Penjelasan Mengenai Bahaya Earphone Bluetooth
Beberapa orang mengkhawatirkan bahwa penggunaan earphone bluetooth dapat berdampak buruk pada kesehatan otak karena adanya radiasi. Namun, hal ini telah dibantah oleh Widya Eka Nugraha, seorang dosen dari Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University. Menurutnya, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang konsisten menunjukkan bahwa penggunaan earphone bluetooth merusak otak manusia.
Widya menjelaskan bahwa tidak semua jenis radiasi berbahaya bagi tubuh manusia. Dampaknya bergantung pada jenis radiasi, tingkat paparan, durasi, serta jaraknya. Ia menyebutkan bahwa bluetooth memancarkan gelombang radio atau radio frequency (RF), yang termasuk dalam kategori radiasi non-ionisasi. Berbeda dengan radiasi pengion seperti sinar X atau sinar gamma yang diketahui dapat merusak DNA pada dosis tertentu.
“Pada paparan RF, mekanisme efek biologis yang terjadi adalah pemanasan jaringan (thermal effect). Sejauh ini, alat bluetooth yang beredar di pasaran memenuhi standar keamanan dan tidak memberikan efek yang signifikan terhadap jaringan tubuh manusia,” ujar Widya melalui keterangan tertulis.
Risiko Kesehatan yang Lebih Nyata
Selain itu, Widya menekankan bahwa risiko kesehatan yang lebih realistis justru berkaitan dengan cara penggunaan earphone. Ia menyebut gangguan pendengaran akibat volume yang terlalu keras dan durasi penggunaan yang terlalu lama sebagai risiko paling sering ditemui di layanan klinik.
Selain itu, terdapat risiko infeksi telinga luar apabila earphone dipakai lama dalam kondisi lembap, jarang dibersihkan, atau digunakan bergantian. Ia juga mengingatkan potensi gangguan fokus dan keselamatan saat berkendara atau beraktivitas di ruang publik, karena pengguna dapat kehilangan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. Keluhan muskuloskeletal dan kelelahan akibat kebiasaan menunduk lama serta screen time panjang turut menjadi perhatian.
Studi Terkini dan Interpretasi yang Perlu Diwaspadai
Terkait studi Zhou, dkk (2024) yang mencoba mengaitkan penggunaan headphone bluetooth dengan luaran tertentu, seperti benjolan kelenjar gondok, ia menilai desain penelitian tersebut sulit membuktikan hubungan sebab-akibat. Karena itu, menurut Widya, perlu kehati-hatian dalam interpretasinya.
Langkah Pencegahan yang Direkomendasikan
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan penggunaan volume secukupnya, membatasi durasi dengan jeda teratur, menjaga kebersihan earphone, serta mengutamakan keselamatan. “Bila telinga nyeri, gatal berat, keluar cairan, berdenging menetap, atau pendengaran menurun, hentikan sementara dan periksa ke dokter,” ujar Widya.
Ia juga menganjurkan penggunaan earphone dengan konduksi tulang (bone conduction) dalam situasi tertentu. Hal ini bisa menjadi alternatif yang lebih aman dan nyaman bagi pengguna, terutama dalam aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.





