Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Konflik Timur Tengah

Aa1x5auz 3
Aa1x5auz 3

Harga Emas Menguat Akibat Kekhawatiran Konflik di Timur Tengah

Harga emas mengalami peningkatan pada perdagangan Senin (2/3/2026) karena meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang memicu ketegangan geopolitik yang semakin memburuk.

Ketegangan tersebut kembali mendorong minat investor untuk membeli emas sebagai aset lindung nilai (safe-haven). Berdasarkan laporan Reuters, harga emas spot naik sebesar 0,4% menjadi US$ 5.297,31 per ons pada pukul 18.31 Waktu setempat. Meskipun kenaikan ini sempat terpangkas akibat aksi ambil untung, harga emas tetap berada dekat rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 5.594,82 yang tercatat pada 29 Januari.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat sebesar 1,2% di level US$ 5.311,60 per ons. Namun, indeks dolar AS naik sekitar 1%, sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menilai bahwa pasar masih diliputi ketidakpastian terkait kelanjutan serangan di kawasan tersebut. Menurutnya, ketidakjelasan arah konflik dalam beberapa pekan ke depan berpotensi terus menopang harga emas.

Kenaikan Harga Emas Didorong oleh Pembelian Agresif Bank Sentral

Ketegangan meningkat setelah perang udara AS-Israel terhadap Iran meluas. Israel dilaporkan menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk. Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut akan ada gelombang besar serangan lanjutan, meski tanpa merinci waktu dan sasarannya.

Dampak konflik juga terasa di pasar energi. Harga minyak dan gas melonjak setelah sejumlah fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah ditutup, serta terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz yang strategis.

Analis di SP Angel menyebut meningkatnya fragmentasi geopolitik mendorong bank sentral negara-negara BRIC mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS dan beralih ke emas. Tren ini diperkirakan akan berlanjut. BNP Paribas memproyeksikan permintaan investasi emas fisik akan menjadi pendorong utama pasar emas sepanjang tahun ini.

Emas Melonjak Hampir 23% Sepanjang Tahun Ini

Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah melonjak hampir 23%, melanjutkan reli kuat setelah naik 64% pada 2025. Kenaikan tersebut didorong oleh pembelian agresif bank sentral, arus masuk besar ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), serta ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih longgar.

Dari sisi pasokan fisik, arus emas masuk dan keluar dari pusat perdagangan emas batangan Dubai diperkirakan akan sangat terbatas dalam beberapa hari ke depan. Pembatasan ini terjadi setelah sejumlah maskapai membatalkan penerbangan akibat aksi pemogokan, menurut sumber industri logam.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya Cenderung Melemah

Pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi AS pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, serta data penggajian non-pertanian. Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya cenderung melemah.

Harga perak spot turun tajam 5,7% menjadi US$88,46 per ons setelah menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari. Harga platinum spot merosot 2,7% ke US$2.300,50 per ons, sedangkan paladium turun 0,9% menjadi US$1.770,66 per ons.

Pos terkait