Grab Indonesia: Pendapatan Ride-Hailing Capai Rp 382 Triliun untuk PDB Nasional

Petugas Pln Transformasi Yang Terus Dilakukan Pln 1
Petugas Pln Transformasi Yang Terus Dilakukan Pln 1

Perkembangan Ekonomi Digital dan Kontribusi Grab

Ekonomi digital di Indonesia terus berkembang pesat dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan nasional. Layanan berbasis aplikasi atau on-demand service kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang tidak terpisahkan. Layanan ini mencakup berbagai sektor, mulai dari transportasi, pengantaran makanan, logistik, hingga layanan keuangan digital.

“Perkembangan ini tidak hanya menghadirkan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga membuka akses peluang penghasilan bagi jutaan masyarakat dari berbagai latar belakang,” kata Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, Senin (2/3/2026). Model usaha berbasis platform memungkinkan individu untuk tetap produktif tanpa harus terikat dalam hubungan kerja formal dengan jam kerja tetap. Hal ini dikenal dengan istilah gig economy.

Gig economy mencakup profesi yang sangat luas, mulai dari content creator, penulis lepas, desainer grafis, fotografer, musisi, makeup artist, hair stylist, hingga porter, kurir, serta pengemudi transportasi online. Mereka bekerja secara mandiri dan memiliki fleksibilitas untuk menentukan sendiri tingkat serta intensitas aktivitas mereka. Grab adalah salah satu platform gig economy di industri ride-hailing, terus memperluas dampak positif dan inklusif bagi masyarakat dari berbagai lapisan.

Sejak hadir di Indonesia pada 2014, Grab telah menjangkau jutaan pengguna di seluruh negeri. Melalui ekosistem layanan digital yang terintegrasi, Grab kini telah menjangkau lebih dari 300 kota dan kabupaten di Indonesia.

Dampak Ekonomi dan Kontribusi PDB

Menurut Studi ITB (2023), industri ride-hailing dan pengantaran online menyumbang Rp 382,62 triliun atau 2 persen terhadap total PDB Indonesia tahun 2022. Grab berkontribusi sekitar 50 persen di industri transportasi dan pengantaran online berdasarkan data Oxford Economics tahun 2024.

“Hal ini mencerminkan besarnya dampak ekonomi yang dihasilkan oleh keseluruhan ekosistem layanan Grab,” ujar Neneng. Dalam ekosistem Grab Indonesia, profil mitra mencerminkan fungsi platform sebagai akses ekonomi yang terbuka dan inklusif. Sekitar 1 dari 2 mitra pengemudi sebelumnya merupakan korban PHK atau tidak memiliki sumber pendapatan. Lebih dari 50 persen mitra berusia di atas 36 tahun, dengan mayoritas berlatar belakang pendidikan terakhir SMA atau SMK.

“Tercatat sekitar 182.500 Mitra Pengemudi perempuan terdaftar, dengan banyak di antaranya ibu tunggal sekaligus tulang punggung keluarga. Selain itu, lebih dari 700 mitra penyandang disabilitas juga terdaftar dalam platform ini,” terang Neneng mengutip hasil studi ITB.

Data internal Grab per Desember 2025 menunjukkan total Mitra Pengemudi terdaftar mencapai 3,7 juta orang. Namun, jumlah mitra yang aktif atau menyelesaikan satu kali orderan di bulan berjalan sekitar 700-800 ribuan atau 19-22 persen dari keseluruhan. “Angka ini merupakan data bulanan dan bersifat fluktuatif. Mitra yang menyelesaikan order hari ini belum tentu menyelesaikan order di hari berikutnya, dan sebaliknya. Inilah karakter alami gig economy, partisipasi bersifat fleksibel dan mengikuti kebutuhan individu,” lanjut Neneng.

Karakteristik Fleksibilitas dan Apresiasi Umrah

Kondisi ini menegaskan bahwa terdaftar tidak identik dengan tingkat produktivitas. Status terdaftar mencerminkan akses yang terbuka, sementara partisipasi aktual menyesuaikan kebutuhan masing-masing mitra. Beberapa poin kunci mengenai partisipasi mitra Grab meliputi:

  • Lebih dari 80 persen Mitra Pengemudi Roda 2 menjadikan Grab sebagai sumber penghasilan sampingan.
  • Sekitar 67 persen Mitra Pengemudi Roda 4 menjadikan Grab sebagai sumber penghasilan sampingan.
  • Kategori mitra terbagi menjadi penghasilan utama, penghasilan rutin, penghasilan tambahan, hingga penghasilan sesekali.
  • Fleksibilitas memungkinkan mitra menyesuaikan pola kerja sesuai kebutuhan ekonomi dan preferensi masing-masing.

Neneng menjabarkan bahwa komposisi mitra menunjukkan fleksibilitas adalah fondasi utama model on-demand. “Mayoritas mitra memilih menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan, sementara hanya sebagian kecil yang menjadikan ojol sebagai nafkah utama. Tingkat produktivitas ini pun dinamis dan dapat berbeda setiap bulan,” jabarnya.

Setiap kebijakan dan apresiasi didasarkan pada tingkat produktivitas agar tetap proporsional. Selaras dengan komitmen Grab untuk Indonesia Babak 2: Memberi Makna, Grab merumuskan berbagai inisiatif penghargaan. “Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, kami ingin menghadirkan tanda kasih sebagai wujud terima kasih yang tulus kepada para Mitra Pengemudi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama,” papar Neneng.

Grab menyediakan 105 paket umrah gratis melalui program Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis. Sebanyak 5 mitra inspiratif pertama yang menerima apresiasi ini adalah:

  • Mpok Fika: Relawan juru bahasa isyarat dari Komunitas Mitra Tuli Grab.
  • Jonathan: Pemimpin komunitas di wilayah pinggiran Manado yang menjangkau daerah sulit.
  • Yusuf: Pendiri komunitas relawan pembantu keluarga prasejahtera, lansia, dan pedagang kecil.
  • Syamsudin: Mitra yang berjuang menafkahi keluarga sejak 2017 meski memiliki keterbatasan fisik.
  • Yunus: Mitra yang naik kelas dari GrabBike ke GrabCar Premium.

Grab akan memberikan 100 paket umrah lainnya kepada mitra berprestasi. Syamsudin, salah satu penerima, mengaku sangat terharu dengan kesempatan ini. “Saya jujur kaget dan tidak pernah menyangka perjalanan saya bersama Grab bisa sampai di titik ini. Saya merasa mendapatkan kesempatan yang berharga,” pungkas Syamsudin.


Pos terkait