.CO.ID, SHANGHAI — Perkembangan terbaru mengenai balasan Iran atas serangan-serangan Israel dan sejumlah pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan global. Hal yang tidak biasa terjadi adalah bursa saham Shanghai yang justru ditutup pada level tertinggi dalam 10 tahun pada Senin (2/3/2026), berbeda dengan pelemahan bursa regional akibat konflik Iran.
Investor memborong saham-saham dari sektor energi, emas, dan pertahanan. Sentimen pasar domestik didukung oleh ekspektasi bahwa pemerintah Beijing akan turun tangan untuk menstabilkan pasar menjelang pertemuan parlemen yang dijadwalkan akhir pekan ini.
Seperti yang telah diprediksi, indeks Hang Seng di Hong Kong, yang lebih sensitif terhadap volatilitas global, merosot lebih dari 2% ke level terendah dalam dua bulan. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran pada akhir pekan lalu yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memperburuk ketegangan geopolitik dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Indeks Shanghai Composite ditutup menguat 0,5% ke 4.182,6 poin, penutupan tertinggi sejak Juni 2015. Sementara itu, indeks saham unggulan CSI300 naik 0,4%. Kevin Liu, analis strategi di CICC Research, mengatakan bahwa dampak konflik geopolitik kemungkinan hanya bersifat sementara.
“Hal ini tidak mengubah tren utama yang ditentukan oleh fundamental makro,” ujar Liu.
Energi dan Emas Jadi Incaran
Investor memborong saham perusahaan energi China setelah harga minyak melonjak tajam. Saham raksasa migas seperti CNOOC, PetroChina, dan China Petroleum & Chemical Corp. naik signifikan. Saham sektor energi di Hong Kong juga melonjak.
Jeff Mei, Chief Operating Officer bursa kripto BTSE, mengatakan lonjakan harga minyak berpotensi menekan selera risiko investor karena ancaman inflasi yang lebih tinggi dapat mempersulit langkah Federal Reserve AS untuk memangkas suku bunga.
“Dalam situasi konflik, investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas,” ujarnya.
Indeks saham emas China melonjak 7%, sementara saham sektor pertahanan juga mencatat kenaikan tajam. Saham pelayaran ikut menguat. Saham Nanjing Tanker, COSCO Shipping, dan China Merchants Energy Shipping masing-masing melonjak hingga batas kenaikan harian 10%.
Maskapai dan Pariwisata Tertekan
Di sisi lain, saham maskapai dan perusahaan pariwisata China tertekan akibat gangguan perjalanan terkait konflik. Saham Air China turun lebih dari 3% baik di Shanghai maupun Hong Kong. Saham China Southern Airlines dan China Eastern Airlines yang tercatat di daratan juga anjlok.
Di Hong Kong, sektor energi menjadi satu-satunya sektor utama yang berada di zona hijau. Sementara itu, sektor teknologi, kesehatan, dan pariwisata termasuk yang mengalami penurunan terbesar. ETF kripto yang tercatat di Hong Kong juga melemah.
Jeff Ko, kepala analis di bursa kripto CoinEx, mengatakan jika konflik semakin memanas, harga emas diperkirakan tetap kuat sementara bitcoin menjadi lebih rentan. Ia menambahkan, meskipun Beijing kerap turun tangan menopang pasar domestik, Hong Kong sebaliknya “sering bertindak sebagai peredam guncangan”.
Nasib IHSG
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3/2026) sore ditutup turun mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia, seiring pelaku pasar mengalihkan dananya ke aset safe haven, seperti emas hingga obligasi pemerintah.
IHSG ditutup melemah 218,65 poin atau 2,66 persen ke posisi 8.016,83. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 21,87 poin atau 2,62 persen ke posisi 812,49.
“Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, memicu perang terbuka dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset yang berisiko,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.
Selain itu, Ratna mengatakan kenaikan harga minyak mentah juga memicu kekhawatiran terhadap potensi meningkatnya inflasi yang apabila berlangsung lama dapat mendorong potensi kenaikan suku bunga di tingkat global.
“Namun, mayoritas saham-saham terkait energi dan tambang emas membukukan penguatan, sehingga menahan pelemahan IHSG lebih lanjut,” ujar Ratna.
Dari data ekonomi dalam negeri, data inflasi Indonesia meningkat menjadi 0,68 persen month to month (mtm) pada Februari 2026, dari sebelumnya deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026. Inflasi terutama dikontribusikan oleh kenaikan Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau, yang menjadi komoditas penyebab utama andil inflasi di setiap momen Ramadan.
Adapun, inflasi tahunan berakselerasi menjadi 4,76 persen year on year (yoy) pada Februari 2026 dari sebelumnya 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026, serta merupakan level tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan itu disebabkan oleh adanya diskon tarif listrik pada awal 2025 dan telah menekan harga tahun lalu.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan turun menjadi 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026 dari sebelumnya 3,49 miliar dolar AS pada Januari 2025, akibat kenaikan impor sebesar 18,21 persen (yoy) dan ekspor hanya tumbuh 3,39 persen (yoy).
Selanjutnya, data Manufacturing PMI Indonesia masih tumbuh di level 53,8 pada Februari 2026, dari sebelumnya di level 52,6 pada Januari 2026, terutama karena kenaikan permintaan domestik.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, satu sektor menguat yaitu sektor energi yang menguat sebesar 1,70 persen.
Sementara itu, sepuluh sektor terkoreksi dimana sektor barang konsumen non primer turun paling dalam sebesar 7,41 persen, diikuti sektor industri dan sektor infrastruktur yang turun masing-masing minus 5,38 persen dan 4,34 persen.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.652.154 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 56,60 miliar lembar saham senilai Rp29,83 triliun. Sebanyak 108 saham naik, 671 saham menurun, dan 41 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 793,10 poin atau 1,35 persen ke 58.057,19, indeks Shanghai menguat 19,70 atau 0,47 persen ke 4.182,58, indeks Hang Seng melemah 570,68 poin atau 2,14 persen ke 26.059,84, indeks Kuala Lumpur melemah 16,40 poin atau 0,96 persen ke 1.700,21, dan indeks Strait Times melemah 104,20 poin atau 2,09 persen ke 4.890,85.





