Iran Menutup Pintu Perundingan Nuklir dengan AS
Republik Islam Iran telah menutup semua pintu perundingan nuklir dengan Amerika Serikat (AS). Apa pun yang ditawarkan oleh para pejabat di negeri Paman Sam untuk membawa Iran ke dalam meja perundingan ulang tentang program nuklir maupun sistem demokrasi di dalam negeri akan ditolak. Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa negaranya tidak lagi dapat memegang komitmen AS dalam usaha bersama menghindari permusuhan dan perang.
“Bagi kami, tidak ada lagi negosiasi,” kata Boroujerdi saat konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026). Sikap keras tersebut, menurut Boroujerdi, bukan tanpa alasan. Ia menegaskan bahwa Iran berkali-kali mengikuti kemauan AS untuk berdialog ke meja perundingan. Walau demikian, Iran tetap menjadi target penyerangan dan agresi oleh AS bersama Zionis Israel.
“Saat ini kami tidak lagi percaya perundingan dengan Amerika Serikat, karena ketika perundingan kami lakukan, Amerika Serikat dengan Zionis Israel menyerang Iran,” ujarnya. Menurut Boroujerdi, Iran setidaknya lebih dari lima kali tunduk pada kemauan AS untuk berunding tentang program nuklir sejak 2015. Dia mencontohkan pada periode kesepakatan nuklir Iran, atau yang dikenal Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Kesepakatan itu, kata Borojerdi, sudah disetujui oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB). “Tetapi apa yang terjadi? Amerika Serikat secara sepihak memilih keluar dari kesepakatan,” ujar dia. Lepas itu, Iran pun menjadi target kampanye hitam di level internasional dengan narasi memproduksi senjata nuklir yang mengancam. Narasi tersebut berujung pada krisis politik yang membuat Iran mendapatkan sanksi dan serangan. Walau demikian, Iran tetap patuh untuk masuk ke ruang perundingan baru dengan AS.
“Setelah itu (JCPOA) kami lima kali melakukan perundingan, dengan lima putaran. Sampai sebelum putaran keenam tahun lalu (2025), kami mendapatkan serangan militer dari Zionis Israel dan Amerika Serikat,” ujar Boroujerdi. Selepas serangan tersebut, AS kembali memaksa agar Iran kembali ke meja perundingan. Kata Boroujerdi, sebagai negara yang ingin tetap patuh pada upaya mencegah peperangan, Iran tetap meladeni perundingan itu agar dilakukan.
“Tetapi lagi-lagi, baru dua kali negosiasi dilakukan, negosiasi bersama Amerika Serikat, sebelum negosiasi ketiga, hal yang sama terjadi. Kami kembali diserang oleh Zionis Israel dan Amerika Serikat,” kata Boroujerdi. Serangan yang dilakukan, kata Boroujerdi, terjadi ketika juru runding dari negara pihak ketiga menyampaikan adanya kemajuan positif yang signifikan. Kondisi ini mendesak adanya keputusan politik di dalam negeri Iran, yang tak sudi lagi masuk dalam kemauan Presiden AS Donald Trump ke meja perundingan.
“Kami tidak lagi percaya dengan perundingan dan melaksanakan negosiasi ketika tidak ada jaminan untuk kami tidak diserang,” ujar Borojerdi.
Serangan AS-Israel Mengakibatkan Kekacauan di Kawasan Teluk
Serangan AS-Israel dilakukan sejak Sabtu (28/2/2026) lalu. Hingga kini, Iran dalam posisi bertahan membalas serangan-serangan itu. Perang terbuka AS-Zionis dengan Iran ini pun berdampak luas ke negara-negara kawasan Teluk. Sebab, Iran membalas dengan melancarkan drone-drone serbunya ke negara-negara Teluk tempat berdirinya pangkalan militer AS.
Dalam perang ini, Iran kehilangan Pemimpin Tertinggi Wali Agung Ayatullah Ali Khamenei yang wafat saat rumah tinggal dan kantornya dibom dengan rudal dan misil pada Sabtu lalu. Peristiwa ini semakin memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat.
Tantangan Berat bagi Stabilitas Regional
Perang yang terjadi antara Iran dan AS-Israel menciptakan tantangan berat bagi stabilitas regional. Serangan-serangan yang terus-menerus terhadap Iran tidak hanya memicu reaksi balasan, tetapi juga memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar. Negara-negara kawasan Teluk kini harus menghadapi ancaman dari drone-drone Iran yang bergerak cepat dan sulit diidentifikasi.
Selain itu, kematian Ayatullah Ali Khamenei menambah kompleksitas situasi politik di Iran. Pemimpin tertinggi yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri dan domestik negara tersebut kini digantikan oleh orang-orang yang mungkin memiliki pendekatan berbeda terhadap hubungan dengan AS dan sekutu-sekutunya.
Kebijakan Luar Negeri yang Lebih Keras
Dengan penutupan pintu perundingan nuklir, Iran tampaknya mengambil langkah yang lebih keras dalam kebijakan luar negerinya. Mereka tidak lagi percaya bahwa dialog dengan AS akan memberikan hasil yang bermanfaat. Justru, setiap kali perundingan dilakukan, Iran selalu dihadapkan pada serangan yang memicu krisis politik dan keamanan.
Ini menunjukkan bahwa Iran kini lebih fokus pada pertahanan diri dan keamanan nasional. Mereka siap untuk bertindak keras jika diperlukan, baik melalui serangan militer maupun diplomasi yang lebih tegas. Namun, hal ini juga berpotensi memicu konflik yang lebih luas, terutama jika AS dan sekutu-sekutunya terus memperkuat posisi mereka di kawasan.
Kesimpulan
Perang antara Iran dan AS-Israel telah menciptakan situasi yang sangat tidak stabil di kawasan Timur Tengah. Penutupan pintu perundingan nuklir oleh Iran menunjukkan bahwa negara tersebut tidak lagi percaya pada proses dialog yang sebelumnya dianggap sebagai solusi. Dengan kebijakan luar negeri yang lebih keras, Iran siap untuk bertindak tegas dalam menghadapi ancaman dari AS dan sekutu-sekutunya. Namun, hal ini juga berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih besar, yang bisa berdampak luas bagi stabilitas regional.





