Inspirasi dari Kain Tappan dalam Dunia Fesyen Modern
Sony Oktaria, seorang desainer yang berbasis di Bandar Lampung, memiliki visi khusus dalam mengembangkan fesyen modern dengan menggabungkan motif kain tappan. Kain ini menjadi sumber inspirasi bagi dirinya untuk menciptakan berbagai produk seperti outer, dekorasi rumah, hingga sarung. Dalam perjalanannya, Sony memilih untuk lebih fokus pada kain tappan Lampung karena melihat potensi yang belum tergarap.
Pada hari Kamis (26/2/2026), Sony tampak sangat hati-hati saat memegang kain tappan di tangannya. Ia sesekali mengusap permukaan kain tersebut sambil menjelaskan filosofi yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, kain tappan adalah salah satu wastra Lampung selain tapis. Kini, ia menggunakan motif kain tappan sebagai dasar pengembangan fesyen modern.
Beberapa produk fesyen yang diciptakannya terpajang rapi di galeri miliknya, Galeri Dirja Bandar Lampung. Meskipun omzet bulanan galerinya fluktuatif, dengan kisaran antara Rp 25 juta hingga Rp 100 juta, Sony tetap berkomitmen untuk melestarikan kain tappan. Baginya, ini bukan hanya bisnis, tetapi juga upaya menjaga identitas kebudayaan.
Potensi yang Belum Terluas
Sony lebih memilih mengembangkan motif kain tappan Lampung karena ia melihat potensi yang belum tergarap. Ia percaya bahwa meskipun tapis penting, Lampung memiliki banyak kain wastra lain yang tidak kalah bernilai sejarah. Namun, masyarakat umumnya hanya mengenal tapis sebagai kain khas Lampung.
Menurut Sony, ada beberapa kain wastra lain seperti kain tappan atau kain kapal, kain limar, dan kain inuh dari Kalianda. Kain-kain ini sudah ada sejak abad ke-15 hingga ke-17 Masehi dan penuh dengan filosofi. Kain tappan, yang merupakan kain khas dari Lampung Saibathin, memiliki motif khas seperti kapal, figur manusia, fauna, dan ornamen geometris.
Kain tappan dikenal sebagai kain kapal, merupakan salah satu artefak tekstil tertua dalam kebudayaan masyarakat Lampung Saibathin. Kehadirannya berkaitan erat dengan tradisi maritim dan jalur perdagangan Nusantara pada masa lampau. Motif kapal yang mendominasi permukaan kain menjadi penanda kuat identitas masyarakat Saibathin sebagai komunitas pesisir yang berorientasi pada laut, perdagangan, dan mobilitas budaya.
Proses Pembuatan yang Rumit
Kain tappan dibuat melalui proses sulam tangan yang rumit dan memerlukan ketelitian tinggi. Setiap motif disusun secara simbolis, bukan sekadar dekoratif, melainkan sebagai representasi nilai adat, struktur sosial, dan pandangan hidup. Dalam tradisi Lampung Saibathin, kain tappan bersifat sakral dan eksklusif. Penggunaannya dibatasi pada upacara adat besar, seperti perkawinan, adat penobatan atau pengukuhan adat, serta ritual kematian bangsawan adat.
Keberadaan motif flora dan fauna menegaskan falsafah hidup masyarakat Lampung yang menjunjung keseimbangan antara manusia, alam, dan adat istiadat. Sebagai artefak budaya, kain Tappan tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga sebagai media narasi sejarah, yang merekam jejak peradaban maritim Lampung.
Kesadaran yang Masih Minim
Ironisnya, banyak orang Lampung sendiri belum mengenal kain ini, dan hanya mengenal kain tapis saja sebagai kain yang ada di wilayah Lampung. Filosofi tersebut membuat Sony ingin mengangkat kain tappan agar lebih dikenal seluruh masyarakat Lampung dan luar Lampung.
Saat Sony mengikuti pameran di Jakarta Convention Center, justru pengunjung dari luar negeri lebih memahami kisah kain kapal yang merupakan sebutan lain untuk tappan dibanding masyarakat lokal. “Informasinya terputus. Kita hanya dapat dari literasi, museum, dan cerita turun-temurun,” jelasnya.
Melihat potensi yang belum tergarap itu, Sony tidak tinggal diam. Pria yang sebelumnya merantau di Bali ini pulang kampung ke Lampung. Dia membuka galeri di masa pandemi COVID-19 sekitar tahun 2020. Sampai saat ini galerinya sudah berjalan lima tahun dengan misi melestarikan wastra Lampung.





