Gangguan Selat Hormuz Tingkatkan Biaya Angkut Truk di RI 12 Persen

Aa1hdx4t 1
Aa1hdx4t 1

Dampak Kenaikan Harga Solar terhadap Biaya Angkut Truk di Indonesia

Gangguan yang terjadi di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga solar di Indonesia, yang pada akhirnya akan berdampak pada biaya angkut truk. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan sistem logistik nasional terhadap bahan bakar minyak (BBM) sebagai komponen utama dalam operasional transportasi jalan.

Setijadi, founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), menjelaskan bahwa solar merupakan komponen penting dalam biaya operasional transportasi. Menurutnya, dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar USD 25 per barel dapat menyebabkan kenaikan harga solar sekitar Rp 750 hingga 2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Jika kenaikan mencapai USD 50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi akan meningkat lebih signifikan.

Dalam analisisnya, Setijadi menunjukkan bahwa komponen BBM mencapai sekitar 35-40 persen dari total biaya operasi truk. Oleh karena itu, kenaikan harga solar sebesar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5 hingga 4 persen. Jika harga solar meningkat 20 persen, biaya angkut truk juga berpotensi naik 7 hingga 8 persen. Dalam skenario yang lebih berat, dengan kenaikan solar sebesar 30 persen, lonjakan ongkos angkut bisa mencapai 10,5 hingga 12 persen.

Rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14 persen dari harga produk, dengan sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Kenaikan ongkos angkut truk akan berdampak pada banyak komoditas. Misalnya, kenaikan ongkos truk sebesar 7-8 persen berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5 persen. Dalam kondisi yang lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji.

Risiko Inflasi dan Dampak pada Sektor Ekonomi

Risiko terbesar dari kenaikan harga solar adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya untuk komoditas pangan dan kebutuhan pokok. Industri yang bergantung pada impor bahan baku juga akan menghadapi risiko ganda, yaitu kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik.

Sektor konstruksi dan UMKM relatif rentan terhadap fluktuasi harga solar karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin. Mereka cenderung kurang mampu menyerap kenaikan biaya secara langsung tanpa mengurangi profitabilitas.

Langkah yang Perlu Dilakukan Pemerintah

Menurut SCI, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif. Selain itu, diversifikasi energi harus dipercepat untuk mengurangi ketergantungan terhadap solar. Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, menjadi krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.

Adapun langkah-langkah strategis lain yang dapat dilakukan antara lain:

  • Peningkatan penggunaan kendaraan listrik atau bahan bakar alternatif.
  • Pengembangan infrastruktur logistik yang lebih efisien.
  • Penguatan regulasi terkait harga BBM dan subsidi yang tepat sasaran.
  • Peningkatan koordinasi antar sektor untuk memastikan stabilitas rantai pasok.

Dengan demikian, upaya pencegahan dan mitigasi dampak kenaikan harga solar sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keberlanjutan sektor logistik di Indonesia.

Pos terkait