Pengumuman Kematian Prajurit AS dalam Operasi Militer
Beberapa jam sebelum pengumuman terbaru, Komando Pusat juga melaporkan bahwa seorang prajurit keempat telah meninggal dunia. Dalam pernyataan yang dirilis Senin sore, US Central Command menyatakan bahwa hingga pukul 16.00 waktu Timur (ET) pada Senin, enam prajurit AS “gugur dalam tugas”. Komando menambahkan bahwa pasukan AS “baru-baru ini menemukan dan mengevakuasi jenazah dua prajurit yang sebelumnya dinyatakan hilang dari sebuah fasilitas yang terkena serangan awal Iran di kawasan tersebut”.
“Operasi tempur besar masih berlanjut,” kata komando tersebut. “Identitas para korban belum diumumkan hingga 24 jam setelah keluarga terdekat diberi pemberitahuan.” Sebelumnya pada Senin, Komando Pusat menyebut bahwa prajurit keempat, yang namanya tidak disebutkan, “mengalami luka parah dalam serangan awal Iran dan akhirnya meninggal dunia akibat luka-lukanya”.
Pada Minggu, militer AS menyatakan bahwa tiga prajurit “gugur dalam tugas” dan lima lainnya “mengalami luka serius sebagai bagian dari Operasi “Epic Fury”, operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim mengatakan bahwa pasukan AS tersebut tewas di sebuah pangkalan militer di Kuwait. Militer AS juga menyebut beberapa personel tambahan mengalami “luka ringan akibat serpihan dan gegar otak” dan sedang dalam proses kembali bertugas.
Perluasan Peringatan bagi Warga Amerika
Dampak konflik terus meluas ketika Departemen Luar Negeri AS pada Senin memperluas peringatan bagi warga Amerika yang tinggal di Timur Tengah, dengan menambahkan sejumlah negara ke dalam daftar yang warganya diminta segera meninggalkan wilayah tersebut. Empat belas negara, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, masuk dalam daftar tersebut.
Saat mengumumkan dimulainya “Operation Epic Fury” pada Sabtu, Donald Trump mengatakan pemerintahannya “mengambil setiap langkah yang mungkin untuk meminimalkan risiko terhadap personel AS di kawasan”. Namun ia juga menyatakan bahwa “nyawa para pahlawan Amerika yang pemberani mungkin akan hilang, dan mungkin akan ada korban”, seraya menambahkan bahwa “hal itu sering terjadi dalam perang”. “Tetapi kami melakukan ini bukan untuk saat ini,” kata Trump. “Kami melakukannya untuk masa depan.”
Pernyataan Presiden dan Menteri Pertahanan
Dalam pernyataan video pada Minggu, Trump menyebut para prajurit yang gugur sebagai “patriot sejati Amerika yang telah memberikan pengorbanan tertinggi bagi bangsa kita, bahkan saat kami melanjutkan misi yang benar yang untuknya mereka menyerahkan nyawa”. “Kami berdoa untuk kesembuhan penuh bagi yang terluka dan menyampaikan cinta serta rasa terima kasih abadi kepada keluarga para korban,” katanya. “Dan sayangnya, kemungkinan akan ada lagi sebelum ini berakhir. Begitulah adanya. Kemungkinan akan ada lagi, tetapi kami akan melakukan segala yang mungkin agar itu tidak terjadi. Namun Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling keras kepada para teroris yang telah berperang melawan, pada dasarnya, peradaban.”
Utusan AS untuk PBB, Michael Waltz, membagikan ulang pengumuman tiga kematian pada Minggu dan menulis: “Kebebasan tidak pernah gratis.” Dalam konferensi pers pada Senin, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan: “Seperti yang telah diperingatkan presiden, upaya sebesar ini akan mencakup korban.” “Perang adalah neraka dan akan selalu demikian,” kata Hegseth, seraya menambahkan bahwa “bangsa yang bersyukur menghormati empat warga Amerika yang telah kita kehilangan sejauh ini dan mereka yang terluka, yang merupakan yang terbaik dari Amerika. Semoga kita melanjutkan sisa operasi ini dengan cara yang menghormati mereka.”
Insiden Tembakan Kawan dan Serangan Balasan
Pada Senin juga, militer AS menyatakan bahwa tiga jet tempur AS secara keliru ditembak jatuh di atas Kuwait dalam insiden “tembakan kawan” (friendly fire). Militer menyebut keenam awak berhasil keluar dengan selamat. Sejak Sabtu, pasukan AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran di seluruh Iran, termasuk menyerang kompleks pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu. Iran membalas dengan meluncurkan serangan balasan, termasuk menembakkan rudal ke arah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan, termasuk di Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Menurut layanan darurat Bulan Sabit Merah Iran, lebih dari 500 orang tewas di Iran sejak Sabtu. Di Israel, otoritas menyebutkan 11 orang tewas. Sementara di Lebanon, kementerian kesehatan setempat melaporkan 31 orang tewas akibat serangan udara Israel.
Tujuan Operasi Epic Fury
Dalam konferensi pers tersebut, Hegseth mengatakan misi “Operation Epic Fury” adalah untuk “menghancurkan rudal ofensif Iran, menghancurkan produksi rudal Iran, menghancurkan angkatan laut dan infrastruktur keamanan lainnya, serta memastikan mereka tidak pernah memiliki senjata nuklir”. “Kami menyerang mereka secara presisi, besar-besaran, dan tanpa meminta maaf,” ujarnya. Konferensi pers itu berlangsung setelah pada Minggu Trump mengatakan kepada New York Times bahwa AS dan Israel dapat terus menyerang Iran selama “empat hingga lima minggu”.
Menurut jajak pendapat baru Reuters/Ipsos yang dirilis Minggu, kurang dari sepertiga warga Amerika yang disurvei menyatakan mendukung serangan ke Iran, sementara 43 persen responden menolak tindakan militer tersebut. Sekitar sepertiga lainnya menyatakan tidak yakin.





