Kehilangan Dua Sapi, Harapan Pendidikan Anak Terguncang
Pada hari Minggu, 1 Maret 2026, sebuah musibah besar menimpa Eman Rukmana (45), seorang warga Dusun Cidadap, Desa Cimerak, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Dua ekor sapi besar miliknya mati setelah terperosok ke dalam lubang gua di kebunnya sendiri. Kejadian ini tidak hanya mengguncang hatinya, tetapi juga meruntuhkan harapan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun.
Bagi Eman, dua sapi tersebut bukan sekadar hewan ternak. Mereka merupakan simbol kerja keras dan tabungan masa depan. Selama ini, ia merawat keduanya dengan penuh kesabaran, memberi makan, membersihkan kandang, dan memastikan keduanya tumbuh sehat. Tujuan utamanya adalah untuk mengumpulkan biaya pendidikan anaknya yang ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
Peristiwa yang Menyedihkan
Musibah itu terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB. Istri Eman berangkat ke kandang sapi yang letaknya cukup jauh dari rumah. Niatnya sederhana, yaitu memberi pakan seperti biasa. Namun saat sampai di kandang, keduanya sudah tidak ada. Awalnya, Eman menduga ada pencurian, namun kecurigaan itu cepat berubah.
Bekas telapak kaki sapi yang masih jelas terlihat di tanah membawa Eman menelusuri jejak itu. Di lokasi, ia menemukan lubang gua yang sempit dan dalam. Kedua sapi malang itu terperosok ke dalam gua dan terjepit. Satu ekor mati di tempat, sedangkan satu lainnya masih hidup, tetapi dalam kondisi terdesak dan sulit bergerak.
Proses Evakuasi yang Berat
Tanpa pikir panjang, Eman segera mengabarkan kejadian tersebut kepada tetangganya. Puluhan warga Dusun Cidadap langsung berdatangan untuk membantu. Meski semangat gotong royong menjadi penguat, proses evakuasi sangat sulit. Lubang gua yang sempit dan dalam membuat warga kesulitan mengangkat tubuh sapi yang besar dan berat.
“Posisi gua kecil dan dalam, itu yang membuat kami sulit mengevakuasi. Kondisi satu sapi mati di tempat, satu lagi masih hidup dan bisa disembelih,” ujar Eman. Akhirnya, karena kondisi yang semakin menyulitkan dan untuk menghindari penderitaan lebih lama, sapi yang masih hidup terpaksa disembelih di dalam goa. Keputusan itu diambil dengan berat hati.
Seorang warga yang ikut membantu, Asep, mengatakan bahwa dirinya mendapat kabar sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung menuju lokasi. “Setelah dapat kabar, kami langsung ke lokasi dan membantu evakuasi. Sapinya besar-besar jadi susah. Evakuasi baru berhasil pukul 13.31 WIB,” katanya.
Kesedihan yang Tak Bisa Terlupakan
Berjam-jam tenaga dan kebersamaan warga akhirnya mampu mengangkat bangkai dan daging sapi dari dalam gua. Namun, yang tak bisa diangkat adalah beban kesedihan di hati Eman. Dua sapi itu bukan sekadar ternak. Salah satunya sudah direncanakan untuk dijual sebagai modal biaya kuliah anaknya. Kini, rencana itu runtuh bersama tubuh-tubuh besar yang terperosok di dasar goa.
“Itu rencananya sapi untuk modal anak saya kuliah. Tapi kami tetap bersabar. Semoga tergantikan dan ada rezekinya untuk menyekolahkan anak saya ke lebih tinggi,” ucap Eman dengan rasa sedih namun mencoba tegar.





