Dulu Mualaf Karena Cinta, Titik Balik Angelina Sondakh Dimulai di Penjara

Momen Angelina Sondakh Wajib Lapor Di Balai Pemasyarakatan 9 169 1
Momen Angelina Sondakh Wajib Lapor Di Balai Pemasyarakatan 9 169 1

Kehidupan Angelina Sondakh yang Berubah Drastis

Angelina Sondakh, aktris ternama Indonesia, kini dikenal sebagai sosok yang taat beragama. Ia telah lama menjalani kehidupan sebagai seorang muslimah dengan mengenakan hijab setiap kali keluar rumah. Aktivitasnya kini lebih sering dihabiskan untuk menghadiri acara-acara kajian agama. Namun, perjalanan spiritualnya tidak terjadi secara tiba-tiba.

Awalnya, Angelina memutuskan menjadi mualaf karena cinta kepada mantan suaminya, Adjie Massaid. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum menikahi Adjie pada 2009. Pada masa awal menjadi pemeluk Islam, ia masih jauh dari pemahaman agama. Saat itu, ia hanya mengikuti keinginan Adjie dan ikut-ikutan dalam ibadah.

“Yang pasti saya jadi mualaf gara-gara cowok ganteng, gara-gara Mas Adjie Massaid. Tapi pada saat itu ya ikut aja, seikut-ikutnya aja. Artinya kalaupun salat ngelihat Mas Adjie Salat tuh ya udah ngikutin gerakannya aja gitu,” ujarnya.

Proses menuju pernikahannya juga tidak mudah. Adjie sempat melamar beberapa kali, tetapi ditolak oleh ayahnya. Akhirnya, ketika ada penghulu dan ustad, Angelina langsung memutuskan untuk masuk Islam dan menikah.

Pada masa itu, keputusannya masuk Islam semata-mata karena cinta. Ia belum benar-benar merasakan makna spiritual dari agama tersebut. “Pada saat itu masuk Islam hanya untuk laki-laki ganteng (Adjie Massaid), enggak ada jiwanya, enggak ada hatinya. Artinya kalau Mas Adjie ngajakin Salat subuh ikut-ikut aja tapi enggak merasa ‘oh ini agama enak, tenang, damai‘ enggak ada gitu,” ungkapnya.

Setelah Adjie meninggal, hidup Angelina mulai berubah drastis. Ujian demi ujian datang silih berganti, termasuk kasus hukum yang membuatnya harus menjalani penjara selama 10 tahun. Masa awal di penjara masih biasa saja, ia hanya menjalani ibadah sekedarnya.

“Di dalam sana (penjara) 4 tahun masih biasa-biasa saja, artinya yaudah kalau salat ya salat. Tapi akhirnya ketika saya merasa bahwa saya teriak juga percuma, saya marah juga enggak ada yang terdampak, saya nangis jejeritan juga enggak ada yang peduli,” katanya.

Dalam kondisi terpuruk tersebut, Angelina mulai merenungi hidupnya. Ia menyadari bahwa kemarahan dan kesedihan tidak akan mengubah keadaan. Pertemuan dengan teman satu sel menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Ia mulai belajar membaca Al-Qur’an dengan benar dan lebih sungguh-sungguh.

“Pertolongan Allah sungguh dekat dan saya merasakan bahwa Allah tuh dekat banget. Akhirnya, saya merasa bahwa kalau saya dekat Allah juga dekat. Di situlah mungkin akhirnya Cahaya itu datang,” jelasnya.

Sejak saat itu, ia merasakan perubahan besar dalam dirinya. Ia mulai menjalani ibadah dengan hati yang lebih tenang dan penuh kesadaran. Keinginan untuk menghafal Al-Quran pun tumbuh perlahan. Ia memulainya dari kebiasaan membaca setiap hari.

“Awal menghafal (Al-Quran) ketika di sel, saya baca tiba-tiba pas lagi one day one juz ‘kok saya udah bisa enggak ngeliat Al-Quran’. Bahwa ternyata Al-Quran itu untuk memberi petunjuk, kalau kita jalanin petunjuknya, Allah Rahmati dan Allah kasih kabar gembira,” tutupnya.

Politik dan Keyakinannya

Meskipun kariernya berakhir dengan hukuman penjara selama 10 tahun, Angelina Sondakh tidak menyesali keputusannya untuk terjun ke dunia politik. Bagi Angie, politik bukanlah sesuatu yang kotor. Justru, ia memandang politik sebagai alat yang mulia, asalkan dimainkan oleh orang yang tepat.

“Politik itu harusnya kalau terdistribusikan dan dimainkan oleh orang-orang yang baik InsyaAllah hasilnya baik juga,” ujarnya.

Angie melihat bahwa kesalahan tidak terletak pada politik itu sendiri, melainkan pada individu yang menyalahgunakan kekuasaan. “Politik itu tuh tidak jangan selalu dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif. Kan ini masalahnya di pemainnya,” tegasnya.

Meskipun demikian, Angelina tidak naif. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar bagi orang yang ingin tetap lurus di dunia politik adalah melawan sistem yang sudah terlanjur korup. Menurutnya, perlawanan itu bukan sekadar melawan individu, melainkan melawan budaya kolektif yang telah menormalisasi praktik-praktik kotor.

“Inilah sistem ya. Yang dilawan itu bukan hanya manusianya yang dilawan itu adalah sistem. Dan yang dilawan itu adalah kolektivitas,” jelasnya.

Alih-alih kapok, pengalaman pahitnya justru memperkuat keyakinannya bahwa politik membutuhkan lebih banyak orang baik. Bahkan, jika suatu saat nanti putranya, Keanu Massaid, ingin terjun ke dunia yang sama, Angie tak akan melarangnya.

“Saya enggak pernah melarang Keanu tuh untuk beraktivitas baik secara politik nantinya pun, karena kalau misalkan orang-orang yang baik ini enggak ada dalam politik, siapa lagi ya?” tandasnya.


Pos terkait