Olahraga Berkuda di Indonesia Memasuki Fase Baru
Olahraga berkuda di Indonesia kini memasuki fase baru, dengan proyeksi yang lebih luas. Tidak hanya sebagai kekuatan prestasi, olahraga ini juga menjadi penggerak industri berbasis peternakan, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Di bawah payung Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi), empat federasi nasional bekerja sama menyusun peta jalan pembinaan hingga 2026. Tujuannya adalah memperluas partisipasi, meningkatkan kualitas kompetisi, serta membangun ekosistem yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Berkuda Memanah: Tradisi yang Menjadi Prestasi
Federasi Nasional Pordasi Berkuda Memanah menjadi salah satu motor pertumbuhan olahraga ini. Cabang ini menggabungkan nilai historis, olahraga sunah, serta pendekatan kompetitif modern. Sejak berkembang pada 2017–2018 dan resmi bergabung dengan Pordasi pada 2020, pertumbuhannya terbilang pesat. Saat ini, keanggotaannya telah mencakup 17 provinsi dan berpotensi terus bertambah. Agenda 2026 pun padat, mulai dari Liga Santri Indonesia di berbagai daerah, Kejuaraan Nasional, hingga Asian Horseback Archery Championship pada Oktober mendatang.
Strategi pembinaan diperluas ke sekolah, perguruan tinggi, hingga pesantren. Tak hanya itu, penggunaan kuda lokal mulai digalakkan untuk menekan biaya pembinaan, tanpa mengesampingkan standar kompetisi. Langkah ini membuka peluang ekonomi baru bagi peternak domestik.
Pacu Kuda: Genetik Terjaga, Industri Digerakkan
Sementara itu, Federasi Nasional Pordasi Pacu menitikberatkan konsistensi kualitas dan penguatan industri. Kuda Pacu Indonesia (KPI) yang berlaga saat ini merupakan hasil persilangan terencana sejak lama, dengan garis keturunan thoroughbred yang terus dijaga hingga generasi kesembilan. Sistem kompetisi terbagi dua: pacu prestasi dengan standar ketat, dan pacu tradisional yang memberi ruang pada kuda lokal. Model ini menjaga keseimbangan antara kualitas dan partisipasi daerah.
Besarnya potensi ekonomi juga terlihat dari antusiasme publik. Pada PON XXI di Takengon, Aceh Tengah, pacuan kuda mampu menarik sekitar 120 ribu penonton. Angka tersebut menjadi bukti bahwa pacu kuda bukan sekadar olahraga, tetapi juga magnet pariwisata dan UMKM.
Equestrian: Siapkan Atlet Menuju PON 2028
Di sektor olahraga Olimpiade, Federasi Nasional Pordasi Equestrian fokus memperkuat sistem pembinaan dan profesionalisme organisasi. Empat disiplin utama yakni show jumping, dressage, eventing, dan endurance—menjadi prioritas pengembangan. Pembinaan dilakukan tidak hanya kepada atlet dan kuda, tetapi juga perangkat pertandingan seperti juri dan steward.

Persiapan menuju PON XXII/2028 NTT-NTB telah dimulai. Rencananya, cabang berkuda akan menggunakan fasilitas Jakarta International Equestrian Park Pulomas sebagai venue dalam skema provinsi penyangga. Pendekatan pembinaan berjenjang dan berkesinambungan diharapkan mampu menjaga daya saing atlet Indonesia di level nasional maupun internasional.
Polo: Sport Tourism dan Diplomasi Olahraga
Adapun Federasi Nasional Pordasi Polo Indonesia menempatkan polo sebagai cabang strategis berbasis industri dan pariwisata. Pengembangan tidak berhenti pada pembentukan tim. Federasi mendorong breeding kuda lokal, peningkatan kualitas atlet, hingga pembangunan model kompetisi yang adaptif dan menarik publik. Dengan karakter olahraga yang eksklusif dan visual, polo dinilai memiliki daya jual tinggi untuk sport tourism.
Lanskap alam Indonesia, mulai dari kawasan pantai hingga urban premium, dinilai mampu menjadi panggung event internasional sekaligus sarana diplomasi olahraga.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Kompetisi
Langkah empat federasi ini menunjukkan arah baru olahraga berkuda nasional. Pembinaan atlet berjalan seiring dengan penguatan genetik kuda, pengembangan industri pendukung, hingga integrasi dengan sektor pariwisata. Dengan pendekatan yang holistik, olahraga berkuda di Indonesia siap menjadi bagian penting dari perekonomian dan budaya nasional.





