Peningkatan Ekspor Industri Pengolahan Jadi Penopang Kinerja Ekspor Nonmigas
Pada Januari 2026, nilai ekspor industri pengolahan mencapai angka sebesar US$18,51 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 8,19% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu US$17,11 miliar. Hal ini menjadi bantalan terhadap kinerja ekspor nonmigas secara keseluruhan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa di awal tahun 2026, kinerja ekspor industri pengolahan tergolong baik. Namun, di sisi lain, ekspor dari sektor pertanian/perkebunan dan pertambangan mengalami penurunan.
Dari data BPS, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perkebunan turun hingga 20,36% secara tahunan menjadi US$0,44 miliar pada Januari 2026. Sementara itu, ekspor pertambangan dan sektor lainnya juga mengalami penurunan sebesar 14,59% menjadi US$2,32 miliar.
Amalia menjelaskan bahwa beberapa produk industri yang tumbuh pesat antara lain adalah produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semi konduktor, serta kendaraan bermotor. Selain itu, produk timah dan olahannya juga melonjak hingga 191,38% secara tahunan menjadi US$135,32 juta pada Januari 2026. Peningkatan ini disebabkan oleh larangan ekspor bijih timah yang memengaruhi tumbuhnya ekspor produk olahan timah.
Tiga Negara Utama sebagai Pasar Ekspor Nonmigas
Dari sisi tujuan ekspor, tiga negara utama yang menjadi pasar bagi ekspor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah China, Amerika Serikat (AS), dan India. Ketiga negara tersebut memberikan kontribusi gabungan sebesar 43,77%.
Data menunjukkan bahwa China menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor sebesar US$5,27 miliar atau sebesar 24,80%. Diikuti oleh AS dengan nilai US$2,51 miliar (11,82%) dan India dengan nilai US$1,52 miliar (7,15%).
Secara lebih rinci, total ekspor nonmigas ke AS pada Januari 2026 mencapai US$2,82 miliar atau meningkat sebesar 13,60% dibandingkan Januari 2025. Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar atau naik 18,21% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Impor nonmigas tercatat sebesar US$18,04 miliar atau tumbuh 16,71% dibandingkan Januari 2025, sedangkan impor migas meningkat 27,52% menjadi US$3,17 miliar.
Kenaikan Impor Didorong Oleh Bahan Baku dan Barang Modal
Dari sisi penggunaannya, kenaikan impor terutama didorong oleh bahan baku/penolong yang mencapai US$14,88 miliar atau naik 14,67% secara tahunan. Senada dengan itu, impor barang modal juga melonjak 35,23% menjadi US$4,49 miliar.
Amalia menjelaskan bahwa peningkatan impor bahan baku/penolong dan barang modal mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik serta investasi pada sektor riil. Kedua kelompok barang ini umumnya digunakan untuk mendukung proses produksi industri dan ekspansi usaha.
Tiga Negara Utama Sebagai Sumber Impor Nonmigas
Adapun tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah China, Australia, dan Jepang dengan total kontribusi 54,90%. China masih menjadi negara utama dengan nilai impor mencapai US$7,89 miliar (43,71%). Diikuti oleh Australia dengan nilai US$1,07 miliar (5,93%) dan Jepang dengan nilai US$0,95 miliar (5,26%).





