Tradisi berbuka puasa di Indonesia sedang mengalami perubahan yang cukup signifikan. Dulu, menu takjil sering kali identik dengan hidangan klasik seperti kolak, es buah, atau gorengan. Namun, kini masyarakat semakin memandang momen berbuka sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi kuliner dengan cara yang lebih kreatif dan personal. Salah satu tren yang semakin populer adalah mixology rumahan, yaitu aktivitas meracik minuman dengan teknik dan konsep layaknya bartender atau barista, tetapi dilakukan di rumah sendiri.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda dan keluarga urban yang mencari pengalaman berbuka yang lebih interaktif dan unik. Minuman tidak lagi hanya sekadar menghilangkan dahaga, tetapi juga menjadi medium ekspresi kreatif. Mulai dari eksperimen rasa hingga penyajian visual yang menarik, semua menjadi bagian dari proses berbuka yang lebih bermakna.
Chef dan entrepreneur Putri Miranti melihat tren ini berkembang pesat seiring meningkatnya akses masyarakat terhadap referensi kuliner melalui media sosial. Menurutnya, banyak orang ingin memiliki minuman yang tidak hanya lezat, tetapi juga estetik dan mudah dibuat sendiri. “Sekarang orang ingin pengalaman ala kafe di rumah. Padahal tekniknya sebenarnya tidak sulit,” ujarnya pada pertengahan Februari 2026 di Jakarta.
Salah satu teknik yang banyak diminati adalah layering, yaitu menyusun lapisan minuman berdasarkan berat jenis cairan agar menghasilkan tampilan visual berlapis dengan warna yang kontras. Teknik ini sering terlihat pada minuman modern yang populer di kafe atau konten media sosial. Menurut Putri, prinsip layering cukup sederhana. Cairan yang memiliki densitas lebih tinggi ditempatkan di bagian bawah, sedangkan cairan yang lebih ringan ditambahkan secara perlahan di atasnya. Penggunaan sendok terbalik saat menuang juga bisa membantu menjaga lapisan tetap terpisah.
Selain teknik, aspek visual juga sangat penting dalam popularitas minuman kreatif. Warna yang vibrant dan kontras dinilai mampu meningkatkan daya tarik, terutama bagi generasi yang terbiasa berbagi pengalaman kuliner melalui platform digital. Namun, di balik tampilan yang menarik, keseimbangan rasa tetap menjadi kunci utama. Putri menyarankan agar eksplorasi tidak berlebihan. “Idealnya empat sampai lima bahan saja. Kalau terlalu banyak campuran, karakter rasa bisa hilang,” katanya.
Ia juga mendorong penggunaan konsep tema rasa, seperti tropical atau citrus, agar setiap komponen memiliki harmoni yang jelas. Buah segar, misalnya, dapat memberikan dimensi rasa sekaligus tekstur yang berbeda. Menariknya, tren mixology rumahan juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan. Banyak konsumen mulai menambahkan bahan yang memiliki nilai gizi tambahan, seperti buah segar atau chia seed yang kaya serat.
Perubahan perilaku ini turut memengaruhi strategi brand minuman yang mulai menghadirkan kampanye berbasis kreativitas konsumen. Salah satu contohnya adalah kembalinya varian FANTA Fruit Punch yang diposisikan sebagai basis eksperimen minuman kreatif selama Ramadan. Brand tidak lagi hanya menawarkan produk, tetapi juga pengalaman yang mendorong partisipasi, seperti kegiatan mixology bersama atau tantangan kreasi minuman.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga ruang inovasi sosial di mana tradisi lama beradaptasi dengan gaya hidup modern. Aktivitas berbuka kini tidak hanya tentang makanan, tetapi juga tentang pengalaman bersama, kreativitas, dan identitas personal. Di tengah perubahan tersebut, mixology rumahan menjadi simbol bagaimana generasi baru memaknai ulang tradisi dengan menggabungkan nostalgia berbuka puasa dengan eksplorasi rasa yang lebih kontemporer.





