Presiden AS Mengungkap Tujuan Operasi Militer Terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan tujuan utama operasi militer negaranya terhadap Iran yang diberi nama Operation Epic Fury. Operasi ini berlangsung sejak 28 Februari 2026 dan disebut masih terus berkembang hingga ke wilayah Lebanon. Dalam pidato pada upacara penganugerahan Medal of Honor, Trump menegaskan bahwa militer AS sedang menjalankan operasi besar-besaran untuk menghancurkan ancaman yang dianggap berasal dari rezim Iran.
“Tujuan kami jelas. Kami sedang menghancurkan kemampuan rudal Iran secara terus-menerus, setiap jam, termasuk kapasitas mereka untuk memproduksi rudal baru,” kata Trump dalam pidatonya, Senin (2/3/2026). Ia menyebut operasi ini sebagai kelanjutan dari Operation Midnight Hammer yang sebelumnya menargetkan fasilitas nuklir Iran.
Empat Sasaran Utama Operasi Militer AS
Trump merinci empat sasaran utama intervensi militer AS di Iran:
- Menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran, termasuk gudang senjata dan fasilitas produksi yang dinilai mengancam pangkalan AS serta daratan Amerika. Ia mengklaim sedikitnya 10 kapal perang Iran telah ditenggelamkan.
- Menghentikan program nuklir Iran secara permanen, serta memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Trump kembali mengkritik kesepakatan nuklir era Obama, JCPOA, yang ia sebut sebagai dokumen berbahaya.
- Memutus pendanaan dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di luar negeri.
- Melumpuhkan struktur kepemimpinan militer Iran, yang menurutnya telah berhasil dilakukan lebih cepat dari jadwal.
Hubungan dengan Sejarah Ketegangan
Trump juga mengaitkan operasi ini dengan sejarah panjang ketegangan selama 47 tahun, termasuk tuduhan keterlibatan Iran dalam serangan bom pinggir jalan (IED) terhadap tentara AS. Ia kembali menyinggung nama Qasem Soleimani sebagai sosok penting di balik serangan-serangan tersebut.
Ancaman Gelombang Serangan Baru
Dalam wawancara dengan CNN, Trump menyatakan bahwa “gelombang besar” serangan berikutnya masih akan datang. “Kami sedang menghancurkan mereka. Segalanya berjalan sangat baik dan sangat kuat,” ujarnya. Trump mengklaim sedikitnya 49 pejabat tinggi Iran tewas dalam gelombang awal serangan. Ia juga menyebut kepemimpinan Iran kini dalam kondisi kacau.
Meski konflik kian meluas dan Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Arab seperti Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, Trump menegaskan AS siap melanjutkan operasi selama diperlukan. “Saya tidak akan bosan. Tidak ada yang membosankan tentang hal ini,” tegasnya.
Dukungan untuk Rakyat Iran
Di sisi lain, Trump menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran untuk merebut kembali kedaulatan negaranya, namun memperingatkan bahwa situasi keamanan akan semakin berbahaya dalam waktu dekat.





