Ekonom: Manufaktur dan Pertanian Pendorong Pertumbuhan Ekonomi RI yang Resilien

Aa1x42u0
Aa1x42u0



islamipedia.id.CO.ID, JAKARTA,

– Seorang ekonom utama Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyoroti pentingnya percepatan sektor manufaktur dan pertanian dalam memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan oleh Asmoro pada malam Rabu di Jakarta.

Dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan sektor manufaktur dan pertanian masing-masing mencapai 4,8 persen dan 2,4 persen. Menurut Asmoro, angka tersebut masih jauh dari harapan dan perlu ditingkatkan, terutama di sektor pertanian yang berkaitan langsung dengan program ketahanan pangan pemerintah.

Asmoro memperkirakan bahwa jika sektor pertanian dapat tumbuh hingga 4 persen, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melebihi level 5,5 persen. Selain itu, percepatan kedua sektor ini juga berkontribusi signifikan dalam penyerapan tenaga kerja. Saat ini, mayoritas pekerja di sektor pertanian masih bekerja di sektor informal, sehingga dengan pengelolaan yang tepat, dapat meningkatkan lapangan kerja formal.

Lebih lanjut, Asmoro juga menekankan bahwa percepatan sektor manufaktur dan pertanian dapat meningkatkan pasokan devisa negara. Komoditas pertanian seperti kopi, kakao, kelapa, cengkeh, dan pala, yang memiliki orientasi ekspor kuat, menjadi andalan Indonesia di pasar global.

Pentingnya Pembangunan Merata di Wilayah

Asmoro juga mengkritik ketimpangan kontribusi wilayah di Indonesia terhadap perekonomian nasional. Dalam 40 tahun terakhir, kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) Sumatra dan Kalimantan terhadap total nasional cenderung menurun, meskipun kedua wilayah tersebut merupakan penghasil komoditas utama. Sebaliknya, kontribusi Pulau Jawa terus meningkat.

Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya serius untuk mendorong pembangunan di Sumatra dan Kalimantan agar distribusi pertumbuhan ekonomi lebih merata.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

Mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2026, Asmoro menyebutkan bahwa tantangan utama adalah menjaga momentum pada kuartal II dan III, terutama kuartal III yang biasanya minim sentimen musiman. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025, didorong oleh faktor musiman Ramadhan dan Lebaran, efek low base effect, serta akselerasi belanja pemerintah.

Pos terkait