Fakta atau Hoaks: 8.000 Pasukan RI Dikirim ke Palestina?

Aa1xjvwy 1
Aa1xjvwy 1

Pengiriman 8.000 pasukan perdamaian asal Indonesia ke wilayah Rafah, Palestina, disebut sebagai upaya pendudukan. Pernyataan ini dilontarkan oleh Al Araf, seorang peneliti senior Imparsial dan Ketua Centra Initiative. Ia mengungkapkan bahwa misi yang dijalankan tidak jelas arahnya, bukan dalam konteks kemerdekaan Palestina, melainkan dalam konteks pendudukan.

Menurut Al Araf, narasi ini memiliki muatan disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK). Framing seperti ini cenderung membentuk opini publik bahwa Indonesia akan menjajah Palestina. Namun, fakta menunjukkan bahwa tugas pasukan perdamaian Indonesia bukan untuk berperang, tetapi menjalankan mandat kemanusiaan dan menjaga stabilitas sesuai hukum internasional.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa 8.000 pasukan perdamaian Indonesia akan bergabung dengan International Stabilization Force (ISF) dalam misi perdamaian di Gaza, Palestina. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), yang dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pemimpin negara lainnya di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis (19/2).

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, memastikan bahwa Palestina telah mengetahui keterlibatan Indonesia dalam ISF. Tujuan dari partisipasi Indonesia adalah untuk menstabilkan lingkungan sipil di Gaza. Rencana ini diketahui oleh Ketua National Committee for Administration of Gaza (NCAG), Ali Shaath, yang hadir dalam pertemuan perdana BoP.

Sugiono menegaskan bahwa Palestina tidak hanya mengetahui partisipasi Indonesia, tetapi juga memahami rencana dan mandat ISF selama bertugas di Gaza. Menurutnya, misi Indonesia di ISF selaras dengan kepentingan Palestina. Dalam pertemuan BoP, Shaath menyampaikan bahwa Palestina membutuhkan situasi yang aman dan stabil sebagai prasyarat pemulihan dan proses perdamaian di Gaza.

Sugiono menekankan bahwa Indonesia tidak akan terlibat dalam pelucutan senjata maupun operasi militer ofensif. Fokus utamanya adalah menjaga stabilitas sipil dan mendukung upaya kemanusiaan. Langkah pertama dari rencana komprehensif ini adalah gencatan senjata. Setelah itu, suasana yang aman dan stabil harus diciptakan agar tahapan-tahapan berikutnya dapat dijalankan.

Dalam pertemuan tersebut, Sugiono menyampaikan bahwa langkah-langkah ini sudah disampaikan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi Indonesia dalam ISF dirancang untuk memberikan kontribusi positif bagi keamanan dan stabilitas di Gaza. Tidak ada niat untuk melakukan pendudukan, melainkan untuk mendukung perdamaian dan kesejahteraan rakyat Palestina.

Pos terkait