Pengembangan Film Animasi Anak “Pelangi di Mars”
Film animasi anak berjudul Pelangi di Mars yang digarap oleh sutradara Upie Guava mengusung genre sci-fi dan memakan waktu hingga lima tahun dalam proses penggarapan. Proses ini dilakukan oleh tim produksi yang meluncurkan balon raksasa untuk mempromosikan film tersebut di kawasan SCBD, Jakarta Selatan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Upie Guava menjelaskan alasan lamanya penggarapan film yang diproduksi oleh Mahakarya Pictures. Ia menyebutkan bahwa tahun-tahun pertama digunakan untuk riset dan pengembangan teknologi CGI serta animasi dengan membangun sebuah studio guna menunjang penggarapan film tersebut. “Kami bikin dulu ‘pabriknya’ tiga tahun, kami melakukan banyak hal yang mungkin tidak semua orang mau melakukannya,” ujarnya.
Rasa haru sering dirasakan oleh Upie ketika mengingat proses panjang film tersebut yang berawal dari keinginan sederhana menjadi “pendongeng” untuk anak-anak. Ia juga mengapresiasi seluruh tim produksi berkat kerja keras yang telah mereka curahkan. “Saya melihat ini sudah bukan film saya. Saya anggap ini jadi semacam gerakan dan tugas saya tinggal mengawalnya saja,” katanya.
Pemeran Utama dari SD Kini SMA
Salah satu pemeran utama, Messi Gusti, yang memerankan karakter utama Pelangi, telah melakoni perannya tersebut sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Messi yang kini telah beranjak SMA pun mengaku tetap antusias dan senang dapat bergabung dalam proyek tersebut. “Ini salah satu kebanggaan juga untuk aku dengan proses syuting XR, jadi kayak pengalaman baru buatku,” kata Messi menambahkan.

Poster film Pelangi di Mars. Foto: Istimewa/Mahakarya Pictures.
Dendi Reynando, selaku produser, menjelaskan bahwa film Pelangi di Mars berangkat dari keresahan terhadap opsi film anak di Indonesia. “Pilihannya untuk anak-anak tidak selalu ada. Kalaupun ada biasanya dari Hollywood dan yang dari Indonesia mungkin jarang, dua sampai tiga bulan sekali,” ujarnya.
Selain itu, Dendi juga turut menyoroti minimnya pengembangan lebih lanjut atas Intellectual Property (IP) film yang berasal dari Indonesia. Ia berharap film produksinya tersebut akan mampu memberikan cerita yang dapat membentuk narasi untuk anak-anak dan generasi mendatang. “Kita percaya bahwa cerita adalah instrumen pembentuk peradaban,” ucapnya.
Strategi Komersialisasi Film
Untuk mendukung keberlanjutan IP film Pelangi di Mars, Dendi mengungkapkan adanya pelbagai langkah komersialisasi yang coba dilakukannya. Salah satunya adalah membuat cendera mata seperti buku gambar dan figur aksi dengan harapan dapat bersaing dengan produk dari IP luar negeri yang serupa. “Kita sudah diskusi dengan beberapa retail store dan Alhamdulillah respons dari mereka juga positif,” tutur Dendi.
Tidak hanya itu, film Pelangi di Mars juga akan melanjutkan petualangan dengan sekuel yang direncanakan tayang per tahun pada 2028-2030. Meski cetak biru soal sekuel tersebut telah disiapkan, arah rencana tersebut nantinya akan sangat bergantung dengan capaian film pertamanya. “Film ini sangat menentukan bagaimana nanti IP dan universe-nya akan berkembang,” ujar Dendi.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengapresiasi film tersebut. Irene menilai Pelangi di Mars sebagai salah satu film dengan gagasan “langka” karena mampu memikirkan aspek keberlanjutannya. “The good thing is sudah mikirin komersialisasinya seperti apa dan one of the very rare films yang memikirkan dari segi merchandising,” ujarnya.
Kombinasi Live Action dan Animasi
Film Pelangi di Mars mengkombinasikan antara live action dan animasi. Oleh karena itu, film ini akan turut melibatkan beberapa aktor sulih suara, seperti Bimo Kusumo, Kristo Immanuel, dan Gilang Dirga. Film akan tayang pada libur Lebaran tahun ini di bioskop mulai 18 Maret 2026.





