Kehancuran yang Mengancam Dunia
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memicu kekhawatiran di seluruh dunia. Ancaman perang, sanksi ekonomi, serta ketidakstabilan geopolitik di kawasan Timur Tengah tampaknya akan terus berlangsung. Hal ini disebabkan oleh ambisi besar AS dalam mencapai kepentingan strategisnya, termasuk energi, stabilitas geopolitik, dan paling utama adalah upaya untuk mempertahankan pengaruh globalnya, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Iran dikenal sebagai salah satu wilayah dengan cadangan minyak terbesar di dunia, yaitu sekitar 24 persen di kawasan Timur Tengah atau 12 persen dari cadangan minyak dunia. Dengan posisi ini, perekonomian dan keamanan energi internasional sangat bergantung pada Iran. Selain itu, Selat Hormuz juga menjadi jalur penting dalam distribusi energi global. Sebanyak 20 persen perdagangan minyak dunia melewati selat ini setiap harinya.
Faktor Energi dan Pengaruh Global
Selain faktor energi, AS juga ingin menunjukkan bahwa mereka masih menjadi negara superpower. Meskipun peta kekuatan dunia saat ini sudah bergeser menuju pola multipolar, yang secara tidak langsung menegaskan bahwa kekuatan AS tidak lagi absolut. Inilah alasan lain mengapa konflik ini terjadi, untuk menunjukkan eksistensi AS.
Konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada dua negara yang terlibat dan sekutunya, tetapi juga secara global. Berikut beberapa efek domino yang mungkin terjadi akibat konflik Iran-AS:
-
Perluasan Konflik di Timur Tengah
Dalam beberapa hari terakhir, pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah menjadi sasaran rudal-rudal Iran, seperti di Qatar dan Bahrain. Dengan melibatkannya beberapa aktor dalam konflik, maka konflik akan berubah menjadi konflik kawasan (perang kawasan). Namun, penulis memprediksi bahwa negara-negara tetangga yang terdampak seperti Qatar, Saudi Arabia, dan Bahrain tidak akan menyerang balik Iran. Hal ini dikarenakan sebagian besar ekspor minyak mereka melewati Selat Hormuz yang menjadi wilayah Iran. Dalam Teori Rational Choice, negara akan bertindak berdasarkan kepentingan nasionalnya. Oleh karena itu, jika Iran diserang, ekspor minyak akan lumpuh, dan ekonomi negara-negara tersebut akan terguncang. -
Krisis Energi Global
Seperti yang disebutkan sebelumnya, dampak paling serius dari konflik Iran-AS adalah ancaman terhadap jalur energi dunia, terutama Selat Hormuz. Jika selat yang selalu ramai dilalui tanker ini terganggu atau ditutup, harga minyak dapat melonjak tajam dan memicu krisis energi global. Faktanya, pada 1 Maret 2026, Pasukan Garda Revolusi Islam Iran menutup jalur Hormuz dan meminta kapal-kapal tanker untuk keluar dari jalur tersebut. Potensinya, lonjakan harga minyak dunia akan terjadi dan tentu akan menganggu stabilitas ekonomi global. -
Perlombaan Senjata dan Ketegangan Militer
Selain krisis energi, konflik ini juga dapat memicu arms race (perlombaan persenjataan) di Timur Tengah. Dengan hadirnya konflik Iran-AS, negara-negara tetangga Iran seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Saudi Arabia akan berupaya memperkuat program militer untuk menjaga keamanan mereka. Selaras dengan Teori Balance of Power (Morgenthau), sebuah negara akan menjaga keseimbangan kekuatan jika merasa terancam, baik dengan beraliansi maupun meningkatkan persenjataannya. Apabila ini terjadi, potensi ketegangan militer di kawasan dalam jangka panjang akan terus berlangsung.
Dampak bagi Indonesia
Untuk Indonesia, konflik ini lambat laun akan berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang pada akhirnya menekan anggaran negara serta mengganggu stabilitas perdagangan global. Sebagai salah satu negara pengimpor energi, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat konflik antara Iran-AS. Artinya, pemerintah perlu memperkuat diplomasi ekonomi dan energi guna memastikan stabilitas pasokan energi dalam negeri.
Langkah itu penting untuk mengantisipasi gejolak harga energi global yang dapat merembet pada inflasi dan tekanan fiskal nasional. Tanpa langkah antisipatif yang tepat, bukan tidak mungkin lonjakan harga minyak dunia akan mendorong kenaikan harga BBM secara tajam dan memicu gejolak ekonomi domestik.
Di sisi lain, Prof. Connie Rahakundini (Guru Besar Hubungan Internasional) menyarankan Presiden Prabowo untuk keluar dari Board of Peace War karena apa yang dilakukan AS saat ini terhadap Iran bukan upaya untuk menjaga perdamaian dunia, malah menciptakan kekacauan dunia. Posisi Indonesia sebagai Wakil Board of Peace harus jelas, mendukung atau menentang AS.
Namun, sebuah seloroh menarik dari Dino Patti Djalal (mantan diplomat dan pengamat hubungan internasional) menyatakan bahwa teman-temannya di Washington bilang kalau serangan AS ke Iran ini hanya untuk mengaburkan kasus Epstein Files yang menyeret nama Donald Trump. Tetapi ini hanya spekulasi.
Akhirnya, konflik Iran-AS menyisakan catatan bahwa ketika sebuah negara superpower berhadapan dengan negara yang memiliki bargain energi, maka yang terjadi adalah negosiasi dan diplomasi. Ketika keduanya buntu, maka cara terakhir adalah perang. Dan, apabila ini terus terjadi, maka stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan global akan terdampak.





