Gaikindo dorong pemerintah beri insentif bioetanol

Aa1x9ofs
Aa1x9ofs



JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk memberikan insentif terhadap bahan bakar nabati berupa bioetanol. Tujuannya adalah untuk mendukung penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara menilai bahwa percepatan implementasi kebijakan wajib pencampuran etanol dalam bahan bakar harus diiringi dengan strategi harga yang kompetitif. Menurutnya, tanpa struktur harga yang menarik, upaya mendorong masyarakat beralih ke bahan bakar campuran etanol bisa tidak optimal. Kukuh menegaskan bahwa aspek keterjangkauan menjadi faktor krusial agar konsumen bersedia membeli dan menggunakan produk tersebut secara luas.

“Secara umum, jika ingin mendorong bioetanol sebagai bahan bakar alternatif, persoalannya ada pada harga yang masih tinggi. Selama harga belum kompetitif, masyarakat cenderung tidak akan membeli,” ujar Kukuh kepada media, dikutip Kamis (26/2/2026).

Dukungan insentif pada produk BBM campuran etanol dinilai sangat penting dalam mendorong adopsi yang lebih luas di pasar domestik. Sebab, sejumlah pabrikan kendaraan di dalam negeri sudah siap menggunakan BBM campuran etanol 10% (E10).

“Insentif seharusnya diberikan pada sisi bahan bakar. Sebab, dari sisi kendaraan, kami tidak melihat ada persoalan,” jelasnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan mandatori E10 dimulai pada 2027. Dalam target ini, kebutuhan etanol mencapai sekitar 1,4 juta ton. Saat ini, pemerintah sedang mempersiapkan pasokan bahan baku hingga mekanisme pengadaannya.

Kebutuhan etanol berbasis bahan baku nabati seperti singkong, jagung, dan tebu memerlukan proses penanaman terlebih dahulu sebelum diolah di pabrik etanol. Seluruh rangkaian proses tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 tahun hingga siap diproduksi menjadi bahan bakar.

Meskipun begitu, Kukuh menyoroti bahwa bahan bakar bioetanol sempat memicu polemik di tengah masyarakat, terutama terkait kekhawatiran akan dampaknya terhadap mesin kendaraan. Oleh karena itu, Gaikindo mendorong adanya edukasi yang komprehensif agar publik memperoleh pemahaman yang utuh mengenai penggunaan campuran etanol.

“Masyarakat perlu diberikan penyuluhan bahwa ini tidak bermasalah. Kemarin sempat ramai anggapan bahwa etanol itu buruk. Saya sangat khawatir karena sejak cukup lama kami telah melakukan kajian dan hasilnya menunjukkan bahwa E10 pun sudah tidak ada masalah,” jelas Kukuh.

Alhasil, Gaikindo menyatakan dukungannya terhadap implementasi bahan bakar bioetanol karena dinilai berpotensi menciptakan efek pengganda (multiplier effect), tidak hanya bagi industri otomotif, tetapi juga pada sektor hulu, mulai dari petani tebu hingga singkong sebagai penyedia bahan baku.

Tantangan dan Peluang dalam Penerapan Bioetanol

1. Ketersediaan Bahan Baku

Penggunaan bioetanol bergantung pada ketersediaan bahan baku seperti tebu, singkong, dan jagung. Proses penanaman dan pengolahan membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga perlu perencanaan yang matang agar pasokan dapat terpenuhi sesuai target.

2. Harga yang Kompetitif

Salah satu tantangan utama dalam penerapan bioetanol adalah harga yang masih relatif tinggi dibandingkan bahan bakar konvensional. Tanpa insentif atau subsidi, masyarakat cenderung enggan beralih ke bahan bakar campuran etanol.

3. Edukasi Masyarakat

Banyak masyarakat masih memiliki prasangka negatif terhadap penggunaan etanol. Edukasi yang tepat dan transparan sangat penting untuk menghilangkan mitos dan meningkatkan kesadaran akan manfaat bioetanol.

4. Kesiapan Industri Otomotif

Pabrikan kendaraan di dalam negeri sudah siap mengadopsi E10. Namun, keberhasilan penerapan bergantung pada dukungan pemerintah dan kebijakan yang jelas.

5. Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Bioetanol memiliki potensi besar dalam menciptakan efek pengganda, baik secara ekonomi maupun lingkungan. Dengan adanya penerapan yang tepat, sektor pertanian dan industri bisa saling mendukung.

Pos terkait