Ekonomi Non-Tambang NTB Tumbuh 8,54 Persen, BI Dorong Pariwisata dengan Pembiayaan Syariah

Img 20231130 Wa0030
Img 20231130 Wa0030

Pertumbuhan Ekonomi NTB yang Menggembirakan

Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini menunjukkan tren positif yang signifikan, terutama pada sektor non-tambang. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Barat (NTB), Hario Kartiko Pamungkas, saat menghadiri program Ekonomi Talk Tribun Lombok yang digelar di Aula Bank NTB Syariah, Senin (23/2/2026).

Menurut data yang dimiliki BI NTB, pertumbuhan ekonomi non-tambang di NTB pada tahun 2025 mencapai 8,54 persen, jauh melampaui angka pertumbuhan tahun 2024 yang hanya sebesar 3,95 persen. Meskipun pertumbuhan ekonomi total NTB secara keseluruhan tercatat sebesar 3,22 persen, sektor non-tambang menjadi motor penggerak utama yang tumbuh sangat pesat.

Hario menjelaskan bahwa hal ini mendorong Bank Indonesia untuk terus memperkuat kontribusinya, khususnya melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mendukung sektor pariwisata.

“Pertumbuhan ekonomi total NTB tercatat sebesar 3,22%. Namun ternyata pertumbuhan ekonomi tanpa tambang itu di 2025 tercatat sebesar 8,54%. Jadi sangat-sangat jauh bedanya dengan pertumbuhan secara keseluruhan,” ujar Hario.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, Bank Indonesia memfokuskan dukungan pada tiga kelompok komoditas UMKM utama. Berikut adalah tiga komoditas tersebut:

  • Komoditas penyumbang inflasi seperti pangan – Dukungan diberikan untuk memastikan ketersediaan pangan yang stabil dan terjangkau.
  • Komoditas unggulan daerah – Fokus pada produk lokal yang memiliki potensi pasar yang tinggi.
  • Komoditas ekspor yang mendukung sektor pariwisata – Memperkuat ekspor barang-barang yang berkaitan dengan wisatawan.

Lebih lanjut, Hario menegaskan bahwa dukungan terhadap komoditas pendukung pariwisata menjadi prioritas agar sumbangannya terhadap ekonomi NTB semakin besar.

Peran Keuangan Syariah dalam Perekonomian NTB

Selain fokus pada komoditas, potensi keuangan syariah juga dinilai sangat besar dalam menunjang sektor ekonomi kreatif dan desa wisata di NTB. Mengingat julukannya sebagai “Daerah Seribu Masjid”, NTB memiliki ekosistem syariah yang kuat, didukung oleh keberadaan Bank NTB Syariah.

Bank Indonesia kata Hario, saat ini mengambil peran strategis sebagai penghubung atau “makcomblang” untuk menjembatani pelaku UMKM dan pengelola desa wisata dengan lembaga keuangan.

“Kami sendiri di Bank Indonesia itu selama ini berupaya juga untuk menjadi makcomblang antara UMKM termasuk desa wisata dengan lembaga keuangan yang mau membiayai, termasuk ke syariah,” jelasnya.

Melalui upaya pengenalan antara pelaku usaha dan lembaga keuangan ini, diharapkan keberlangsungan desa wisata di NTB dapat terus terjaga melalui dukungan pembiayaan yang tepat sasaran.

Optimisme Masa Depan Ekonomi NTB

Dengan sinergi antara pertumbuhan non-tambang yang pesat dan penguatan ekonomi syariah, Bank Indonesia optimis bahwa NTB dapat terus meningkatkan ketahanan ekonomi daerahnya.


Pos terkait