Faktor Ekonomi Menjadi Penentu Mobilitas Mudik Lebaran 2026
Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi Ki Darmaningtyas menyampaikan bahwa tergerusnya pendapatan riil masyarakat menjadi faktor utama yang berpotensi menekan mobilitas mudik Lebaran 2026. Masyarakat diperkirakan akan lebih selektif dalam merencanakan perjalanan mudik ke kampung halaman tahun ini.
Ia sepakat dengan hasil survei dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang menunjukkan adanya penurunan jumlah masyarakat yang melakukan mudik atau mobilitas pada Lebaran tahun ini. Prediksi tersebut mencatat penurunan sebesar 1,7% dibandingkan survei 2025 dan 6,55% dibandingkan realisasi tahun lalu.
Menurut Darmaningtyas, salah satu kelompok yang terdampak adalah aparatur sipil negara (ASN) yang selama ini menjadi penyumbang utama mobilitas mudik. Kelompok ASN harus melakukan efisiensi akibat pembatasan perjalanan dinas.
“ASN sekarang hanya mengandalkan gaji dan tunjangan kinerja saja sehingga cenderung pas-pasan. Sebelumnya mereka memiliki pendapatan dari perjalanan dinas, dan itulah yang mereka tabung untuk mudik lebaran,” ujarnya.
Selain ASN, pelaku usaha kecil seperti pengelola kantin sekolah juga disebut terdampak oleh penurunan omzet akibat adanya program Makan Berzizi Gratis (MBG). Hal ini membuat ruang untuk menyisihkan tabungan mudik menjadi lebih terbatas.
Banyak Faktor Mempengaruhi Mobilitas
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai ada sejumlah faktor yang menyebabkan potensi penurunan jumlah pemudik. Salah satunya adalah penurunan pendapatan.
Pelemahan tersebut terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) November 2025, yang menunjukkan penurunan upah riil buruh sebesar 0,06% dari periode Agustus 2025. Penurunan sebesar 5,29% juga terjadi pada Februari 2025 dibandingkan Agustus 2024.
“Jadi terus melemah sebetulnya dari sisi pendapatan riil masyarakat dan saya rasa yang lebih banyak mengalami itu kalangan menengah ke bawah. Jadi ini yang menyebabkan faktor penting kenapa ada potensi penurunan mobilitas orang pada Lebaran 2026,” katanya.
Apalagi, menurut Faisal, apabila sebagian perusahaan atau pemberi kerja tidak mampu memberikan THR sebesar yang diharapkan. Kondisi ini berpengaruh terhadap rencana mudik.
Hal tersebut sejalan dengan daya beli masyarakat kalangan menengah ke bawah yang belum terlalu kuat. Meskipun ada peningkatan permintaan dan pengeluaran dalam lima bulan terakhir menjelang Nataru, kondisi ini diperkirakan akan berlangsung sampai Lebaran.
Namun, indeks penjualan ritel masih terdorong oleh belanja dari kalangan menengah atas. Alhasil, sebagian dari mereka terpaksa memilih untuk lebih selektif lagi dalam berbelanja, termasuk untuk keperluan mudik.
Tahun Baru dan Imlek Memengaruhi Waktu Mudik
Selain itu, Faisal melihat masyarakat semakin selektif memilih waktu pulang kampung karena posisi lebaran atau liburan yang berdekatan dengan tahun baru maupun Imlek.
Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi, khususnya pelemahan pendapatan riil dan daya beli, menjadi penentu utama arah mobilitas masyarakat pada mudik Lebaran 2026. Ini berbeda dengan pandangan Menhub Dudy Purwagandhi yang optimistis realisasi perjalanan pemudik akan lebih tinggi.
Data sementara menunjukkan 143,9 juta orang diprediksi melakukan perjalanan, sedikit menurun dibanding 2025 yang mencapai 146,4 juta orang. “Angka prakiraan pergerakan masyarakat pada periode Lebaran 2026 sebesar 143,9 juta orang, atau ada penurunan sekitar 1,75 persen dibandingkan 2025,” katanya.
Namun, Dudy menekankan bahwa realisasi pergerakan masyarakat kemungkinan akan melebihi angka survei. Tahun lalu, misalnya, realisasi jumlah pemudik mencapai 154,6 juta orang.





