Inflasi Emas Perhiasan Terus Berlanjut Selama 30 Bulan
Emas perhiasan tercatat mengalami inflasi secara bulanan (month-to-month) selama 30 bulan berturut-turut sejak September 2023 hingga Februari 2026. Hal ini menunjukkan tren kenaikan harga yang signifikan pada komoditas tersebut dalam jangka waktu yang cukup panjang. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan bahwa dalam struktur Indeks Harga Konsumen (IHK) nasional, emas perhiasan masuk dalam Kelompok Pengeluaran Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
“Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi salah satu kelompok utama penyumbang inflasi pada Februari 2026,” ujar Ateng di Jakarta, Senin.
Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 2,55 persen secara bulanan dengan andil terhadap inflasi mencapai 0,19 persen pada Februari 2026. “Tingkat inflasi kelompok ini lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah emas perhiasan,” kata Ateng.
Kenaikan Harga Emas yang Signifikan
Ateng menjelaskan, inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 tercatat sebesar 8,42 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,19 persen. Ia menilai kenaikan tersebut sejalan dengan lonjakan harga emas di pasar internasional.
Berdasarkan data yang diolah dari World Bank Commodity Price Data (The Pink Sheet) dan Bloomberg, tren kenaikan harga emas terus berlanjut hingga awal 2026 dan kembali menembus rekor tertinggi pada Februari. Harga emas pada Februari 2026 tercatat mencapai 5.019,97 dolar AS per troy ounce atau sekitar Rp84,48 juta (kurs Senin pagi Rp16.829 per dolar AS). Level tersebut meningkat signifikan dibandingkan pertengahan 2024. Pada Juli 2024, harga emas internasional masih berada di kisaran 2.398 dolar AS per troy ounce atau sekitar Rp40,36 juta.
“Artinya, harga emas meningkat hampir lebih dari dua kali lipat,” ujar Ateng.
Tingkat Inflasi Umum Indonesia pada Februari 2026
BPS mencatat inflasi umum Indonesia pada Februari 2026 sebesar:
- 4,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy)
- 0,68 persen secara bulanan (month-to-month/mtm)
- 0,53 persen secara tahun kalender (year-to-date/ytd)
Ateng memproyeksikan tingkat inflasi secara tahunan (yoy) kembali normal pada April 2026 setelah efek basis rendah (low base effect) berakhir. Ia mengatakan efek tersebut memicu lonjakan tingkat inflasi tahunan pada Januari-Februari 2026 dan diprediksi akan berakhir pada Maret 2026.
“Low base effect masih akan tetap mempengaruhi inflasi tahunan di Maret, namun dimungkinkan berakhir pada Maret juga, sehingga pada April 2026 nanti angka inflasinya relatif stabil kembali, tidak ada low base effect-nya,” katanya di Jakarta, Senin.
Penjelasan Mengenai Efek Basis Rendah
Ateng menyampaikan, fenomena low base effect tersebut terjadi karena kebijakan insentif pemerintah yang diberikan pada tahun sebelumnya. Pada Januari-Februari 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen bagi pelanggan rumah tangga secara luas. Diskon masif tersebut menekan angka indeks harga konsumen (IHK) secara signifikan, sehingga mendorong perekonomian nasional pada saat itu mengalami deflasi.
Posisi IHK yang rendah tersebut kemudian menjadi titik perbandingan untuk menghitung inflasi tahun ini.
Batangan emas dipajang di sebuah toko perhiasan di emirat Teluk Sharjah, Uni Emirat Arab. – (EPA/ALI HAIDER)
“Penurunan IHK tersebut menyebabkan level harga pada Januari dan Februari di tahun 2025 berada di bawah pola tren normalnya,” ujar Ateng.
Ia menuturkan dampak dari tingkat inflasi yang terlampau rendah pada awal 2025, bahkan hingga terjadi deflasi, akibat kebijakan diskon tarif listrik tersebut sangat terasa ketika dilakukan perbandingan IHK secara tahunan di bulan yang sama pada awal 2026. Akibat basis indeks pembanding tahun sebelumnya terlalu kecil dan sedang tidak dalam tren normalnya, maka kenaikan persentase nilai inflasi tahunan pada tahun ini otomatis meningkat signifikan.
Hal tersebut menyebabkan inflasi pada Januari dan Februari 2026, yang masing-masing tercatat 3,55 persen yoy dan 4,76 persen yoy, terlihat sangat tinggi. “Meskipun demikian, (dinamika) harga relatif sejalan dengan tren fundamentalnya. Artinya, bulan-bulan kedepannya, nanti pada April dan selanjutnya di 2026 kembali pada tren normal,” ucap Ateng.





