Empat kuliner khas Semarang jadi warisan budaya, cocok untuk takjil

Aa1wrgf5
Aa1wrgf5



Semarang, kota yang kaya akan budaya dan tradisi, memiliki sejumlah kuliner yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2025. Penetapan ini menunjukkan bahwa makanan tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai sejarah, tradisi, serta praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu manfaat dari pengakuan ini adalah kemungkinan besar dapat memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus memperkenalkan makanan khas Semarang kepada publik secara lebih luas.

Berikut adalah beberapa makanan yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dan cocok untuk takjil berbuka puasa:

Wingko Babad

Wingko Babad merupakan kue tradisional yang terbuat dari kelapa parut dan tepung ketan. Bentuknya bulat pipih dengan tekstur padat dan agak kenyal. Rasa manis gurih khas kelapa muda yang dibakar menjadi ciri khas dari kue ini. Selain rasa asli, Wingko Babad kini hadir dalam berbagai varian seperti cokelat, durian, keju, dan nangka.

Meskipun dikenal sebagai makanan khas Semarang, Wingko Babad ternyata berasal dari Kabupaten Lamongan. Awalnya, resep kue ini dibawa oleh Loe Lan Hwa dari Lamongan ke Semarang pada tahun 1944. Dari Stasiun Tawang, Wingko Babad berkembang menjadi kuliner legendaris yang akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Lunpia

Lunpia adalah salah satu makanan khas Kota Semarang yang berupa dadar dengan isian seperti rebung, daging, atau sayuran. Nama “Lunpia” berasal dari Bahasa Hokkian, yaitu “Lun” yang berarti lembut dan “pia” yang berarti kue. Lunpia dipercaya sebagai hasil perpaduan antara budaya Jawa dan Tionghoa.

Sejarahnya, Lunpia dikembangkan oleh Thoa Tjay Joe dan Mbak Wasih yang menggabungkan masakan Tionghoa dengan cita rasa manis khas Jawa. Saat ini, Lunpia masih diminati banyak orang dan biasanya disajikan dengan saus manis kental, acar mentimun, dan daun bawang.

Bubur India Koja

Bubur India Koja adalah makanan khas masyarakat suku Koja yang tinggal di sekitar Masjid Pekojan, Kota Semarang. Makanan ini sering disajikan secara gratis selama bulan Ramadan sebagai hidangan berbuka puasa. Bubur ini kaya akan rempah dan bumbu seperti daun pandan, salam, jahe, irisan bawang bombay, cengkeh, hingga kayu manis.

Proses pembuatannya membutuhkan waktu hingga tiga jam. Awalnya, bubur ini dibawa oleh masyarakat Koja yang datang ke Indonesia untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Setelah tiba di Semarang, mereka membuat perkampungan dan menjaga tradisi khas Koja sambil mengadaptasi kebiasaan lokal.

Ganjel Rel

Ganjel Rel adalah roti khas Semarang yang terbuat dari campuran jahe, kembang lawang, cengkeh, dan kayu manis. Roti ini berbentuk kotak dengan warna cokelat dan taburan wijen di atasnya. Tekstur padat dan rasa manis dari kayu manis membuat Ganjel Rel sangat istimewa.

Roti ini awalnya dikenal dengan nama “roti gambang”, namun masyarakat Semarang lebih akrab menyebutnya sebagai Ganjel Rel karena bentuknya yang mirip dengan ganjel rel (bantalan rel). Ganjel Rel sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan terinspirasi dari Ontbijtkoek, roti rempah khas Belanda. Di Semarang, masyarakat Jawa melakukan inovasi dengan mengganti tepung terigu dengan gaplek agar lebih mudah diakses.

Pos terkait