JAKARTA – Tekanan ekonomi rumah tangga sepanjang tahun 2025 dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya permintaan terhadap pembiayaan alternatif, termasuk layanan buy now pay later (BNPL). Hal ini terjadi karena peningkatan kebutuhan masyarakat tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan yang signifikan.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyatakan bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun yang berat bagi kondisi ekonomi masyarakat. Kebutuhan masyarakat meningkat, namun pendapatan relatif stagnan, sementara permintaan terhadap barang dan jasa cenderung lesu.
“Tahun 2025 merupakan tahun yang sangat berat bagi ekonomi masyarakat kita. Kebutuhan naik, tetapi pendapatan tidak mengikuti. Permintaan barang juga lesu. Akibatnya, kebutuhan akan pembiayaan meningkat secara tajam,” ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, perbankan justru melakukan pengetatan atau pengurangan pemberian pembiayaan secara masif. Bahkan, pembiayaan untuk segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat mengalami pertumbuhan negatif.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencari sumber pembiayaan alternatif di luar perbankan. Salah satu opsi yang diminati adalah layanan BNPL, baik untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier.
“Masyarakat kini lebih mencari pembiayaan alternatif. Salah satunya melalui BNPL, termasuk untuk kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier. Kebutuhan masyarakat juga bervariasi, mulai dari sandang dan pangan hingga tiket konser,” jelas Nailul.
Ia juga menambahkan bahwa karakteristik pengguna BNPL kini semakin beragam. Layanan ini tidak lagi hanya identik dengan kalangan anak muda, tetapi juga telah digunakan oleh kelompok usia dewasa.
“Karakteristik nasabah BNPL sudah mulai beragam. Tidak hanya untuk anak muda, orang dewasa juga mulai menggunakan BNPL untuk memenuhi kebutuhannya. Semakin merata jumlah orang yang membutuhkan layanan ini,” katanya.
Nailul juga mencermati bahwa berdasarkan data pencarian, kata kunci BNPL menunjukkan minat yang lebih tinggi dibandingkan pembiayaan alternatif lainnya.
Memasuki tahun 2026, ia memperkirakan permintaan terhadap BNPL akan mulai melandai. Namun, pertumbuhannya masih diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pembiayaan perbankan.
Sebagai informasi, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp 11,24 triliun pada November 2025, atau tumbuh sebesar 68,61% secara tahunan (year on year/YoY).
Sementara itu, tingkat non performing financing (NPF) gross BNPL tercatat sebesar 2,78% per November 2025, yang menunjukkan peningkatan dibandingkan posisi Oktober 2025 yang sebesar 2,79%.





