Perubahan Dinamis dalam Peta Politik Nasional
Peta politik nasional kembali bergerak dinamis dengan sejumlah politikus senior yang memilih meninggalkan partai lama dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Perpindahan ini bukan hanya soal pergantian kartu keanggotaan, tetapi juga melibatkan tokoh-tokoh yang sebelumnya menduduki jabatan strategis di partai asalnya. Langkah tersebut dinilai memperkuat posisi PSI yang kini dipimpin Kaesang Pangarep dalam menghadapi dinamika politik ke depan.
Politikus yang Bergabung dengan PSI
Beberapa nama yang kini merapat ke PSI antara lain Nina Agustina, Ahmad Ali, Bestari Barus, dan Rusdi Masse. Nina Agustina, yang sebelumnya berasal dari PDI Perjuangan (PDI-P), memutuskan keluar dari partai tersebut dan bergabung dengan PSI setelah mengaku mendapat restu dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, menyambut bergabungnya Nina dalam sebuah acara di Cipete, Jakarta Selatan. Ia menyampaikan selamat datang kepada Nina dan menyebut bahwa ia akan mengisi posisi kepengurusan PSI di tingkat Jawa Barat.
Selain dari PDI-P, tiga politikus Partai NasDem juga lebih dahulu hengkang dan bergabung dengan PSI. Mereka adalah Ahmad Ali, Bestari Barus, dan Rusdi Masse Mappasessu. Ahmad Ali dan Bestari Barus resmi bergabung dengan PSI pada 25 September 2025. Sementara Rusdi Masse menyusul pada 29 Januari 2026.
Hingga kini, tidak ada penjelasan rinci mengenai alasan utama perpindahan mereka. Sebelum resmi bergabung, Bestari Barus mengaku sempat bertemu dengan Presiden Jokowi untuk menyampaikan niatnya. Ia menyatakan, “Pak, saya bergabung deh, Pak” gitu, ungkap Barus saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (29/9/2025). Jokowi menjawab, “Oh, dengan senang hati,” sambungnya.
Dalam pertemuan tersebut, Bestari didampingi Ahmad Ali yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai NasDem. PSI sendiri saat ini dipimpin oleh Kaesang Pangarep, putra sulung Presiden Jokowi.
Pernyataan Jokowi tentang Kepemimpinan PSI
Sebelumnya, Jokowi menyatakan bahwa akan semakin banyak tokoh yang bergabung dengan PSI. “PSI sekarang ini telah menjadi partai super Tbk. PSI sekarang ini semakin terbuka, semakin inklusif. Banyak yang bergabung dan akan lebih banyak lagi yang akan bergabung,” kata Jokowi.
Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026). “Yang akan bergabung baik itu tokoh-tokoh nasional, tokoh-tokoh provinsi, tokoh-tokoh kabupaten dan kota akan lebih banyak lagi,” sambungnya.
Menurut Jokowi, bertambahnya jumlah tokoh yang bergabung akan membuat PSI semakin beragam. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya toleransi dan kesatuan visi di internal partai. “Hati-hati, akan semakin banyak perbedaan-perbedaan. Perbedaan selera, perbedaan keinginan-keinginan, perbedaan kepentingan, dan perbedaan-perbedaan lainnya akan semakin banyak,” kata Jokowi.
“Oleh sebab itu, butuh toleransi. Kita butuh satu visi. Kita butuh menjaga kerukunan, menjaga kesolidan, menjaga persatuan di antara kita,” imbuhnya.
Kekuatan PSI yang Berkembang
Perpindahan para tokoh ini memberikan dorongan signifikan bagi PSI, yang kini memiliki pengaruh yang lebih luas di berbagai tingkatan. Dengan bergabungnya tokoh-tokoh dari berbagai partai, PSI semakin memperkuat posisinya sebagai partai yang mampu menarik perhatian dan dukungan dari berbagai kalangan.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meskipun keberhasilan dalam menarik anggota baru merupakan langkah positif, PSI juga menghadapi tantangan dalam menjaga soliditas dan kesatuan visi di tengah keragaman latar belakang politik anggotanya. Jokowi menegaskan bahwa kesadaran akan perbedaan dan pentingnya toleransi menjadi kunci keberhasilan partai dalam menjalankan misinya.
Dengan kepemimpinan Kaesang Pangarep dan dukungan dari tokoh-tokoh seperti Jokowi, PSI tampaknya siap menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Kehadiran para politikus baru diharapkan dapat membawa perubahan positif dan memperkuat konsistensi PSI dalam menjalankan program dan visinya.





