Dokter RSUD Abdul Rivai Berau Jelaskan Manfaat Puasa Ramadan untuk Kesehatan Jantung dan Mental

Ramadhan8 1
Ramadhan8 1

Manfaat Puasa Ramadan bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Puasa Ramadan tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan fisik dan mental. Perubahan pola makan, waktu tidur, serta aktivitas fisik selama bulan puasa dapat memicu adaptasi fisiologis yang bermanfaat jika dijalani dengan cara yang tepat.

Menurut Dokter Putri dari RSUD Abdul Rivai, saat berpuasa, tubuh akan beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi karena tidak ada asupan makanan selama beberapa jam. Proses ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengontrol kadar gula darah. Penelitian juga menunjukkan adanya perbaikan profil lipid selama Ramadan, seperti penurunan kadar kolesterol total dan trigliserida. Hal ini berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama jika diiringi pola makan yang seimbang.

Dampak Psikologis dan Kesejahteraan Mental

Selain manfaat fisik, puasa Ramadan juga memberikan dampak positif pada kesehatan mental. Aktivitas spiritual yang menyertai Ramadan dinilai mampu menurunkan tingkat stres serta meningkatkan kesejahteraan mental. Praktik puasa yang disertai aktivitas spiritual dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan mental. Ramadan menjadi momentum refleksi diri yang turut memengaruhi keseimbangan emosional seseorang.

Pola Makan yang Seimbang

Meski demikian, manfaat tersebut sangat bergantung pada pola makan saat sahur dan berbuka. Dokter Putri menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau roti gandum agar energi stabil sepanjang hari. Asupan protein dari telur, ikan, ayam, dan kacang-kacangan juga penting untuk menjaga massa otot serta mendukung regenerasi sel. Serat dari buah dan sayur berperan menjaga kesehatan pencernaan.

Sebaliknya, batasi makanan tinggi gula sederhana, lemak berlebih, dan garam karena bisa memicu lonjakan gula darah, gangguan pencernaan, hingga dehidrasi.

Aspek Hidrasi

Aspek hidrasi menjadi perhatian khusus, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Tubuh tetap kehilangan cairan meski tidak makan dan minum. Masyarakat dianjurkan mengonsumsi delapan hingga sepuluh gelas air putih secara bertahap antara waktu berbuka hingga sahur, serta membatasi minuman berkafein.

Keseimbangan Aktivitas Fisik dan Istirahat

Keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat juga penting. Olahraga ringan seperti berjalan kaki atau peregangan dianjurkan setelah berbuka. Waktu tersebut relatif aman karena tubuh sudah mendapatkan asupan energi dan cairan. Kualitas tidur juga perlu dijaga agar fungsi metabolisme tetap optimal selama Ramadan.

Perhatian bagi Penderita Penyakit Kronis

Bagi individu dengan penyakit kronis yang rutin mengonsumsi obat, penyesuaian jadwal minum obat menjadi hal krusial. Dokter Putri menyarankan konsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum memulai puasa. Obat satu kali sehari biasanya dapat dipindahkan ke waktu sahur atau setelah berbuka sesuai anjuran medis. Untuk obat dua kali sehari, jadwalnya disesuaikan menjadi saat sahur dan berbuka dengan interval mendekati 12 jam. Sedangkan pasien yang mengonsumsi obat tiga kali sehari mungkin memerlukan evaluasi khusus atau penggantian ke sediaan lepas lambat.

Ia juga mengingatkan pasien dengan diabetes, hipertensi, gangguan lambung, atau asma agar lebih waspada. Risiko hipoglikemia pada pasien diabetes dapat meningkat jika dosis tidak disesuaikan. Sementara pasien hipertensi harus tetap teratur mengonsumsi obat untuk mencegah lonjakan tekanan darah.

Jika muncul gejala berat seperti pusing ekstrem, lemas berat, nyeri dada, atau sesak napas, maka keselamatan harus menjadi prioritas. Dalam kondisi tertentu, puasa dapat dibatalkan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Dokter Putri menilai Ramadan dapat menjadi momentum peningkatan kesehatan sekaligus spiritualitas. Kuncinya adalah perencanaan yang baik, pola makan seimbang, hidrasi cukup, aktivitas fisik yang tepat, istirahat yang berkualitas, serta kepatuhan terhadap terapi medis. Dengan begitu, puasa bisa dijalankan secara aman dan optimal.


Pos terkait