Pertumbuhan Industri Sawit pada Tahun 2025
Pada tahun 2025, industri sawit di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data terbaru dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) meningkat sebesar 7,2% secara tahunan (yoy). Produksi CPO naik dari 48,16 juta ton menjadi 51,66 juta ton pada tahun tersebut.
Salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan produksi ini adalah cuaca yang baik sepanjang tahun 2025 serta harga CPO yang tinggi pada tahun 2024. Hal ini mendorong petani untuk lebih aktif merawat kebun mereka. GAPKI menyampaikan hal ini dalam keterangan tertulisnya, menjelaskan bahwa kondisi iklim yang mendukung dan harga yang stabil memberikan insentif bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas.
Perkembangan Konsumsi CPO
Di sisi lain, konsumsi CPO di pasar lokal juga mengalami pertumbuhan. GAPKI mencatat bahwa total konsumsi CPO meningkat sebesar 3,8% yoy, dari 23,85 juta ton menjadi 24,76 juta ton. Namun, terdapat penurunan pada konsumsi pangan. Volume konsumsi pangan turun sebesar 3,6% yoy, dari 10,2 juta ton pada tahun 2024 menjadi 9,8 juta ton pada tahun 2025.
Selain itu, volume ekspor CPO juga meningkat. Pada tahun 2025, ekspor CPO mencapai 32,34 juta ton, meningkat sebesar 9,5% dibandingkan dengan 29,53 juta ton pada tahun sebelumnya. GAPKI menilai bahwa permintaan yang kuat didorong oleh harga minyak sawit yang lebih rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.
Proyeksi Kinerja Industri Sawit di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, GAPKI memproyeksikan pertumbuhan produksi CPO akan berjalan secara perlahan, tidak melebihi 5%. Penyebabnya adalah areal replanting atau peremajaan sawit yang mulai berproduksi. Meskipun demikian, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.
GAPKI mencermati adanya keterlambatan dalam pelaksanaan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang bisa memengaruhi hasil produksi. Selain itu, perkiraan El Nino pada pertengahan tahun 2026 juga menjadi ancaman yang perlu diperhatikan. Fenomena iklim ini dapat memengaruhi curah hujan dan suhu, sehingga berpotensi mengurangi produktivitas tanaman sawit.
Prediksi Ekspor dan Harga Minyak Sawit
GAPKI memperkirakan bahwa kinerja ekspor sawit pada tahun 2026 tidak akan jauh berbeda dari capaian pada tahun 2025. Meski begitu, harga minyak sawit dalam jangka pendek, hingga akhir kuartal I-2026, diperkirakan berada dalam rentang US$ 1.050–US$ 1.125 per ton. Prediksi ini didasarkan pada berbagai faktor seperti permintaan global, fluktuasi harga komoditas lain, serta kondisi iklim yang masih belum sepenuhnya stabil.





