ECOWAS Siap Tindak Lanjuti Ancaman Teror di Afrika Barat
ECOWAS (Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat) telah mengumumkan rencana penerjunan sebanyak 2.000 tentara untuk melawan ancaman teroris yang semakin meningkat di kawasan Sahel. Blok ini juga menyerukan kerja sama dengan Alliance of Sahel States (AES), yang terdiri dari negara-negara yang dipimpin oleh junta militer.
Presiden Sierra Leone, Julius Maada Bio, menyampaikan bahwa ECOWAS berencana untuk memobilisasi sekitar 2.000 tentara multinasional pada akhir tahun 2026 guna merespons ancaman teroris di kawasan tersebut. Rencana ini dilakukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat keamanan dan stabilitas wilayah.
Pada Desember 2025, Mali, Burkina Faso, dan Niger membentuk aliansi militer bernama United Forces of Alliances of Sahel States (FU-AES). Pembentukan aliansi ini dianggap penting dalam upaya meringkus kelompok-kelompok teroris yang aktif di kawasan tersebut.
Mendorong Partisipasi Anggota ECOWAS
Maada Bio menyatakan bahwa seluruh anggota ECOWAS diharapkan dapat berkontribusi dalam ECOWAS Standby Force. Dengan adanya kekuatan ini, ECOWAS memiliki pendanaan sendiri serta penggunaan sumber daya internal sebelum meminta bantuan dari luar. Hal ini diharapkan dapat mempercepat respons terhadap ancaman-ancaman yang muncul.
Menurut laporan Anadolu Agency, aktivasi ECOWAS Standby Force ini dilakukan sebagai tanggapan atas meningkatnya kasus kriminalitas di Afrika Barat. Data dari Global Terrorism Index menunjukkan bahwa lebih dari separuh kasus kematian akibat terorisme pada tahun 2024 terjadi di kawasan Afrika Barat.
Penguatan Kerja Sama AES untuk Stabilitas Nasional
Di sisi lain, Mali, Niger, dan Burkina Faso telah melakukan pertemuan AES di Ougadougou. Mereka sedang mempersiapkan kerja sama tahun kedua untuk memastikan stabilitas di seluruh negara anggota AES. Ketiga negara tersebut mengakui adanya upaya perusakan stabilitas dari kelompok teroris. Mereka juga menyebut adanya dukungan asing untuk merusak integrasi dan kedaulatan yang diinisiasi oleh AES.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap serangan teroris di Bandara Internasional Diori Hamani di Niamey sebulan lalu. Selain itu, terdapat aksi teroris lainnya yang menargetkan Mali dan Burkina Faso.
Serangan Boko Haram di Nigeria
Sebanyak 25 orang tewas dalam serangan Boko Haram di Nigeria. Gubernur Adamawa, Adamu Umaru Fintiri, mengecam serangan brutal yang dilakukan oleh kelompok teroris tersebut. Boko Haram telah melakukan dua serangan terpisah yang menyebabkan kematian 25 orang.
“Sejumlah orang bersenjata diduga sebagai Boko Haram menggunakan sepeda motor menyerang pasar. Mereka membuka tembakan dan membunuh puluhan orang. Kami masih mencari korban lainnya dan kemungkinan jumlahnya akan bertambah,” ujar gubernur tersebut.
Selain itu, kelompok Boko Haram juga melakukan penjarahan dan pencurian berbagai barang, termasuk sepeda motor. Kehadiran kelompok teroris ini membuat sejumlah warga melarikan diri dari daerah tersebut.
Perluasan Tindakan Darurat oleh ECOWAS
ECOWAS telah mendeklarasikan keadaan darurat di seluruh Afrika Barat. PBB dan ECOWAS menyebut bahwa sebanyak 1.900 orang tewas akibat terorisme di kawasan tersebut. Di sisi lain, Mali, Niger, dan Burkina Faso resmi keluar dari ECOWAS, yang menjadi langkah baru dalam dinamika politik dan keamanan di kawasan tersebut.





