Peningkatan ekspor minyak sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekspor CPO melonjak hingga 59,63% secara tahunan, mencapai US$ 2,29 miliar. Lonjakan ini turut berkontribusi pada kenaikan total nilai ekspor nasional sebesar 3,39% dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.
“Nilai ekspor pada Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar, meningkat 3,39% dibandingkan Januari 2025,” ujar Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (2/3).
Menurut Ateng, peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan ekspor nonmigas, terutama dari beberapa komoditas utama. Diantara komoditas tersebut, CPO dan turunannya menjadi salah satu yang paling signifikan. Selain itu, besi dan baja serta batu bara juga memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan ekspor.
Tiga komoditas unggulan tersebut memberikan kontribusi sebesar 29,31% terhadap total ekspor nonmigas pada Januari 2026. Khusus untuk CPO dan turunannya, volume ekspor naik drastis sebesar 77%, dari 1,44 juta ton pada Januari 2025 menjadi 2,29 juta ton pada Januari 2026. Meskipun demikian, harga CPO secara tahunan masih mengalami penurunan sebesar 6,77%. Namun, terdapat indikasi perbaikan harga CPO secara bulanan dengan kenaikan sebesar 1,81%.
Di sisi lain, ekspor besi dan baja mengalami penurunan tipis sebesar 0,13% secara tahunan, sedangkan ekspor batu bara mengalami penurunan lebih dalam, yaitu 16,04% dibandingkan tahun sebelumnya.
Ateng menjelaskan bahwa berdasarkan golongan barang (HS), lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) mengalami kenaikan sebesar 46,05% dan memberikan andil sebesar 4,61% terhadap kenaikan total ekspor. Komoditas ini menjadi penyumbang terbesar peningkatan ekspor pada Januari 2026.
Selain itu, nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 42,04% dengan andil 1,43%, serta mesin dan perlengkapan elektronik serta bagiannya (HS 85) naik 16,27% dengan andil sekitar 1%.
Dari sisi sektoral, ekspor nonmigas Januari 2026 tercatat sebesar US$21,26 miliar. Dalam rincian sektoral, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatatkan nilai ekspor sebesar US$0,44 miliar, sektor pertambangan dan lainnya sebesar US$2,32 miliar, serta industri pengolahan sebesar US$18,51 miliar.
“Peningkatan nilai ekspor nonmigas utamanya terjadi pada sektor industri pengolahan yang naik 8,19% secara year on year dengan andil 6,54%,” kata Ateng. Kenaikan sektor ini didorong oleh ekspor minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, semikonduktor, komponen elektronik lainnya, serta kendaraan bermotor roda empat atau lebih.
Sementara itu, sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 20,36% dan sektor pertambangan dan lainnya turun 14,59% secara tahunan.





