Penurunan Nilai Tukar Rupiah dan Perkembangan Ekonomi Indonesia
Bank Indonesia mencatat bahwa nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 0,56% sepanjang bulan ini, dengan posisi terakhirnya berada di tingkat 16.880 per dolar AS hingga Rabu (18/2). Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menilai bahwa saat ini rupiah masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau dalam kondisi undervalued.
Menurut Perry, pelemahan rupiah disebabkan oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, meningkatnya permintaan valas dari korporasi domestik akibat kenaikan aktivitas ekonomi juga turut memengaruhi tekanan terhadap rupiah.
Meski demikian, Perry menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Inflasi di Indonesia masih berada dalam target yang ditetapkan yaitu antara 1,5% hingga 3,5% pada tahun 2026 dan 2027.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas stabilisasi melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri (offshore), serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.
“Ke depan, BI memandang bahwa nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh langkah stabilisasi yang konsisten serta fundamental ekonomi yang kuat,” ujar Perry dalam konferensi pers, Kamis (19/2).
Rupiah, menurut dia, juga memiliki potensi untuk menguat seiring dengan imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik, inflasi rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang semakin baik.
Kondisi Cadangan Devisa Indonesia
Di samping itu, Perry juga menyampaikan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi, yaitu sebesar 154,6 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan pembiayaan selama 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Cadangan devisa kita berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor,” kata Perry.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rupiah
Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain:
- Ketidakpastian pasar keuangan global: Situasi geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan internasional dapat memengaruhi sentimen investor dan arus modal.
- Permintaan valas dari korporasi: Peningkatan aktivitas ekonomi domestik sering kali diikuti oleh peningkatan permintaan valas.
- Stabilitas ekonomi makro: Pertumbuhan ekonomi yang sehat, inflasi yang terkendali, dan kinerja fiskal yang baik menjadi fondasi utama bagi stabilitas nilai tukar.
Langkah-langkah Bank Indonesia dalam Stabilisasi Rupiah
Bank Indonesia melakukan beberapa langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah, antara lain:
- Intervensi di pasar NDF offshore: Melalui instrumen NDF, Bank Indonesia dapat mengatur arus modal dan mengurangi volatilitas nilai tukar.
- Transaksi spot dan DNDF di pasar domestik: Dengan intervensi langsung di pasar lokal, Bank Indonesia dapat memberikan dukungan langsung terhadap rupiah.
- Koordinasi dengan pihak terkait: Kerja sama dengan lembaga keuangan dan otoritas terkait penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung stabilitas mata uang.
Prospek Rupiah di Masa Depan
Perry optimis bahwa rupiah akan stabil dan cenderung menguat di masa depan. Hal ini didukung oleh langkah-langkah stabilisasi yang konsisten serta fundamental ekonomi yang kuat. Selain itu, adanya peningkatan imbal hasil aset keuangan domestik dan prospek pertumbuhan ekonomi yang positif juga menjadi faktor pendukung.
Dengan posisi cadangan devisa yang kuat dan kebijakan moneter yang tepat, Indonesia siap menghadapi tantangan ekonomi global sambil menjaga stabilitas rupiah.





