Festival Sarung Majalaya: Menjaga Budaya dan Mendorong Ekonomi
Festival Sarung Majalaya kembali digelar di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Acara yang berlangsung selama empat hari ini menjadi ajang yang tidak hanya memperkenalkan budaya lokal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Sarung sebagai Simbol Budaya dan Ekonomi
Dalam perhelatan ini, sarung ditempatkan sebagai simbol budaya sekaligus penggerak ekonomi. Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan yang menunjukkan keragaman dan inovasi dalam penggunaan sarung. Dari parade busana hingga pertunjukan seni tradisional, semua aktivitas mencerminkan semangat kolaborasi dan kebangkitan industri tekstil.
Panitia Festival Sarung Majalaya, Hilman Fazri Rukmana, menjelaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni. Ia menyebutkan bahwa festival ini juga melibatkan partisipasi pelaku UMKM dan komunitas kreatif yang turut menghidupkan suasana festival.
Karya Desainer Muda Difabel
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah kehadiran desainer muda difabel, Nadya Amalia Yahya. Ia memperkenalkan koleksi busana berbahan dasar sarung yang menunjukkan bahwa sarung bukan hanya identik dengan busana tradisional, tetapi juga bisa diolah menjadi produk fesyen modern.
Karya-karyanya menunjukkan bahwa sarung dapat menjadi bagian dari mode masa kini. Ia menekankan bahwa sarung bukan hanya warisan tradisi, tetapi juga bisa diolah menjadi busana yang inklusif, elegan, dan relevan dengan perkembangan mode saat ini.
Dampak Ekonomi yang Signifikan
Dari sisi ekonomi, Festival Sarung Majalaya memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha. Hilman mengklaim bahwa perputaran transaksi selama festival turut dirasakan oleh para pelaku usaha. Penjualan sarung selama kegiatan tercatat mencapai sekitar Rp20 juta.
Selain itu, UMKM di sekitar lokasi kegiatan seperti pedagang es kelapa, makanan ringan, dan produk konsumsi lainnya juga merasakan dampak ekonomi dari acara ini.
Agenda yang Beragam
Pada hari pembukaan, ratusan peserta dari berbagai kalangan hadir memeriahkan acara. Selain bazar sarung, kegiatan juga diramaikan forum komunitas dan partisipasi koperasi.
Di sore hari, pertunjukan budaya Sunda digelar di alun-alun Majalaya dan dihadiri oleh ratusan warga. Agenda ini dilanjutkan dengan silaturahmi dan buka puasa bersama di Gedung Wiranatakusumah.
Pada hari kedua, disajikan hidangan khas Kabupaten Bandung seperti pepes ikan dan berondong yang disiapkan oleh berbagai UMKM, Forum UMKM Nuswantara Jawa Barat, serta keluarga besar pergerakan Nuswantara Emas.
Diskusi dan Pengajian
Di hari ketiga, festival menggelar diskusi city branding dan penguatan spiritual dengan berbagai narasumber masyarakat. Dilanjutkan dengan pengajian Haul Imam Sadzily dan buka puasa bersama.
Di hari penutupan, panitia menggelar diskusi pemasaran sarung Majalaya. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal menuju agenda nasional berikutnya, yakni Festival Pawon Nusantara di Desa Nagrak.





