Peran Penguatan Industri Ayam dan Telur dalam Swasembada Pangan
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan pentingnya penguatan industri ayam dan telur sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Selain itu, sektor ini juga menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada kunjungan ke CV Telur Intan Group di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ia menyampaikan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan bekerja sama dengan koperasi desa, badan usaha milik desa (BUMDes), serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat lokal.
“Insyaallah, koperasi desa akan beroperasi mulai bulan Juni, dan hingga akhir tahun ini, diperkirakan ada sekitar 30.000 koperasi yang akan berdiri,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin lagi rantai pasok pangan hanya dikuasai oleh distributor besar dari luar daerah. Oleh karena itu, SPPG tidak boleh mengambil barang dari grosir Jakarta, melainkan harus bermitra dengan usaha yang ada di desa setempat.
Strategi Pemerintah untuk Swasembada Pangan
Penguatan sektor ayam dan telur merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam mencapai swasembada pangan, terutama pada komoditas karbohidrat dan protein. Kebijakan Presiden Prabowo Subianto bertujuan untuk mengembangkan usaha rakyat, dengan dasar utama adalah swasembada pangan dan Makanan Bergizi Gratis, serta pengembangan koperasi desa.
Swasembada karbohidrat mencakup beras dan jagung, sedangkan swasembada protein meliputi ikan, telur, ayam, dan susu. Dengan memperkuat produksi nasional dan melibatkan peternak lokal, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan pada perusahaan besar, sekaligus memperkuat kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat di daerah, termasuk di Kabupaten Malang.
Pembangunan Enam Pusat Produksi
Untuk memperkuat industri ayam dan telur, pemerintah berencana membangun enam pusat produksi yang fokus pada pengembangan grand parent stock (GPS) dan day old chick (DOC) atau anak ayam umur sehari, yang menjadi fondasi produksi ayam nasional. Selain itu, pakan ternak akan dibagikan kepada masyarakat.
Enam pusat tersebut akan impor GPS, kemudian dikembangkan menjadi parent stock, sehingga menjadi DOC. Pakan ternak juga akan didistribusikan kepada peternak.
Dua dari enam fasilitas tersebut akan dibangun di Malang dan Lampung, sementara sisanya akan dibangun di wilayah lain yang memiliki potensi besar untuk pengembangan peternakan nasional.
PTPN akan membuat pakan ternak, dengan satu lokasi di Malang, satu di Lampung, dan beberapa daerah lain.
Keterlibatan Peternak Lokal
Zulkifli Hasan menilai langkah ini penting agar peternak rakyat memiliki alternatif sumber bibit dan pakan, serta tidak hanya bergantung pada perusahaan besar. Dengan demikian, peternak bisa dipasok dari perusahaan tersebut, bukan hanya tergantung pada perusahaan besar.
Dia meyakinkan, pemerintah membuka peluang bagi pihak yang mampu mengembangkan peternakan untuk mendapatkan izin impor DOC guna meningkatkan produksi ayam nasional.
Saat ini, jumlah GPS di Indonesia sekitar 700.000 ekor. Namun, dari jumlah tersebut belum semuanya dapat dikembangkan menjadi indukan produksi karena keterbatasan fasilitas. Dengan pembangunan pusat produksi, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat sektor peternakan secara keseluruhan.





