seni pertunjukan, pameran etnografi, serta semangat gotong royong lintas institusi. Investasi fasilitas produksi juga luar biasa, dengan melibatkan 26 tungku besar untuk mengolah 1,5 ton daging rendang melalui dukungan donasi masyarakat.

Falsafah Budaya dan Kontribusi Akademisi

Wakil Rektor UI, Hamdi Muluk, menyebut gerakan ini sebagai refleksi falsafah Minangkabau “Tungku Tigo Sajarangan”. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas budaya ini menjadi wujud diplomasi budaya sekaligus solusi nyata bagi masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Hal ini membuktikan bahwa gastronomi merupakan objek pemajuan kebudayaan yang mampu menyatukan bangsa dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Semangat melestarikan budaya rendang juga terlihat di Kota Padang melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanah Sirah Piai Nan XX. Dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), mereka menyajikan menu rendang istimewa yang proses pembuatannya melibatkan kearifan lokal yang unik: penggunaan beruk (monyet terlatih) untuk memetik kelapa.

Beruk-beruk ini bukanlah hewan liar biasa, melainkan hewan yang telah menempuh “sekolah khusus” untuk memilih kelapa dengan tingkat kematangan terbaik. Minyak dan santan dari kelapa pilihan inilah yang menjadi rahasia kelezatan bumbu rendang di dapur SPPG. I Dewa Made Agung dari Indonesia Food Security Review menilai metode ini menciptakan rasa yang tak tertandingi sekaligus menggambarkan hubungan mutualisme antara manusia, alam, dan hewan.

Dari Alam ke Piring Anak Indonesia

Proses tradisional ini kemudian bermuara pada keceriaan anak-anak sekolah yang menyantap paket menu bergizi berupa nasi putih, rendang daging, tahu goreng, dan buah segar. Inisiatif ini menunjukkan bahwa rendang memiliki spektrum manfaat yang luas: mulai dari instrumen diplomasi budaya, logistik darurat bencana yang andal, hingga sarana pemenuhan gizi generasi muda yang sarat akan cerita dan makna budaya.

Melalui kolaborasi dari Depok hingga Padang, rendang terus membuktikan diri sebagai warisan dunia yang hidup dan terus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Pos terkait