Ekspor Mobil ke Timur Tengah Tertunda, Daihatsu Menunggu Arahan Pusat

Aa1xnkmv 1
Aa1xnkmv 1



JAKARTA – PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengungkapkan dampak konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS) terhadap kinerja ekspor mobil perseroan.

Beberapa negara di kawasan Timur Tengah menjadi pasar utama bagi produk Daihatsu, seperti Qatar, Oman, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Lebanon, dan Kuwait. Salah satu model yang paling diminati adalah Raize, yang diproduksi di pabrik Daihatsu di Karawang.

Direktur Marketing dan Corporate Communication PT ADM, Sri Agung Handayani mengakui adanya kendala logistik akibat konflik di kawasan tersebut. Menurutnya, situasi ini memicu perseroan untuk mempertimbangkan penggunaan jalur alternatif dalam pengiriman kendaraan ke sejumlah negara di wilayah tersebut.

“Kami saat ini masih mempertimbangkan jalur pengiriman alternatif untuk kendaraan yang sudah dipesan,” ujar Sri Agung di Wisma Bisnis Indonesia, Senin (2/3/2026).

Terkait hal tersebut, ADM saat ini sedang berdiskusi intensif dengan prinsipal Daihatsu Motor Co., Ltd, Jepang, sambil menunggu arahan lebih lanjut.

“Sejauh ini kami masih terus berdiskusi dan menunggu konfirmasi dari prinsipal,” jelasnya.

Pada 2025, Daihatsu telah mengekspor kendaraan utuh (CBU) lebih dari 124.000 unit, meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya sekitar 110.000 unit. Total ekspor ADM mencakup beberapa model kendaraan kolaborasi ke lebih dari 60 negara di dunia, termasuk negara-negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.

Tiga negara terbesar sebagai destinasi ekspor ADM adalah Filipina dengan kontribusi 34,8%, disusul Jepang sebesar 9,7% dan Meksiko sebesar 8,6%.

Konflik di Iran semakin memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026), yang mengakibatkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang telah memerintah selama lebih dari tiga dekade.

Potensi gangguan akibat perang ini tidak hanya terjadi di tingkat regional, tetapi juga berisiko mengganggu rantai pasok global. Risiko kenaikan harga minyak dunia, hambatan jalur logistik, serta krisis pasokan chip semikonduktor yang memengaruhi industri otomotif global, termasuk Indonesia, menjadi ancaman yang harus diwaspadai.

Berikut beberapa risiko yang mungkin terjadi akibat konflik di kawasan Timur Tengah:

  • Kenaikan harga minyak: Perang dapat menyebabkan ketidakstabilan pasokan minyak, yang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar secara global.
  • Hambatan logistik: Jalur pengiriman barang bisa terganggu, terutama jika rute laut atau darat terkena dampak langsung dari konflik.
  • Krisis pasokan komponen: Pasokan chip semikonduktor yang penting untuk produksi kendaraan modern bisa terganggu, terutama jika pabrik-pabrik produsen komponen berada di daerah yang terlibat dalam konflik.

Dengan situasi yang semakin memburuk, ADM dan perusahaan otomotif lainnya di Indonesia harus bersiap menghadapi tantangan baru dalam operasional bisnis mereka.

Pos terkait