Doa Qunut Witir Malam Ke-15 Ramadan 4 Maret 2026

1721925651
1721925651

Memasuki Separuh Akhir Ramadan, Umat Muslim Mulai Membaca Doa Qunut dalam Salat Witir

Malam ke-15 Ramadan, yang jatuh pada Rabu, 4 Maret 2026, menandai pertengahan bulan suci Ramadan. Pada malam ini, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Sulawesi Utara (Sulut), mulai melaksanakan salat tarawih dan witir dengan membaca doa qunut. Doa qunut menjadi bagian penting dari ritual ibadah di separuh akhir Ramadan.

Menurut mazhab Syafi’i, seperti yang dijelaskan oleh Imam asy-Syafi’i, Imam an-Nawawi, dan Imam al-Baihaqi, doa qunut witir dianjurkan dibaca pada separuh terakhir Ramadan. Pembacaan doa ini dilakukan pada rakaat terakhir salat witir setelah ruku atau saat i’tidal. Hal ini menjadi salah satu perbedaan dalam tata cara salat witir di masa-masa tersebut.

Pada hari ke-14 puasa Ramadan, umat Muslim telah memasuki fase separuh akhir bulan suci ini. Dengan demikian, malam nanti akan menjadi waktu yang tepat untuk melakukan salat tarawih dan witir dengan membaca doa qunut. Perbedaan dalam bacaan salat ini menjadi hal yang biasa terjadi ketika memasuki pertengahan Ramadan.

Doa qunut dalam salat witir tidak berbeda dengan bacaan biasanya. Namun, penggunaannya lebih khusus dalam konteks separuh akhir Ramadan. Berikut adalah bacaan doa qunut witir yang dikutip dari kompas.tv:

Allahummahdinâ fî man hadait. Wa ‘âfinâ fî man ‘âfait. Wa tawallanâ fî man tawallait. Wa bâriklanâ fî mâ a‘thait. Wa qinâ syarra mâ qadhait. Fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaik. Wa innahû lâ yazillu man wâlait. Wa lâ ya‘izzu man ‘âdait.

Artinya:
“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesehatan kepada kami sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan. Dan peliharalah kami sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan. Dan berilah keberkahan kepada kami pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan kami dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan.”

“Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan.”

“Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera untuk junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”

Sejarah dan Pengakuan Ulama tentang Doa Qunut

Dalam buku Fiqih Sunnah Jilid I karya Sayyid Sabiq, terdapat riwayat dari Abu Dawud bahwa Umar bin Khatab pernah mengumpulkan umat Muslim untuk mengerjakan salat yang bermakmum kepada Ubai bin Ka’ab. Selama dua puluh malam, Ubai tidak membaca doa Qunut, kecuali pada separuh terakhir bulan Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa pembacaan doa qunut memiliki tempat khusus dalam ritual salat witir di masa-masa tertentu.

Selain itu, Muhammad bin Nashr pernah bertanya kepada Saad bin Jubair tentang situasi ketika Umar bin Khatab mengutus pasukan muslimin. Pasukan tersebut dalam kondisi sulit, hingga Umar merasa khawatir dan akhirnya membaca doa Qunut pada separuh waktu terakhir bulan Ramadan.

Imam al-Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar juga menegaskan bahwa Imam asy-Syafi’i menganjurkan pembacaan doa qunut pada rakaat terakhir salat witir setelah tarawih. Sementara itu, Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menyebutkan bahwa ulama kalangan madzhab Syafi’i menganjurkan pembacaan doa qunut saat witir dilakukan di separuh terakhir bulan Ramadan.

Penutup

Doa qunut dalam salat witir menjadi bagian dari tradisi keagamaan umat Muslim di separuh akhir Ramadan. Tidak hanya sebagai bentuk doa, doa ini juga menjadi simbol kesadaran akan kebesaran Tuhan dan permohonan perlindungan serta keberkahan dalam hidup. Dengan membaca doa qunut, umat Muslim diharapkan dapat lebih dekat dengan Tuhan dan memperkuat iman serta ketaatan dalam menjalani puasa Ramadan.




Pos terkait