Fenomena Langit Langka di Malam Ke-14 Ramadan 1447 Hijriah
Pada malam ke-14 Ramadan 1447 Hijriah, Selasa (3/3/2026), masyarakat Indonesia, termasuk di Purwokerto, akan menyaksikan fenomena langit langka berupa Gerhana Bulan Total. Fenomena ini membuat Bulan tampak berwarna merah tembaga atau dikenal sebagai blood moon.
Dosen ahli Penginderaan Jauh dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof Ir Jamrud Aminuddin menjelaskan bahwa gerhana bulan total terjadi ketika posisi Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan. Akibatnya, bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan sehingga Bulan tidak menerima cahaya Matahari secara langsung. Peristiwa ini hanya terjadi pada fase bulan purnama.
Pada saat fase total, Bulan akan terlihat berwarna merah tembaga. Warna tersebut muncul akibat proses hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi akan mengalami penyebaran. Cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru lebih banyak tersebar, sementara cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah tetap diteruskan dan dibiaskan menuju permukaan Bulan. Proses ini mirip dengan mekanisme yang menyebabkan langit tampak merah saat senja.
Tahapan Gerhana Bulan Total
Gerhana bulan total memiliki beberapa tahapan:
- Fase Penumbra: Ketika Bulan mulai memasuki bayangan samar Bumi sehingga perubahan cahayanya masih sulit diamati.
- Gerhana Sebagian: Ketika sebagian permukaan Bulan tertutup bayangan inti Bumi atau umbra, sehingga tampak seperti “tergigit”.
- Fase Total: Ketika seluruh permukaan Bulan berada di dalam umbra dan tampak berwarna merah.
- Setelah itu, gerhana akan kembali ke fase sebagian dan penumbra hingga akhirnya Bulan keluar sepenuhnya dari bayangan Bumi.
Menurut Prof Jamrud, gerhana bulan berbeda dengan gerhana Matahari karena aman diamati dengan mata telanjang. “Gerhana Bulan tidak memerlukan kacamata khusus. Fenomena ini dapat dilihat langsung, atau menggunakan kamera biasa, teropong, maupun teleskop kecil,” katanya.
Durasi dan Wilayah Pengamatan
Fase total gerhana bulan biasanya berlangsung sekitar 1 sampai 2 jam. Namun tidak setiap bulan purnama terjadi gerhana karena orbit bulan memiliki kemiringan terhadap orbit bumi mengelilingi matahari.
Berdasarkan perhitungan astronomis, pada 3 Maret 2026 durasi fase total diperkirakan berlangsung sekitar 58 menit 19 detik, sedangkan keseluruhan fase gerhana, termasuk penumbra dan parsial, mencapai sekitar 5 jam 38 – 39 menit.
Fenomena ini dapat diamati dari wilayah Bumi yang sedang mengalami malam hari. Secara umum, seluruh fase gerhana dapat disaksikan dari kawasan Asia Timur, Australia, Selandia Baru, dan Samudra Pasifik bagian tengah. Sementara di sebagian wilayah Amerika Utara dan Amerika Tengah, fase total atau sebagian dapat terlihat menjelang dini hari sebelum Matahari terbit. Sebaliknya, sebagian besar wilayah Eropa dan Afrika tidak dapat menyaksikan gerhana tersebut karena posisi Bulan berada di bawah horizon saat peristiwa berlangsung.
Waktu dan Lokasi Pengamatan di Purwokerto
Untuk wilayah Indonesia, waktu fase total diperkirakan terjadi pada:
– 18.04 – 19.02 WIB
– 19.04 – 20.02 WITA
– 20.04 – 21.02 WIT
Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT, saat warna merah Bulan terlihat paling kuat. Di Purwokerto, masyarakat dianjurkan memilih lokasi dengan pandangan luas ke arah timur, terutama sesaat setelah Matahari terbenam.
Berdasarkan analisis perangkat lunak astronomi, posisi pengamatan berada pada azimuth sekitar 75°– 90° dari arah utara menuju timur, dengan elevasi Bulan meningkat dari sekitar 5° hingga 30° di atas horizon selama gerhana berlangsung. Pengamatan kemungkinan lebih nyaman dilakukan sekitar pukul 19.02 WIB atau akhir totalitas, dengan elevasi sekitar 15°, selama kondisi atmosfer mendukung dan tidak tertutup awan tebal.
Pengamatan oleh Jurusan Fisika FMIPA Unsoed
Pada hari pengamatan, Jurusan Fisika FMIPA Unsoed juga akan melakukan pemantauan gerhana dari rooftop Kampus C FMIPA Unsoed. Observasi akan menggunakan teleskop Sky-Watcher BK909 NEQ2 yang dilengkapi sistem mounting bermotor otomatis. Perangkat tersebut mampu mengarahkan teleskop secara otomatis ke posisi Bulan saat gerhana setelah koordinat dimasukkan ke dalam perangkat lunak SkyPlanetarium.
Sistem mounting teleskop ini merupakan hasil riset tim peneliti Jurusan Fisika FMIPA Unsoed yang dipimpin Prof. Jamrud, dengan anggota tim Prof Drs Budi Pratikno MStatSci PhD dan Dr Mirda Prisma Wijayanto MSi.





