JAKARTA – Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memburuk setelah serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan jemaah umrah asal Indonesia yang sedang berada di Arab Saudi.
Komisi Nasional Haji dan Umrah (Komnas Haji) mengingatkan pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah tegas dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi jemaah yang masih berada di negara tersebut. Berdasarkan data dari Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh), saat ini tercatat sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.
Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menekankan pentingnya komunikasi antara Kementerian Agama dengan kementerian terkait serta otoritas Arab Saudi. Menurutnya, situasi perang yang tidak menentu membutuhkan kehadiran negara untuk melindungi warganya dari dampak konflik yang sulit diprediksi.
“Dalam kondisi perang yang masih serba tidak menentu, Komnas Haji mendesak pemerintah untuk mengambil kebijakan dan langkah-langkah terukur, terutama dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan kepada jemaah dari akibat dampak perang yang masih terus berkecamuk dan tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Mustolih juga menyoroti pentingnya penyiapan mitigasi dan rencana darurat (contingency plan). Hal ini mencakup pembentukan pusat krisis, penyediaan tempat penampungan sementara, hingga skema penjemputan jemaah jika jalur udara tetap ditutup.
Dia menjelaskan bahwa kehadiran negara sangat penting karena tidak semua jemaah maupun biro jasa travel atau Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) memiliki kemampuan finansial dan logistik yang memadai untuk bertahan dalam situasi krisis.
“Langkah-langkah tersebut penting karena kemampuan finansial dan persiapan logistik jemaah umrah berbeda-beda. Ada yang pas-pasan dan terbatas karena tidak sesuai dengan rencana perjalanan. Begitu juga dengan kemampuan PPIU. Belum lagi di antara ribuan jemaah umrah tersebut juga ada yang melakukan umrah mandiri tanpa melalui biro jasa travel,” tambahnya.
Komnas Haji juga mengimbau jemaah yang masih berada di Arab Saudi untuk mematuhi panduan dari pemerintah. Sementara bagi calon jemaah yang baru akan berangkat, disarankan untuk menunda keberangkatan sampai situasi benar-benar kondusif, mengingat tingginya risiko keamanan saat ini.
Eskalasi konflik ini diperkirakan akan menimbulkan kerugian besar bagi seluruh ekosistem umrah, termasuk maskapai, akomodasi, hingga negara pengirim dan penerima. Padahal, animo umrah di bulan Ramadan sangat tinggi dengan perkiraan mencapai 5 juta jemaah dari seluruh dunia.
“Meski demikian belum ada hitungan berapa besar kerugiannya. Semoga perang ini segera berakhir,” tutupnya.





