Diskusi UMKM Binaan PLN: Tingkatkan Kemandirian dan Ketangguhan Usaha Mikro di Jakarta

Pln Peduli Dengan Penghuni Rutan Di Tanjung Redep
Pln Peduli Dengan Penghuni Rutan Di Tanjung Redep

Sinergi Lintas Sektor dalam Pemberdayaan UMKM

Di tengah ruangan yang dipenuhi antusiasme, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), penggiat sosial, serta awak media berkumpul di Resto Masmiskun di Jl. Percetakan Negara, Jakarta. Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi sebuah perayaan semangat pemberdayaan UMKM binaan PLN, pada Senin, 2 Februari 2026.

Septa Aryo Widyanarko, Senior Officer Komunikasi dan TJSL PT PLN UID Jakarta Raya, berdiri dengan tenang. Suaranya mantap, menyampaikan komitmen PLN yang tidak hanya berhenti pada angka, tetapi juga menyentuh kehidupan nyata. “Meski di DKI Jakarta terdapat 658.365 UMKM, hanya sekitar 12.631 yang terserap melalui Rumah BUMN. Oleh karena itu, kami membentuk Hub UMK Jakarta pada 10 Juni 2023, agar dampak program TJSL bisa lebih luas,” ujarnya (2/2).

Septa tidak hanya berbicara, ia membawa bukti. Evaluasi menunjukkan capaian dampak program mencapai 90,66%, sementara aspek keberlanjutan bahkan menembus 94,29%. Angka-angka ini menjadi cermin bahwa program ini bukan hanya formalitas, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Lebih dari sekadar pelatihan, program ini juga menghubungkan UMKM dengan agenda besar dunia: Sustainable Development Goals (SDGs). PLN menempatkan UMKM sebagai bagian dari ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan, sebuah visi yang menempatkan usaha kecil sebagai motor penggerak, bukan sekadar pelengkap.

Suasana diskusi terasa cair. Para pelaku UMKM berbagi pengalaman, penggiat sosial menambahkan perspektif, dan media mencatat setiap detail. Ada rasa optimisme yang tumbuh, bahwa kolaborasi lintas sektor bisa melahirkan UMKM yang lebih kuat.

Septa menutup dengan sebuah kalimat yang menjadi benang merah acara: “Kami optimis, melalui sinergi bersama berbagai pemangku kepentingan, UMKM binaan PLN dapat tumbuh dan menjadi pilar penggerak ekonomi yang tangguh di Jakarta,” ujarnya.

Menghadapi Tantangan Kabel Liar: Solusi SPLU Berkelompok

Namun, cerita pemberdayaan tidak berhenti di ruang diskusi. Di lapangan, ada masalah nyata yang dihadapi UMKM pinggir jalan: kabel liar. Praktik ini bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga berbahaya—menyimpan risiko kecelakaan listrik dan merusak jaringan distribusi.

PLN memilih untuk tidak menutup mata. Sebagai solusi, mereka menggulirkan pengajuan Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) secara berkelompok. Dengan cara ini, pelaku UMKM bisa mendapatkan listrik legal, aman, dan terjangkau. Administrasi dilakukan bersama, biaya dibagi rata, dan rasa aman pun tercipta.

Langkah ini bukan sekadar teknis. Ia adalah simbol keberpihakan: bahwa UMKM kecil di pinggir jalan pun berhak atas fasilitas yang layak. PLN berkomitmen mendampingi mereka, memberikan edukasi, dan memastikan bahwa usaha kecil bisa berjalan tanpa bayang-bayang risiko.

Narasi Besar: Perusahaan Negara yang Hadir di Tengah Masyarakat

Diskusi di Jakarta Pusat itu, jika dilihat lebih dalam, adalah potret bagaimana sebuah perusahaan negara berusaha hadir di tengah masyarakat. Dari pelatihan hingga solusi kabel liar, dari angka capaian hingga harapan masa depan, semuanya bermuara pada satu hal: menjadikan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.


Pos terkait