Film Dokumenter Matahari dalam Tanah Mengungkap Kehidupan Masyarakat di Sekitar Proyek Geothermal
Film dokumenter Matahari dalam Tanah yang dirilis, Minggu (1/3/2026) di Kupang menghadirkan sudut pandang baru tentang pentingnya proyek geothermal. Film ini dibintangi oleh Maria S Maunino, seorang perempuan asal Atadei Kabupaten Lembata yang memperhatikan dampak dari proyek tersebut. Ia khawatir bahwa proyek ini bisa merusak lingkungan dan budaya lokal. Dengan menyelami dunia geothermal, Maria mencoba memahami dampaknya terhadap masyarakat.
Maria melakukan perjalanan ke proyek serupa di Ulumbu, Poco Leok Kabupaten Manggarai, serta ke Mataloko di Kabupaten Ngada. Di sana, ia mendengar berbagai cerita dari masyarakat setempat. Awalnya, banyak warga menolak dan ragu terhadap proyek ini. Namun, seiring waktu, mereka justru mulai mendukung geothermal karena manfaatnya yang nyata bagi masyarakat.
Senior Manager Pertanahan, Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusa Tenggara, Bruly Victor Tarigan menjelaskan bahwa pembangunan geothermal sering kali dipandang hanya sebagai proyek energi. “Angka megawatt, kedalaman sumur, kapasitas dan lain-lain. Tapi ada sisi lain, salah satunya adalah geothermal adalah cerita membangun sejarah peradaban untuk generasi masa depan,” ujarnya saat launching film itu di Hotel Aston Kupang.
Menurut Bruly Victor Tarigan, masa depan yang dimaksud adalah ketersediaan dan keadaan energi. Pihaknya tidak hanya fokus pada pembangunan, tetapi juga membuka dialog untuk menjawab kekhawatiran masyarakat dengan sabar dan harapan yang terus tumbuh.
Membangun di ruang ekologi, kata dia, tidak sederhana. Alam bukanlah ruang kosong yang hidup dan menyimpan sejarah, budaya sekaligus menjadi sumber kehidupan. Sehingga, pembangunan tidak sekadar mengali panas bumi. “Ia adalah upaya mencari keseimbangan antara kebutuhan energi dan tanggung jawab menjaga lingkungan antara kemajuan dan kelanjutan,” ujar Bruly Victor Tarigan.
Lewat film itu, bagian yang kerap tidak tampak ingin diperlihatkan. Bukan saja tentang pengeboran, tetapi juga orang-orang yang terlibat dalam pembangunan memiliki keyakinan bahwa energi bersih adalah bagian dari masa depan yang baik.
Geothermal, ujar dia, energi yang lahir dari dalam bumi. Namun, keberhasilannya ditentukan oleh apa yang ada di atas permukaan, hubungan pemerintah, peran pembangunan serta masyarakat. “Kami menyadari setiap pembangunan harus dibangun di atas kepercayaan. Itu tidak datang dengan sendirinya, dia tumbuh dengan keterbukaan, dari mendengar dan kesediaan memperbaiki diri,” ujar Bruly Victor Tarigan.
Bruly Victor Tarigan berharap, film ini menjadi ruang refleksi bersama. Pembangunan, bukan saja apa yang dibangun tetapi tahapan dan cara membangun serta cara menghargai alam dan menghormati budaya masyarakat, maupun memaknai tanggung jawab. “Semoga apa yang kita lakukan ini menjadi masa depan energi Indonesia,” kata Bruly Victor Tarigan.
Cerita Warga yang Terdampak Proyek Geothermal
Emilia Wawo, warga di Kabupaten Ngada dalam film itu bercerita ihwal kehidupannya yang terus membaik setelah kehadiran pembangunan geothermal di wilayahnya. Kekhawatiran tentang kerusakan alam dan budaya ditepis fakta bahwa semua itu tidak benar adanya.
Emi mengaku, dari kebun miliknya di sekitar geothermal yang awalnya gersang, kini mulai hijau. Bahkan, ia mampu menyediakan rumput dalam jumlah banyak yang dipasok bagi kebutuhan lebih dari 1.000 ternak sapi di wilayah Riung Barat, Kabupaten Ngada.
Tadi Sudepang, warga Poco Leok awalnya bersikeras perihal geothermal. Sebab, dia belum memahami tentang rencana tersebut. Ketika mendengar edukasi, dia memahami dan justru melihat geothermal merupakan hal baik dan tidak merusak aktivitas budaya lokal. Sebaliknya, sebagian besar masyarakat bahkan keluarga dekatnya hingga kini belum menerima kehadiran proyek itu. Berulang kali dia mendatangi mereka dan mencoba memberi informasi.
“Bagi teman-teman dari Poco Leok, jangan kita mendengar sepihak. Cari banyak informasi, Poco Leok butuh pembangunan,” katanya.
Hans Baghy, tokoh Masyarakat Desa Wogo di Kabupaten Ngada mengklaim, air bersih pada daerah itu sangat baik. Meski di awal ia sempat ragu dampak proyek geothermal bisa merusak sumber mata air.
Prof Philipi de Rozari, Ahli Lingkungan Undana menyebut suka atau suka penggunaan geothermal sangat diperlukan. Sebab, itu merupakan energi alternatif yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga, masyarakat perlu dipersiapkan proses peralihan seperti ini.
“Kami berencana membuat Prodi teknik geologi untuk mengantisipasi pembangunan. Kalau ketika pembangunan geothermal dilakukan secara masif maka masyarakat NTT sudah menyiapkan tenaga untuk berkiprah di dunia geothermal,” ujarnya.





