Fase Transisi Iran Pasca Pembunuhan Khamenei, Pakpour, dan Shamkhani

Aa1xiqrk 1
Aa1xiqrk 1

Fase Transisi di Iran Setelah Kematian Pemimpin Tertinggi

Pada hari Minggu (1/3/2026), beberapa tanda fase transisi mulai muncul di Iran. Indikasi ini muncul setelah Teheran mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut menimbulkan ketegangan yang luar biasa di kawasan Timur Tengah, dengan Iran langsung merespons dengan menargetkan Israel dan beberapa negara Arab. Sementara itu, Garda Revolusi Iran bersumpah akan memberikan “hukuman berat” bagi mereka yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Selain kematian Khamenei, Iran juga mengumumkan kematian komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour dan penasihat Pemimpin Tertinggi Ali Shamkhani. Televisi Iran melaporkan bahwa kedua tokoh tersebut tewas pada Sabtu (28/2/2026) dalam serangan Israel-Amerika di Teheran. Mohammad Pakpour, yang sebelumnya mengambil alih komando Garda Revolusi pada Juni tahun lalu selama perang 12 hari, serta Ali Shamkhani, salah satu pejabat keamanan tinggi Iran, meninggal dalam serangan tersebut.

Menurut laporan dari Khaberni, pada hari Minggu, tiga pejabat Iran akan mengawasi fase transisi di negara tersebut setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi. Trio ini mencakup Presiden Masoud Pezeshkian, kepala kehakiman Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan seorang pengacara dari Dewan Penjaga Konstitusi. Masa berkabung selama 40 hari juga telah diumumkan di negara tersebut.

Media Iran sebelumnya telah melaporkan kematian anggota keluarga Khamenei.

Pernyataan Trump Mengenai Kematian Khamenei

Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan pernyataan di jejaring sosialnya, Truth Social, bahwa “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah dibunuh.” Ia menambahkan bahwa rakyat Iran memiliki kesempatan “terbesar” untuk merebut kembali kendali atas negara mereka.

Trump menulis di jejaring sosialnya, Truth Social: “Negara ini sebagian besar hancur, bahkan luluh lantak, hanya dalam satu hari.” Ia juga menyebutkan bahwa pemboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus berlanjut tanpa henti sepanjang minggu atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kita.

Operasi Militer AS-Israel Terhadap Iran

Pada Sabtu pagi, Israel mengumumkan dimulainya serangannya terhadap Iran, yang dijuluki “Operasi Raungan Singa” (Roaring Lion). Washington kemudian mendeklarasikannya sebagai operasi gabungan skala besar dengan Israel, yang disebut “Operasi Amukan Tak Terbatas” (Epic Fury). Tujuan dari operasi ini adalah untuk menggulingkan rezim Iran.

Iran merespons dengan meluncurkan rentetan rudal ke arah Israel, negara-negara Teluk (tempat beberapa pangkalan AS berada), Irak, dan Yordania. Presiden AS telah mengumumkan bahwa tujuan serangan tersebut adalah untuk menghancurkan kemampuan militer Iran, menggulingkan rezim, dan menghilangkan “ancaman nyata” terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.

Operasi ini merupakan yang pertama dari jenisnya di Timur Tengah sejak invasi Irak pada tahun 2003. Washington mempersiapkannya dengan mengerahkan kekuatan angkatan laut dan udara yang besar di wilayah tersebut. Teheran merespons dengan meluncurkan rudal ke arah Israel dan negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan Amerika, yang dianggapnya sebagai “target yang sah”.

Pos terkait