Emiten siap lakukan right issue Maret: BUVA, BNBR, JGLE, MPPA mana yang menarik?

Aa1myanc
Aa1myanc



Aksi korporasi berupa rights issue kembali menjadi perhatian utama di pasar modal pada Maret 2026. Banyak emiten memanfaatkan momentum awal tahun untuk memperkuat struktur permodalan melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Langkah ini dilakukan dalam rangka menghadapi kebutuhan likuiditas, ekspansi bisnis, hingga restrukturisasi kewajiban yang jatuh tempo.

Dari sektor teknologi hingga ritel, daftar emiten yang menggelar rights issue terbilang beragam. Beberapa contohnya adalah PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) yang membidik dana triliunan rupiah, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dengan rencana penerbitan saham jumbo, hingga PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang menargetkan perolehan dana hingga Rp 6,5 triliun. Selain itu, ada juga PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) yang menyiapkan rights issue untuk mendukung aksi akuisisi.

Tak hanya itu, emiten lain seperti PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), hingga PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) juga masuk dalam antrean aksi serupa. Motif rights issue pun beragam, mulai dari modal kerja, belanja modal, pembayaran utang kepada pihak terafiliasi, sampai akuisisi aset properti.

Bagi investor ritel, momentum rights issue kerap menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi, aksi ini bisa menjadi peluang masuk di harga tertentu atau mendukung ekspansi jangka panjang emiten. Namun di sisi lain, risiko dilusi dan ketidakpastian penggunaan dana juga perlu dicermati. Lantas, dari deretan rights issue Maret ini, mana yang paling menarik untuk diperhatikan?

PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX)

Folago (IRSX) berencana untuk menerbitkan HMETD sebanyak 12.390.094.754 saham biasa dengan nominal Rp 15 setiap saham yang mewakili sebanyak 66,67% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah PMHMETD. Setiap pemegang 1 saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada 18 Februari 2026 pukul 16.00 WIB berhak memperoleh 2 HMETD. Setiap 1 HMETD memberikan hak untuk membeli 1 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp300 per saham. Melalui aksi korporasi ini, IRSX menargetkan perolehan dana sekitar Rp 3,71 triliun.

Berikut jadwal PMHMETD I:

– Tanggal Efektif: 25 Februari 2026

– Cum HMETD di Pasar Reguler & Negosiasi: 5 Maret 2026

– Recording Date (DPS yang berhak): 9 Maret 2026

– Periode Perdagangan & Pelaksanaan HMETD: 11 – 17 Maret 2026

– Penjatahan Saham Tambahan: 26 Maret 2026

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA)

Emiten properti milik Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Tbk (BUVA) akan menerbitkan sebanyak 50 miliar saham baru atau sebanyak maksimum 203,11% senilai Rp 50 per saham. Manajemen mengungkapkan pemegang saham BUVA akan terdampak bila tidak mengikuti rights issue. Perusahaan memperkirakan potensi dilusi maksimal 67,01% dari jumlah kepemilikannya saat ini. Dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha dan untuk pembayaran utang perseroan serta anak usahanya.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)

Kemudian Emiten Grup Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), menargetkan bisa meraup dana hingga Rp 6,5 triliun lewat aksi rights issue. BNBR berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 90 miliar saham baru seri E dengan nilai nominal Rp 12 per saham. Aksi korporasi ini juga berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan saham hingga maksimal 33,33% bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya. Direktur Utama Bakrie & Brothers, Anindya Novyan Bakrie, menyampaikan harga pelaksanaan pasti aksi korporasi itu pada 9 Maret 2026 mendatang. Namun, berdasarkan keterbukaan informasi BEI, asumsi harga pelaksanaan itu adalah Rp 50 per saham.

PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE)

Lalu emiten milik Grup Bakrie lainnya, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) mengumumkan rights issue sebanyak 8,28 miliar saham. Rights issue saham baru itu menggunakan seri B bernilai nominal Rp 10 per saham ditawarkan dengan harga pelaksanaan Rp 50 per saham. Dari aksi ini JGLE berpotensi meraup dana sebesar Rp 414 miliar. Seluruh dana hasil aksi korporasi itu, sebesar Rp 413,93 miliar dialokasikan untuk mengakuisisi 14,78 miliar saham PT Jungleland Asia (JLA) yang dimiliki oleh PT Adiprotek Envirodunia (AE) atau setara 61,86% dari total saham ditempatkan dan disetor penuh JLA.

PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII)

Emiten asuransi PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) berencana untuk menerbitkan maksimal 684,93 juta saham baru. Mengacu pada keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), YOII berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 684.937.500 saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Dana hasil itu akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Melalui aksi ini, berpotensi menyebabkan dilusi hingga maksimal 16,67% bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya.

PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)

Emiten pelayaran PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 9 Maret 2026. Dalam agenda itu, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham terkait rencana rights issue untuk menerbitkan maksimal 2,03 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Jumlah tersebut mewakili 27,39% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue.

PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA)

PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) berencana menambah modal dengan menerbitkan sebanyak 1 miliar saham baru dengan pembeli siaga yakni Ibnu Susanto selaku pengendali serta PT Sarana Steel (SS) sebagai pihak terafiliasi. Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk melunasi sebagian utang kepada SS. Manajemen BAJA mengungkapkan total utang perseroan kepada SS mencapai Rp 445,33 miliar yang terdiri dari utang pokok Rp 317,56 miliar atau setara US$ 20 juta dan bunga Rp 127,76 miliar.

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA)

Emiten ritel dari Lippo Group, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) akan menerbitkan sebanyak 24 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 50 per saham. Dana yang diperoleh dari rights issue tersebut rencananya akan digunakan untuk mengakuisisi sejumlah aset properti. Berdasarkan keterbukaan informasi, pemegang saham utama MPPA yakni PT Multipolar Tbk (MLPL) menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya dalam PMHMETD VIII.

Pos terkait